Menu

Wednesday, 4 October 2017

/


Waktu kepindahan kami tinggal menghitung hari, rasanya saya sedih sekali akan meninggalkan tanah raja-raja ini begitu sebutan Maluku yang sering saya dengar. Mengingat waktu yang begitu mepet rasanya ingin setiap hari jalan-jalan keliling Maluku menghabiskan waktu pada setiap jengkalnya, mengenang setiap rasa yang pernah saya titipkan disini. Tapi kan nggak mungkin ya bo hehe... *nulis beginian aja saya baper loh T_T* nah, tetangga saya sepertinya punya feeling nih saya butuh jalan-jalan dan butuh bahan tulisan tentunya wkwk.. jadi mereka pun kemudian mengajak kami untuk pergi ke sebuah tempat. Jeng..jeng!

Tersebutlah Saparua, daerah ini pernah menjadi pusat perlawanan pahlawan kita dari Timur Kapt.Pattimura dalam merebut benteng Duurstede. Saya pun kemudian googling ada apa aja potensi wisata di Saparua, ternyata banyak dan kayaknya nggak bisa dihabiskan dalam waktu sehari :D, Oh ya, Saparua ini masuk di kepulauan Maluku Tengah-Maluku. Yes, salah satu pulau-pulau kecil di Maluku yang kaya akan potensi sumber daya alamnya yang kece badaaaai.


“Bagaimana kalau kita nginep? Soalnya bawa anak kecil nih, takut dia cape” sahut teh Ambar, istri dari Mas Topan.
“Saya mah ngikut aja teh, nginep oke, nggak nginep juga oke”
Anyway, ceritanya kepergian kita ke Saparua ini dalam rangka reuni traveling, setelah sebelumnya kita (saya, mas Topan, Teh Ambar, Chandra, dan Suami) pernah rame-rame juga pergi ke Banda Naira 2011 silam. Mereka ini travelmate yang enak loh, hoby foto-foto, maniak jalan, gila ngerumpi, hobby ngopi, sehati banget dah :D *woi geer dipuji-puji dah*, Waktu ke Seram saya juga pergi bareng mereka tapi minus si teteh, karena waktu itu sudah punya bayi. Kasian deh lo teh :p
“Sebenernya bisa sih nggak pake nginep, pergi pagi, jalan seharian pulang sore. Tapi kata pak anu (sebut saja Bunga bukan nama sebenernya) khawatir ombak. Yaa.. kita bisa kok pulang nggak sore-sore amat untuk menghindari ombak”
“Ya masalahnya kita mau ke mana dulu, itinerarynya aja belum tersusun rapi, het dah” sahut saya kesal.
“Ya udah ibu blogger, yang butuh tulisan kan situ. Gih susun rencananya, kita ngikut aja” jadilah saya yang disuruh susun-susun rencana ini itu, males nggak sih.


Yukk.. siap-siap berangkat

Akhirnya disepakatilah kita pergi hari sabtu, biar minggu bisa istirahat misalnya terpaksa pergi seharian atau misalnya bakalan pulang minggu. Setelah packing peralatan tempur, baju (karena khawatir nginep), snack, obat-obatan dan peralatan lainnya, kami istirahat. Besoknya pagi-pagi sekali kami berangkat menuju pelabuhan tulehu dijemput bang Pian supir langganan kami yang jago nge-rap, tepat jam 8 kami sudah sampai di pelabuhan Tulehu dan bersiap berangkat, karena jam 8.30 kapal akan pergi. Saya sudah takut aja tuh Naqib bakalan jetleg naik kapal, eh ternyata enggak loh dia menikmati sekali ^^, loncat-loncat di kapal, dan melihat pemandangan luar dimana air biru berkejaran digulung ombak. Alhamdulillah kami sampai di Saparua satu jam kemudian. Naqib excited sekali, “Wiih bu, udah sampe ya. Kita naik kapal tadi?” ya nak, ini pengalaman baru untuk kamu.

Wiii... lautnya biru bu...

Setelah tiba di pelabuhan Haria, suami saya, mas Topan dan Chandra langsung bernegosiasi mencari supir yang akan membawa kita keliling Saparua, akhirnya dengan 600k kami bisa keliling Saparua sepuasnya, dan pakai request.
Destinasi pertama yang akan kita kunjungi adalah benteng Duurstede, sebelumnya kami memesan makan siang dulu di sekitar lokasi benteng, agar nanti selepas keliling benteng, nasi sudah matang dan bisa lanjut ke destinasi lain.

Alhamdulillah sampai di Haria


Saparua sumpah panas hari itu, tapi saya bersyukur, saya bisa dapat hasil foto yang maksimal gila keren, karena cuaca cerah kan bisa bikin hasil foto jadi oke. Tapi ya itu saya harus rela berpanas-panas difotoin.
Menjejak kaki di benteng Duurstede seolah fikiran saya melayang pada beratus tahun silam ketika Kapiten Pattimura merebut benteng ini dari Belanda, kebayang keringat, air mata dan dan darah mereka untuk bangsa ini T_T, saya melihat benteng Duurstede ini seperti tidak terawat, penuh ilalang yang seharusnya sudah dipotong tapi tidak kunjung terpotong. Jadi karena ilalang yang meninggi itulah saya tidak bisa melihat beberapa bagian dari isi benteng ini. Untuk masuk, kita dikenakan biaya retribusi seikhlasnya. Sayang banget kalau saya bilang, karena di belakang benteng ini kita bisa melihat teluk Saparua yang menawan, sungguh bersih banget airnya, pasirnya saya rasa selembut bedak bayi deh itu sangking halusnya. Ombaknya tenang, udaranya sejuk. Nilainya sempurna banget untuk ngilangin stress.

Gilaaak... rasanya pengen tinggal di pinggir pantai kalau pantainya bening kayak gini

Naqib plis deh, baju kamu tuh :D


Puas mengelilingi benteng kami mengambil makan siang yang sudah kami pesan sebelumnya, lalu perjalanan dilanjutkan menuju desa kulur, disini kami singgah di Pantai pasir putih kulur untuk makan siang, pantai ini sebenernya bukan destinasi wisata, cuma karena letaknya di pinggir jalan dan mudah untuk mobil singgah jadi kami mampir kesini. Karena kata supir yang membawa kami, di pantai ini bisa untuk senorkelingan juga diving. Tapi sayang pantai ini seperti tak terawat, karena banyak sampah. Daun-daun berserakan, ranting pohon tak jelas rimbanya, sampai saya bingung mau cari spot foto yang bersih dimana ya, ya iyalah bukan tempat wisata kok. Tapi beneran, disini airnya bersiiih, pasirnya putih, indah, sayang kotor. Dan anak-anak tetep aja anak-anak, kak Aby dan Naqib asyik main pasir dan air laut nggak perduli pasirnya banyak daun juga ranting.

Seger banget makan di tepi pantai kayak gini :D, pict by : mas Topan

Pantainya bersih sayang kurang terawat T_T

Sekali-kali foto berdua :p, abaikan yang dibelakang

Nah puas menemani Naqib dan kak Aby main pasir juga menunggu mas Topan selesai senorkeling (kata mas Topan, “Giling, ombaknya dahsyat. Tapi spot bawah lautnya keren”) kami berbenah untuk melanjutkan perjalanan kembali, kali ini kami menuju sebuah destinasi tersembunyi. Kenapa tersembunyi, soalnya hanya orang Saparua yang tau lokasi wisata ini hahaha.. tidak ada penunjuk lokasi, jadi kesini hanya berdasarkan feeling :D, kocak.


Untuk menuju tempat wisata ini  kami harus berjalan kaki kira-kira 200 meter hingga jalan tak lagi ada alias mentok, ditempat itulah lokasi wisata itu berada, penasaran? Tempat wisata ini bernama Goa 7 putri kulur, di dalam goa ini terdapat sumber mata air yang airnya pun tak bisa habis walaupun musim kemarau sekalipun, sumber mata air ini bening, walaupun dipakai nyuci airnya tetap saja bening. Ealah dasar bapak-bapak nggak bisa lihat air, nemu goa inipun mereka nyebur lagi, padahal baru juga naik dari pantai T_T.. alhasil kami emak-emak menunggu dengan rasa bosan -_-‘, okelah daripada bĂȘte mending kita ngemil di mobil.

cape deeeh... pict by : Mas Topan

Ini air di dalam goa 7 putri Kulur, bening ya? pict by : Mas Topan

Dan, karena waktu yang semakin mepet, perjalanan pun dilanjutkan kembali, travelling singkat tapi seru. Sore ini kami akan mengunjungi kediaman rumah kecil Kapt Pattimura, rumah ini terletak di Haria. Untuk menuju ke rumah ini kami melewati Pantai Waisisil, konon katanya disinilah terjadi pertempuran Pattimura dengan tentara belanda dan banyak sekali korban berjatuhan sehingga warna air lautnya berubah menjadi merah sebab darah yang tertumpah. Dan kata penduduk Saparua, setiap tanggal 15 Mei, pantai ini berubah menjadi merah darah, jalanan sepanjang pantai Waisisil ini juga ditutup. Misteri yang tak terungkap sampai sekarang, kenapa bisa demikian. Percaya nggak percaya tapi memang demikian yang terjadi, coba deh kalian googling ’15 Mei Saparua’ pasti nemu cerita ini.


pantai ini setiap tanggal 15 Mei berwarna merah darah



Tak jauh dari pantai Waisisil inilah rumah Pattimura berada, rumah sederhana yang terbuat dari kayu dimana pada bagian depan terdapat beberapa poster yang menggambarkan Kapt. Pattimura di uang pecahan Rp.1000. Rumah ini terkunci, mungkin pemiliknya sedang tertidur. Kemudian supir kami mengetuk pintu dan memanggil pemilik rumah, sementara warga sekitar ramai melihat kami dengan pandangan “Wih, ada tamu” malu ih diliatin gitu, berasa seleb wkwk.. tak lama pintu terbuka, pemiliknya menyembul dan keluarlah seekor anjing yang besar. Horor! Konon kabarnya si bapak yang bernaman Franky ini adalah keturunan Pattimura. Nah saya bingung nih, bapak ini mengaku turunan Pattimura tapi yang saya tau Pattimura nggak menikah, lalu maksudanya turunan ini gimana ya? :D oh mungkin keluarganya. Kata pemiliknya rumah peninggalan Pattimura ini hanya beberapa kali mengalami renovasi, di bagian atap yang sering terkena angin pada saat hujan, di bagian dinding juga ada. Tapi secara bentuk, rumah Pattimura tidak pernah dirombak. Tetap seperti itu dari Pattimura kecil sampai ia meninggal dan berganti kepemilikan keluarga.

kain yang di dalam kaca itu, ikat kepala yang dipakai Pattimura saat berperang dulu

Rumah Pattimura di Haria

Di dalam rumah ini, kita bisa melihat silsilah Pattimura, foto-foto orang yang pernah kesini. Ada pula parang dan selendang Pattimura yang pernah dipakainya saat berperang dulu. Oh ya, ada juga surat dari Belanda untuk Pattimura, saya nggak ngerti tulisannya apa. Secara itu sudah beratus tahun yang lalu dan tau sendiri tulisan orang-orang jaman dulu, tegak bersambung, susah dibaca.


markipul.. mari kita pulang, foto by : mas Topan, bayangin kita naik kapal ini menembus ombak

Selepas berkeliling, kami memutuskan pulang, karena hari sudah sangat sore. Sebetulnya ini adalah hal yang nekat, karena sore hari adalah waktu yang sangat fatal untuk pulang, mengingat ombak akan sangat tinggi semakin sore. Dan bener aja, belum juga 10 menit jalan, kapal sudah turun naik di atas laut, dihajar ombak. ‘bung…bung….bung…’ turun naik itu kapal kecil. Saya nggak berhenti zikir, Naqib nangis jejeritan, dan yang lainnya pasrah. Yang nggak pasrah kayaknya Aby sama mas Topan secara dia asyik teriak-teriak dan nyanyi-nyanyi *doh*, malah saya sempet banget divideoin, doi merekam muka saya yang ketakutan, asem tenan!
Yang ada dikepala saya cuma satu saat itu, kalau kapal ini tenggelem saya mati bareng-bareng anak sama suami, adil :D nggak ada yang cari-carian lagi. Mana kita nggak pakai livefest, sumpah ini menegangkan, lebih tegang daripada nonton horror atau naik pesawat yang turbulensi. Selama di laut, yang saya liat hanya lautan luas membentang, ini kalau tenggelem saya kudu pegangan sama siapa? T_T weslah pasrah sepasrah pasrahnya, Alhamdulillah 2 jam terlalui dengan lutut gemetar dan sakit perut tak tertahankan. Pulang dari Saparua kami mampir ke rumah Kepala Seksi tempat suami dan teman-temannya ngantor, lumayan ngilangin cape dan minum tah panas. Setelah itu kami pulang dan makan malam di Poka. Ini traveling yang luar biasa sebelum saya pindah. Danke Saparua!

Alhamdulillah sampai juga di Ambon T_T..


Bagaimana menuju Saparua?
Dari Ambon pergi ke pelabuhan Tulehu, sekitar 1 jam dari kota Ambon. Sewa mobil 200rb, kalau naik angkot beda lagi ya boo harganya, tentu saja lebih murah, tapi berhenti-berhentinya itu bikin males
Naik kapal cepat jam 8.30 atau siang jam 13.00, harganya :
Vip : Rp.160.000 *pakai AC dan full music, yang jelas nyaman karena nggak ada orang ngerokok. Dan duduknya diatas jadi nggak kerasa banget ombaknya*
Eko : Rp.65.000 *panas, sempit, campur ama tukang dagang, kadang nggak ada hiburan), Anyway, Dewasa dan anak sama aja ya harganya, kecuali bayi :p
Antara Tulehu dan Haria kira-kira 45 menit
Sewa mobil selama di Saparua : Rp.600.000, seharian untuk keliling Saparua dan bisa Request, pengen main kemana aja, beneran dianterin. Orang Ambon baik-baik kok, santai. Sore bisa pulang sekitar jam 4, tapi nggak ada kapal cepat ya, kalau mau naik kapal cepat bisa nunggu besok pagi, iyes.. kudu nginep kamunya. Kalau mau pulang hari itu juga bisa sewa speed dengan bayar Rp.500.000 tapi resiko dengan adanya ombak yang bikin spot jantung. Dan lama perjalanan yang masya Allah kayak nggak ada akhirnya. Buat kamu yang ciut petualangan mending nunggu besok pagi daripada mati jantungan di laut :p

Saran saya
Kalau mau ke Saparua, mending rombongan. Karena kalau sendirian kerasa banget ongkosnya. Enak rame-rame bisa patungan. Tapi beneran nggak rugi main ke Saparua, negrinya indah, damai, sejuk dan kaya akan sejarah. Selamat liburan gengs!!




14 comments

Ehh sudah bisa komen ding hehehe nampaknya internet saya yang lagi kacau ha ha ha..
Duh itu pantainya bening bangett, belum keturutan pergi ke Maluku dan sekitarnya, katanya pantai-2 nya bagus

Reply

Lihat bajumu yang pink gonjreng dengan background pantai biru putih gitu bagus juga yaa buat foto. Aku butuh baju pink juga deh buat ke pantai. Hahahah

Reply

Beruntungnya dirimu mbak punya kesempatan tinggal di sana :D
Wah rumah Pattimura masih terawat gtu ya? Keren.
Akuy penasaran soal yg pantai berubah jd merah ituuu.
Moga2 kelak bisa ke sana jg, mau liat jg peninggalan sejarah dan tentu aja pemandangan alam di sana TFS

Reply

memang indonesia itu kaya akan kebudayaan, kearifan lokal, alam yg indah

Reply

Pantainya bening. Bikin mau nyelem. Saparua keren!

Reply

Iyes, Saparua emang keren bngt :D

Reply

Sangat2 indah pantai2 di Maluku mba. Semoga someday bisa kesini ya :)

Reply

Masalahnya di Jakarta ada pantai sekeren ini nggak *eh

Reply

Iya, beruntung tinggal di Indonesia :)

Reply

Yes.. main yuk ke Ambon

Reply

Wow, cantik banget pantaaainya, ajakin akuh ya Nda :)

Reply

aku baca pas perjalanan ulangnya ikutan deg deg an mba... gitu tuh, paling sebel kalo naik boat ato apapun yg menyangkut penyebangan laut/sungai, trs para penumpang ga diksh pelampung, kalo ada apa2 aja, kelar deh hidup -__- .. mana aku jg ga bisa berenang...

tapi ngebayangin kotanya aku jg pgn banget mba kesana... blm jadi2 nih mau ke timur Indonesia

Reply

Ayo sini main ke Ambon :) nti diajak jalan2 ke Saparua

Reply

Ayo mba, kalo mau ke Timur calling aku ya.. aku juga kangen Ambon nih

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...