Menu

Thursday, 8 November 2018

/



Pagi yang cerah, hari ini saatnya ngajak mama papa mertua yang datang ke Ambon untuk liat-liat keajaiban versi warga Ambon, apa itu? belut ukuran raksasa, mereka bernama Morea. Setelah sarapan nasi kuning, dengan lauk cakalang pedas kami dijemput bang Ali, supir langganan bersuku Bugis dan pernah tinggal lama di Jepang.
Mama yang tinggal lama di Bekasi dan selalu berjibaku dengan kemacetan, polusi, sumpah serapah, angkot kucel, sampah dimana-mana terkagum-kagum dengan kebersihan kota Ambon.
“Dulu, sebelum kerusuhan, kota ini terbersih bu. Sampah itu yah.. jaranglah dilihat,” sahut bang Ali dengan logat Makassarnya yang kental.


“Indah banget Ambon, pantainya biru, nggak macet, udaranya segar, mama berasa bugar banget disini” sahut mama
“Mama betah nih, baru juga berapa hari disini” ledekku,
“Iya mama betah.. tapi kalau tinggal lama disini mama mikir-mikir juga. Sayuran mahal banget hahaha..” kami semua terpingkal.
Setelah melihat indahnya teluk Ambon dari atas Monumen Perjuangan Christina Martha Tiahahu, mobil pun melaju, melewati Jembatan Merah Putih yang belum lama diresmikan Presiden Jokowi, jembatan ini terpanjang se-Indonesia Timur. Kalau malam, jembatan ini dihiasi lampu kelap-kelip berganti warna, indah banget untuk sekedar menikmati teluk Ambon atau duduk-duduk berfoto, dari sini pula kita bisa melihat indahnya laut di teluk Ambon, warnanya biru bergradasi hijau, mama saja sampai takjub, “Pa…pa.. liat pa, indah banget pa lautnya pa” sahut mama yang langsung dibalas papa dengan penuh kekaguman pula. Daaan.. pagi ini setelah puas berkeliling di kota Ambon, kita akan menuju desa Waai, kecamatan Salahutu Ambon-Maluku.


Selamat datang ^^

Sesampainya di lokasi, bang Ali langsung mencari pawang Morea agar kami nggak kelamaan berdiri menunggu, dan penasaran bagaimana bentuk Morea itu sesungguhnya :D, setelah menunggu kurang lebih setengah jam, akhirnya muncul sesosok pawang, dia bilang bahwa pawang yang satunya lagi pergi, lalu dia yang menggantikan. Kemudian pawang tersebut turun sambil membawa beberapa butir telur dalam kantung plastiknya, saya memperhatikan dari pinggir kolam, bapak tua dengan umur kira-kira 70 tahun itu seperti berbicara pada air, tangannya menjentik-jentikkan permukaan air, lalu mengelusnya perlahan seperti gerakan memanggil namun ini di air bukan di udara. Berkali-kali dipanggil tidak ada morea yang keluar, lalu bapak tua itu pun kembali memanggil belut pada lubang yang lain dengan gerakan yang sama. Terkadang bapak tua itu berkata, “Kaluar sayang, ada yang mau lihat ni.” Ya ampun kayak bapak ngomong sama anaknya gitu :D?

ini yang keluar masih kecil :D


Saya lihat ada banyak lubang disana, kata bang Ali kalau Morea-morea itu lapar, cepat saja dia keluar. Namun ini sepertinya sudah kenyang, jadi dia malas keluar. Kemudian bapak tua itu pindah lagi, saya mengikuti, “Ii paling susah sa, seng ada yang mau kaluar!” (kenapa susah sih nggak ada yang mau keluar) sahut si bapak, tapi bapak tua itu tetap sabar menanti morea-morea keluar, tak lama ada morea yang keluar sebab panggilan tangannya, ketika morea tersebut keluar bapak tua itu langsung mengelusnya, omaygaaat, dia memperlakukan morea itu kayak anaknya sendiri, dibelai-belai beberapa kali dengan penuh cinta *bayangkan ketika kamu lagi membelai kucing, nah kayak gitu*.

belut-belut itu kemudian dikasih makan telur mentah

Mama-papa bengong melihat ada belut dengan ukuran jumbo keluar, biasanya belut normal ada pada ukuran 30 cm, tapi morea yang ada di Ambon ini ukurannya jumbo sekitar 1-3 meter. Kata Wikipedia, dari belut ini kita mengenal nama kerajaan : Animalia, Filum : Chordata, Kelas Actinopterygli, Ordo : Synbranchiformes, Upaordo : Synbranchoidei, Famili : Synbranchidae. Belut adalah sekelompok ikan yang berbentuk mirip ular, mereka termasuk dalam suku Synbranchidae. Keluarga mereka terdiri dari 4 genera dengan total 20 jenis. Jenis-jenis mereka banyak banget, bahkan banyak yang belum terdefinisikan, sehingga angka-angka diatas bisa saja berubah. Anggota mereka bersifat pantropis alias ditemukan di semua daerah tropis.


kemudian, setelah dielus-elus, bapak tua itu memberinya sebutir telur yang telah dikupas, nggak sampai semenit morea itu melahapnya dengan cepat telur mentah tersebut, ‘pluk…pluk’ pak tua itu kembali mengelusnya dan morea itu diajak bicara dengan lembut, tak lama morea itu kembali ke dalam lubang. “Dia su kanyang, mangkanya dong seng mau kaluar lama” (morea-morea itu udah kenyang, makannya di nggak mau keluar lama-lama), meskipun kecewa karena tidak bisa melihat lama, akhirnya saya bisa juga melihat morea tersebut. Oh ya, tidak ada biaya masuknya. Hanya saja kamu harus memberikan uang sukarela pada pawang morea sebagai ganti upan makan morea, seikhlasnya, boleh 25 atau 50rb. Ya kasian kalo nggak dikasih, modal telornya aja udah mahal gengs!
Tidak jauh dari kolam yang besar di sebuah sudut ada mama-mama berjejer mencuci baju dengan santainya, disana terdapat morea-morea berkeliaran, tapi ajaibnya morea-morea ini nggak ada yang keracunan :D, ya bayangkan kayak anak yang lagi sibuk main air di samping ibunya yang lagi nyuci gimana sih, ya kayak gitu.

liat ikan-ikan yang menyatu dengan mama-mama yang lagi nyuci


Sebenarnya di Ambon ini ada Morea yang lebih banyak lagi, dan pengunjung bisa puas melihat serta memegangnya, tepatnya ada di daerah Larike, namun untuk pergi ke sana kayaknya terlalu jauh untuk ajak mama dan papa yang nggak kuat pergi lama naik mobil
Btw, Morea-morea ini hidup berbaur dengan warga dan dikeramatkan nggak boleh di makan, jadi ya dia hidup gitu aja di sungai, dan sumber tempat tinggalnya pun kemudian menjadi tempat penghidupan bagi warga sekitar, seperti yang saya ceritain tadi, nggak sedikit mama-mama yang nyuci sementara si morea ini kilar-kilir nggak berdosa :D, jika ada yang memakannya, bisa jadi dia melanggar hukum adat dan siap-siap saja terkena bencana.
Kalau kamu datang ke Ambon, jangan lupa untuk sempatkan melihat belut raksasa ini ya, mereka jinak kok, :)



Desa Waai Ambon di bulan Desember 2016
11 comments

Apa rasanya ya kalau dimakan
Penasaran

Reply

Saya udah ga ada minat makan belut raksasa kaya gitu. Didesaku juga pernah ditangkap belut sediameter paha orang dewasa.

Reply

Udh sering denger ttg morea ini. Dan aku memang pgn banget bisa melihat mereka, nanti :) . Rada geli sih sbnrnya, secara mirip2 ular laut hahahaha. Tp penasaran aja.. Bisa yaaa jinak gitu. Mba, kalo nih misalnyaaaa.. Ada org yg melanggar aturan, nth nangkep si morea gitu, ada hukumannya dr warga? Ato Ada mitos tertentu ga, kalo sampe morea di tangkap dan dibunuh, ada kutukan apa gitu?

Reply

wah enak nih belutnya dikasih makan telur.

Reply

gedhe bener nih belut

Reply

Kok malah ngeri ya lihatnya huhu :")

Reply

WAhh belut ya benar benar gede banget...

Reply

ternyata ini sejenis ikan ya bukan belut...

wahh sayang sekali ga boleh di makan, kalau ga salah didaerah lain ada ygditernak dan dikonsumsi

Reply

Jadi morea itu emang belut ya Mbak? Belut tp ukurannya besar gitu? Hiii... Ngeri, aku pikir ikan apaan td gedhe banget

Reply

airnya bening banget...sayangnya buat nyuci ya, btw kearifan lokal yang melarang konsumsi Morea itu manjur banget ya buat menjaga kelestariannya. Di jawa juga masih ada yang seperti itu dan tentu saja its work...

Reply

Waah Morea... Ini kearifan lokal yang masih terjaga hingga sekarang. Salut.

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...