Menu

Friday, 14 December 2018

/



Saya punya kai (kakek-Banjar), beliau ini bapaknya ibu saya, dulunya kai bekerja sebagai tentara. Sebagai anak tentara sudah pasti ibu saya menerapkan aturan yang sangat disiplin sekali, ketat dan menjengkelkan. Saya sampai tidak mengerti kenapa ibu saya menjadi seperti ibu kost yang terlalu banyak memerintahkan banyak aturan dalam sehari dan itu parahnya harus saya hapal semua, ya mana bisa jika dalam sehari banyak peraturan dan setiap hari peraturannya diganti. Misal, ‘Jangan taro handuk di atas kasur’, ‘Jangan makan berdecap’, ‘Jangan narik baju yang paling bawah kalau baju yang atas rapi’, ‘Mandi yang bersih’, ‘Jangan ini dan itu..’ dan segenap peraturan lainnya yang membuat saya jenuh tinggal dirumah. Saya merasa, ini rumah apa STPDN :D


Walaupun mengikuti disiplin yang kai ajarkan, tapi saya merasa kai tidak demikian pada saya, beliau orang yang sabar, lemah lembut, penuh senyum dan membahagiakan. Apa mungkin saya ini cucu, jadi diistimewakan dibanding anaknya?
Pernah suatu hari saya ingin minta dibelikan mainan oleh ibu saya, namun tidak dibelikan, ibu saya ingin agar saya tidak boros menggunakan uang, maksudnya sih gitu, tapi kai berfikir beda, kai yang kasihan pada saya kemudian mengajak saya balik lagi ke toko tersebut dan membelikan saya mainan yang saya inginkan, padahal saat itu harganya sangat lumayan.
Yang saya ingat, kai selalu mengajak saya ngobrol, menanyakan kabar saya dengan lemah lembut, memeluk saya, menggendong dan mengajak saya jalan-jalan. Entah kai melakukannya dengan hati atau bagaimana, walaupun saya hanya sebentar mengenalnya rasanya seperti mengenal sangat lama. Ketika saya kelas 2 SD kai meninggal dunia, saya hanya bisa melihat foto-foto jenazahnya yang dicetak setelah ibu saya balik melayat. Sungguh saya sedih, saya kehilangan sekali, namun saat itu saya tidak mampu menceritakan kesedihan saya, saya tidak mengerti cara memaknai kesedihan itu.


Kenangan masa kecil lainnya tidak saya lewati dengan istimewa, bisa dibilang saya tidak puas dengan masa kecil yang hanya sendiri, ditemani pembantu dan teman-teman dekat yang sedikit. Ya, saya berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lain sebab pekerjaan bapak, walaupun mempunyai teman yang tidak sedikit dan selalu berganti-ganti, tapi saya merasa asing, dan membuat saya kebingungan menghapal siapa saja mereka, bahkan untuk mengingat mereka saja saya pun tak mampu. Saya tidak terlalu mengingat dengan jelas tentang semua hal yang pernah terjadi di masa kecil sangking crowdednya kehidupan yang berpindah-pindah tak jelas.
Sebagai anak pertama, hal yang sering diceritakan oleh ibu saya adalah, keadaan saya yang diistimewakan, baju yang sering berganti setiap bulan, mainan, jalan-jalan dan perlindungan dari mereka. Yang saya ingat, orangtua saya menerapkan disiplin dari semenjak saya masih kecil bahkan selagi saya sepertinya belum faham kata disiplin yang membuat otak saya menjadi bingung mencerna arti kata disiplin.

ini kai saya, yang meninggal sebab penyakit jantung


Yang saya ingat, saya tidak terlalu dekat dengan orangtua, sebab mereka tidak terlalu bisa mengerti bagaimana caranya memaknai perasaan anak perempuan, mereka yang orangtua baru dan menikah muda tidak begitu memahami karakter anak sehingga saya dan mereka selalu saja misscommunication, mereka terlalu ingin menjadikan saya anak yang diinginkan mereka, sebagai contoh, ibu saya selalu cerita, sewaku masih kecil saya sering kali dipakaikan jepitan rambut agar terlihat lucu dan menarik, namun saya yang memang dari kecil berjiwa bebas tak suka memakai aksesoris, dan mereka tidak mengerti arti kebebasan itu, “Pakai ini, biar cantik”, “Nggak mau! Nggak suka aku pakai gituan” ketidaksukaan saya dianggap pembangkangan dan saya dianggap anak yang tidak menurut. Selain pakai aksesoris saya tidak suka pakai perhiasan, anting-anting yang dibelikan orangtua selalu saja hilang, entah kemana rimbanya, bahkan tidak saya hilangkan pun dia hilang sendiri wkwk.. ya, saya ini anak perempuan yang inginnya orangtua seperti yang mereka bayangkan, lemah lembut, halus, sopan, nurut, pintar, kemayu, anggun, tapi yang terjadi anak yang mereka lahirkan ini menjadi pribadi yang bebas, senang bertualang, nggak ada sopan-sopannya, pokoknya jauh dari bayangan mereka tentang impian anak yang ayu :D


Namun yang saya ingat, saya dibiarkan bebas bermain, walaupun tetap dengan aturan ketat, boleh bermain tanah asal pakai sandal, boleh main ke tetangga asal tidak minta makan, boleh main asal tidak menginap atau tidak mandi dirumah mereka, boleh ini asal tidak itu, boleh itu asal tidak anu. Karena dalam peraturan ketat pun terselip etika-etika, sebetulnya bagus sih menanamkan etika tersebut sejak saya masih kecil, hanya dampaknya saya jadi depresi :D karena terlalu kebanyakan. Saya seringnya berkhayal, seandainya kai masih hidup, mungkin beliaulah tempat curhat saya secara berkala, mungkin beliaulah satu-satunya orang yang bisa memarahi ibu saya dan membela saya atas perlakuan-perlakuan yang tidak bisa saya terima. Namun setidaknya saya bahagia, saya masih hidup berkecukupan, dapat sekolah dan mempunyai orangtua yang lengkap walaupun otoriter


Kenangan masa kecil yang biasa saja ini tidak akan saya biarkan terjadi pada anak saya, dia harus mempunyai masa kecil yang indah jangan seperti ibunya, dia harus mengenal banyak pelukan, sentuhan, ciuman, karena hanya itu yang bisa saya berikan bukan banyaknya baju, mainan, dan perabotan yang hanya membuat jiwanya bahagia tapi tidak dengan batinnya.


Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...