Menu

Thursday, 7 March 2019

/



Dari kecil Naqib sudah kami ajak merantau, tujuannya sih agar Naqib semakin mandiri. Sebenernya bisa saja kami jauh-jauhan tapi sungguh kami tak kuat, selain boros pulsa juga boros secara ekonomi karena kebutuhan dapur jadi ada dua :D, karena merantau inilah Naqib kami ajarkan untuk hidup serba dalam keterbatasan, bukan maksudnya ngajak dia hidup susah sih tapi biar dia paham saja hidup tak melulu selalu terlihat bahagia.


Karena itulah di daerah rantau kami tidak membiasakan untuk hidup bermegah-megahan, seperti misal : naik taxi, atau keseringan naik mobil, apalagi di Ambon mana ada taxi yang ada juga angkot :p hihihi. Selain itu daerah perantau yang mendapat julukan negri 1000 pulau ini mengharuskan kami menaiki kendaraan tertentu jika ingin sampai di tujuan. Nah ini kesempatan saya untuk mengenalkan secara langsung aneka macam kendaraan yang ada kepada Naqib, cukup banyak sih, beberapa diantaranya :


1.      Pesawat
Ke Ambon nggak bisa naik kereta soalnya daerahnya terpisah banget dari pulau Jawa. Jadi pesawat adalah moda transportasi yang paling bisa diandalkan, pertama kali Naqib naik pesawat umur 21 bulan, saat itu penerbangan ke Ambon belum ada yang pagi, jadi kami memilih penerbangan tengah malam, ya bayangin aja gimana rewelnya anak kecil yang ngantuk sih? “Naqib pengen bobok di kasul ibu, kasulnya mana?” tapi yang namanya anak-anak ngantuk tidur ya tidur aja di nenenin, Alhamdulillah sepanjang malam dia tidur sesekali emaknya yang tidur, efek buruknya si emak malah ngantuk seharian. Sampai di Ambon emak langsung tepar.

ini yang kesekian kalinya Naqib naik pesawat dan udah nggak kagok lagi


2.      Sepeda Motor
Karena di Ambon nggak ada yang namanya taxi dan rumah kami letaknya cukup jauh berada di dalam gang, memaksa kami untuk memilki motor. Dulu, sebelum ada motor ya jalan kaki kemana-mana, cape karena beneran jauh dari rumah ke depan jalan buat naik angkot. Alhamdulillah bapaknya dapat rezeki buat beli motor second, akhirnya kita bisa berkelana menggunakan motor kemana-mana. Motor juga bermanfaat banget saat Naqib sakit atau kita lagi pingin jalan-jalan dan kulineran mendadak. Perdana Naqib naik motor nangis jejeritan karena takut, eh lama-lama doi nagih naik motor, dulu duduk di depan takutnya setengah mati. Sekarang dia berani dan selalu minta diajak jalan dan duduk di depan.



3.      Kapal cepat
Ini pun Naqib perdana naik kapal, karena Maluku itu berada dalam wilayah kepulauan yang artinya kalau mau berkunjung ke pulau lain hanya ada transportasi kapal selain pesawat perintis tentunya, terpaksalah kami memakai kapal sebagai moda transportasinya. Waktu itu kami ingin menyebrang ke Saparua, pulau yang ingin kami jelajahi, pulau dimana Pangeran Pattimura dilahirkan. Alhamdulillah Naqib begitu menikmati perjalanan, karena tidak berasa sama sekali selama diperjalanan, waktu itu hari masih pagi jadi ombak tidak terlalu kencang, sepanjang perjalanan Naqib melihat indahnya laut biru khas Maluku.



4.      Speed
Sungguh ini pengalaman yang begitu menegangkan, setelah puas berkeliling Saparua kami memutuskan untuk menginap, namun teman suami menginginkan untuk pulang karena waktu masih terkejar. Kata orang yang tinggal di Saparua, “Su ada ombak” (sudah ada ombak) yang artinya kalau dipaksakan jalan kapal akan menghantam-hantam ombak. Dan benar saja, kurang lebih 2 jam perjalanan kami begitu menegangkan sekali, berkali-kali kapal kecil kami hampir terbalik, yang parahnya lagi semuanya tidak ada yang memakai life fest, parah banget kan, kalau misalnya kapalnya terbalik, syahidlah kami di tengah laut yang biru nan indah. Perjalanan terasa begitu panjaaaaang tak berujung. Naqib tak henti-hentinya menangis di pelukan bapaknya, sampai badan bapaknya terlihat memar dimana-mana, karena selain menangis, abahnya menahan kepalanya agar tidak terhantuk pinggiran kursi yang terbuat dari besi. Kapal cepat hanya ada pagi hari jadi kalau mau pulang ya menyewa speed, entah sudah berapa kali saya menangis karena merasa ajal begitu dekat. Sungguh, tidak hanya Naqib, saya pun takut naik speed sore hari. Ini baru perairan Maluku yang tenang, gimana kalau naik speed di Jawa, wiii…



5.      Becak
Perdana naik becak juga di Ambon, iya di Ambon itu masih banyak becak, tapi hanya ada di seputaran kota aja, soalnya kalau sudah masuk ke pelosok, jalannya turun naik. Seru sih, karena Naqib bisa lihat keadaan seluruh kota, selain menikmati angin yang sepoi-sepoi tentunya.


6.      Kereta
Moda transportasi bernama kereta saat ini sudah semakin maju, tidak seperti dulu, waktu tahun 2004 saya merasakan naik kereta itu gerah, sumpek, banyak pedagang asongan dan tempat duduknya nggak nyaman. Bersyukur pemerintah kita banyak berbenah, akhirnya kereta sekarang walaupun masih desek-desekan, masih terasa nyaman sekali untuk ditumpangi. Seenggaknya pedagang asongan sudah nggak ada lagi :D perdana Naqib naik kereta waktu ke Bogor, saya pikir dia akan takut, ternyata menikmati sekali



7.      Bus
Saya pernah naik bus berduaan aja sama Naqib, waktu ingin ketemuan sama teman di sebuah Mall di bilangan Jakarta. Waktu itu Naqib diajak. Dari dalam bus Naqib bisa melihat banyak aktifitas kendaraan yang macet, gedung-gedung tinggi, aktfitas pengamen yang hilir mudik dan banyak lainnya. Naqib sungguh senang naik bus


8.      Mobil pribadi
Nah kalau mobil kan kebetulan bapak saya punya jadi Naqib sering sekali diajak pergi naik mobil. Selain itu jaman sekarang dimana taxi sudah berupa mobil online dan menggunakan mobil pribadi, pasti tidak asing lagi untuk kita merasakan naik mobil rasa milik sendiri


9.      Angkot (angkutan kota)
Saya rasa Naqib juga perlu diajarkan naik angkot, bahwa ada mobil di jalan yang rasanya nggak nyaman bernama angkot, di dalam mobil ini tidak ada AC. Dan harus siap menerima asap rokok dari orang lain, udara tak sedap, polusi dll. Kalau di Ambon Naqib sudah sering naik angkot, angkot di Ambon bersih dan rapi tidak seperti di Bekasi yang kotor dan sangat tidak nyaman.


10.  Sepeda
Dulu waktu Naqib masih kecil, dia punya sepeda mini roda 3, hadiah ulang tahun dari bapaknya. Karena air susah, dia hanya naik sepeda di dalam rumah aja, nggak sampai keluar-luar. Karena kalau ibawa keluar sudah pasti si sepeda harus dicuci. Selain itu jalanan yang berupa perbukitan membuat saya nggak mengizinkan Naqib main di luar. Lah kalau dia ngglundung gimana T_T??


Masih banyak sih beberapa kendaraan yang belum saya ajarkan pada Naqib, seperti naik kapal laut yang besar, bajaj/bemo/bentor. Nantilah kapan-kapan ya, mumpung kami tinggal di Jakarta kan. Belum lama ini juga ada MRT, yang baru saja diresmikan, semoga nanti Naqib bisa merasakan naik MRT ^^

11 comments:

  1. Wah seru banget tuh belajar kendaraan secara langsung dan juga sekaligus jalan-jalan :D

    ReplyDelete
  2. Lucu banget adiknya apalagi yang gambar terakhir tuh. Imut pingin cubit pipinya :D

    ReplyDelete
  3. Wah aku juga mau nih kalau belajar kendaraan secara langsung kayak gitu wkwk. Kan seru :D

    ReplyDelete
  4. Hmm habis lihat foto yang di kereta jadi pingin naik kereta api lagi nih wkwk

    ReplyDelete
  5. Wah seru banget tuh bisa naik pesawat hehe. Aku masih belum pernah nih naik pesawat wkwk

    ReplyDelete
  6. Mantul mba Amanda! Nginspirasi banget ini mah, buat ngajarin calon anak nanti hehe, cari calon istri dulu ah buat bikin calon anak hehe

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...