Menu

Wednesday, 5 July 2017

/

Sebagai orangtua tentu saja kita ingin anak kita nurut dan patuh serta mau mendengarkan semuaaaa apa saja yang kita ucapkan. Namun ada saja hal-hal yang akhirnya membuat anak akhirnya melawan sama kita, entah dari ucapannya maupun perbuatanya. Orangtua saya mengajarkan banyak hal tentang ini, dan kemudian saya bisa mengambil kesimpulan apa yang menjadi didikan mereka selama ini, kenapa ada anak yang cenderung melawan orangtua, dan inilah beberapa kesimpulan itu
Baca juga : Hey bung! merantaulah biar kamu nggak lenjeh!

Anak terlalu di intervensi dan konfrontasi
Secara tidak langsung entah karena melihat anak orang lebih pintar, lebih nurut dan lebih-lebih lainnya menimbulkan rasa iri dalam diri kita sebagai orangtua, dan secara tidak sadar kita pun ingin anak kita seperti itu. Padahal setiap anak itu unik dan mempunyai keunggulan masing-masing, ia punya cara tersendiri untuk menonjolkan keahliannya, tugas orangtua hanya mengarahkan bukan meng-intervensi apalagi mengkonfrontasi hanya sebab rasa iri pada anak orang.
Misal : “Tuh si A masuk SMA negri,” ya terus kalau anaknya nggak masuk negri dunia kiamat gitu?
“Ngapain kamu masuk psikolog! Mau kerja apa?” padahal passion anak berada di sana, masalah kerja Tuhan punya rencana ya ibu-ibu, bapak-bapak.
Atau, “Kamu jangan A, B, C, ibu nggak suka. Sebab kamu harus D,E, F” terkadang anak butuh ruang tersendiri dalam hidupnya yang kita tidak boleh masuki.
Anak sudah semangat belajar saja itu anugrah, tapi tidak sedikit akhirnya orangtua yang berkata seperti ini, “Jangan malas, mama dulu nggak kayak kamu!” dan kata-kata sejenis ini mungkin bagi orangtua menyemangati, tapi bagi anak-anak terdengar sangat menyakitkan. Anak tidak senang terlau di intervensi. Jika anak terlalu di intervensi cepat atau lambat ia akan sering menyalahkan orangtuanya karena keinginannya tidak terpuaskan. Jika baik arahkan, jika buruk luruskan itu saja. Bu, Pak.. jangaaaan sampai kita lupa akan HAK anak dan hanya memuaskan HAK diri kita sendiri saja.

Anak tidak pernah didengarkan kata-katanya
Beberapa orangtua merasa dirinyalah yang paling benar, dan nasihat orangtua harus selalu wajib diikuti, akibatnya anak mau ngomong apa juga nggak pernah didengerin dan nggak pengaruh di kuping mereka, walaupun kadang pembelaan anak ada benarnya juga. Ya bayangin aja, jika seorang anak misalnya ketahuan punya salah, orangtuanya pasti udah gatel pengen ngomel dong, tapi yang jadi masalah kadang mereka enggan mendengarkan secara detail kenapa si anak ini melakukan kesalahan.
Secara anak pasti punya alasan yang ingin ia ungkapkan kenapa ia sampai melakukan kesalahan itu. Orangtuanya teruuus aja ngomong panjang lebar kali tinggi sampai si anak bosan, si anak baru saja ngomong A orangtua sampai Z, pokoknya di mata orangtua si anak tetep salah dan nggak diberi kesempatan untuk ngomong. Hal-hal kayak gini bisa menjadi bom waktu semisal anaknya dinasehatin karena nggak pernah diterima curhatannya, suatu hari dia akan melawan juga semisal dinasehatin panjang lebar, nada mereka bisa jadi lebih tinggi dari kita dalam berbicara. Ya siap-siapa aja suatu saat nanti anak akan menuntut HAKnya untuk berbicara dan ingin sekali didengarkan oleh orangtuanya. Duh, jangan sampai ya pak.. bu anak kita jadi seperti bom waktu yang meledak karena ucapannya tidak pernah didengar.
Anak tidak pernah dimarahi
Kita ini manusia biasa, bukan malaikat yang selalu bisa tersenyum sekalipun rumahnya dibakar. Sebenernya kalau kita marah bukan menebarkan kebencian pada anak, tapi untuk mendidik anak agar dia tau mana yang benar dan mana yang salah. Tapi marahlah pada tempatnya, pada saat yang tepat. Soalnya pengalaman saya, saya punya adik dia ini nggak pernah dimarahi dari kecil beda banget sama saya yang waktu kecil pernah ngerasain dikurung di kamar mandi bahkan pernah kena sabetan gesper bapak. Nah ketika besar saya seperti meriview ulang perjalanan hidup saya, kenapa dulu bapak ibu saya marah, pasti ada sebabnya. Berbeda dengan adik saya yang nggak pernah dengar bentakan dan omelan dari kecil, besarnya dia jadi anak yang ngelunjak dan keras kepala. Dia nggak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dia nggak ngerti bedanya dinasehatin dan diomelin. Bener-bener nggak bisa bedain, karena sedari kecil ibu saya terutama, ketika adik saya salah ngomelinnya nggak bikin dia kapok dan jera, nggak ada sensenya sama sekali marahnya, ya udah marah ya gitu aja sambil lalu, nggak kayak saya. Saya itu diomelin, sampai saya mikir kenapa ibu bapak saya sampai marah dan saya pasti janji dalam hati nggak bakalan ngulang kesalahan yang sama biar nggak diomelin lagi. Nah bedaaa banget sama adik saya. Mungkin karena kelamaan nggak punya anak, bapak ibu saya jadi lupa cara marahin anak.
Besarnya, ketika ibu saya nasehatin adik-adik saya, mereka dianggapnya ngomel, adik saya itu diomelin dikit sudah baper dan bΓͺte, hahah saya mah ngakak kalau dia baper sampe kabur-kaburan dari rumah. Berbeda dengan saya ketika bapak saya sudah diam dan mulai kesal saya tau itu pasti bapak saya marah, saya memilih diam daripada perang dunia ke sekian hahaha… Pokoknya kalau Bapak sudah diam, nah sudah deh saya nggak berani ngapa-ngapain. Beda dengan adik saya, kalau bapak diam..ealah malah dia yang lebih galak. Kadang saya merasa adik saya itu kurang ajar sekali.
Anak yang tidak kenal orangtuanya marah cenderung melawan, karena dirinya merasa paling benar. Kan gawat ini kalau dibiarkan terus bisa beneran kurang ajarnya daripada sopannya. Kalau saya, Naqib saya didik untuk bisa mengakui kesalahannya, minimal kalau dia salah dia tau itu salah. Misalnya, dimeja ada gelas biasanya anak saya suka iseng aduk-aduk, saya sudah bilang “Nggak boleh diaduk nanti tumpah,” tapi anak saya tetep ngotot, sampai akhirnya isi gelas itu tumpah, marah dong saya. Di hari lain kalau ada gelas lagi di meja dia nggak akan mau ngaduk-ngaduk lagi, kalaupun masih di aduk-aduk dan tumpah dia segera minta maaf, “Maap ya bu, tumpah-tumpah. Di lap-di lap” minimal kalau dia salah kita ngomel, dia belajar ngerti arti salah. Kalau anak benar kita harus apresiasi, dia akan ngerti arti penghargaan. Kalau dia belum faham, kita nasehati. Akhirnya dia akan selalu melakukan yang terbaik untuk orangtuanya. Orangtua memang harus belajar sekali tentang ini, marah-meredam marah-menasehati.

Baca juga : Gunakan cara ini untuk kendalikan anak



Orangtua gensi minta maaf        
Banyak loh orangtua yang gengsi minta maaf sama anaknya, mereka menganggap bahwa orangtua adalah kedudukan paling tinggi dalam sebuah keluarga, jadi kalau salah nggak usah minta maaf. Padahal minta maaf adalah sarana edukasi juga ke anak, ada orangtua yang suka marah karena anaknya nggak pernah mau minta maaf kalau salah, ya gimana anaknya mau nyontohin, orangtuanya aja gengsi untuk minta maaf. Orangtua yang enggan meminta maaf jika salah akan menimbulkan kekesalan pada diri anak. Jangan harap pula, jika anak salah terus orangtua menyuruh meminta maaf, anak mau mengucapan kata maaf.
Orangtua yang bertengkar didepan anak
Ini bisa jadi menjadi salah satu pemicu timbulnya anak yang suka melawan pada orangtua. Karena anak merasa, ia tidak lagi merasa nyaman berada dirumah ketika orangtuanya ribut. Teriakan, suara keras, tangisan salah satu orangtuanya membuat anak akhirnya akan condong pada orangtua yang lebih dekat padanya saja. Misalnya ibunya menangis, anak laki-laki akan cenderung menyalahkan ayahnya, kenapa laki-laki hanya bisa membuat menangis sedangkan perempuan harus selalu dilindungi. Atau anak perempuan yang lebih dekat kepada Ayah, ia pasti akan menyalahkan ibunya, kenapa Ibu hanya bisa menangis saja tanpa berbuat sesuatu. Sebaiknya memang orangtua tidak bertengkar di depan anak, karena hal ini hanya akan menimbulkan masalah baru saja bagi anak.

Anak ibarat kertas putih, kitalah yang menorehkannya. Anak seperti busur panah, ia akan melesat jauh kemana orangtuanya mengarahkannya. Menjadi orangtua memang tidak mudah, tidak ada sekolah untuk orangtua. Setidaknya dari catatan ini para orangtua bisa mengambil ibroh untuk anak-anaknya kedepan. Saya mohon Pak, Bu..penuhilah HAK anak, karena anak berhak mendapatkan HAKnya. Jangan sampai kita mengedepankan ambisi kita mengubah anak tapi kita lupa apa keinginan anak.


*Catatan diatas saya rangkum dari kehidupan sendiri dan orang lain.
44 comments

Tfs mom, saya harus banyak belajar nih mumpung masih ne mom hehe

Reply

Bertengkar di depan anak itu ga baik banget, apalagi kalau anak sering dimarahin ya mba. Kalau anak suka melawan, orang tua harus coba intropeksi diri

Reply

Aku bljr dr aku dulu mba.. Apapun yg dibilang papa, wajib diturutin.. Ala militer banget deh didikan kami dulu.. Tp saking tegasnya, aku jd anak yg paling suka ngelawan dibanding adek2ku.. Ya krn aku capek hrs nurutin mereka mulu, tnapa mereka mau dengerin yg aku mau.. Harus masuk IPA, pdhl jelas2 aku lbh kuat di IPS. Yg begitu2lah... Makanya anakku skr ga mau aku didik begitu.. Mereka berhak memilih kok.. Dgn bgitu, aku jg ngajarin demokrasi ke mereka.. Supaya pas udh gede nanti, mereka jg tau yg namanya hrs menghormati pilihan org lain... :)

Reply

Wah waktu itu nonton Mamah Dedeh bahas tema ttg anak yg ga nurut juga. Penjelasannya juga sama, anak yg terlalu dikekang dan seringkali disuruh mengalah sama adiknya yang ternyata kurang baik juga.

Reply

Huumlah mbak, nggak ada salahnya belajar dari sekarang :)

Reply

Bener banget, kita kudu sering2 instropeksi mba

Reply

Duh kok ya sama pisan ya mba, tapi memaafkan masa lalu lebih baik drpd melampiaskannya kembali pada anak :( aku juga belajar dari kesalahan orangtua mba T_T

Reply

klo aku mba mikirnya aku akan ttp marah wlw marahnya ga kek hulk siy tp marah elegan *tsaah biar anakku tau klo dy salah emaknya marah dan aku pgn didik dy biar mentalnya ga lembek jaga2 diluar selain aku n ayahnya ada yg marahin dy ga jd sensitif. dan anaknya yg suka ngelawan emang pd dasarnya ada role model plus spt yg ortu mba lakukan ke adik n aku nemuin bgt disekitarku yg pd akhirnya anaknya ndableg πŸ˜’

Reply

Iya mba, aku klo marah ya marah aja nggak ditahan2, bulshit dah semua teori klo anak dimarahin bakalan bodoh, nyatanya nggak juga sih anak saya masih pinter2 aja, malah ingatannya kuat hehe.. marah ya marah aja ya mba

Reply

bagus banget mbak tulisannya..aku baca ini sampai selesai...aduh memang ada orang tua yang suka intervensi anak, kasihan ya mbak padhal dia punya hak.kalau aku mulai anak remaja ini mulai bebaskan anakku untuk memilih sekolah/ekstra yg dia sukai sambil aku juga mengarahkan. beda sekali ma setahun sebelmnya aku tll intervensi anak sekarang udah sadar sih emang itu kurang bagus u anak-anak.

Reply

Benar banget Mbak, klo orang tua bertengkar di dpn anak itu hal yg tidak boleh, karena bisa membuat psikologis anak berubah....

Reply

Iya, sih. Seringkali penyebab anak suka melawan adalah faktor dari orang tua. Harus sering introspeksi juga orangtuanya

Reply

Duh, untung segera sadar mba, syukurlah T_T

Reply

Betul itu mba T_T

Reply

Makasih sharing pengalamannya mbak mandaaaaa, :)

Reply

sebagai orang tua masih ada yang luput poin2 di atas. semoga bisa menjadi orangtua yang lebih baik lagi

Reply

Hmm... betul sekali penyebab-penyebab di atas.
Saya setuju, hanya pada bagian marah mungkin kita sebagai orang tua perlu sedikit menahan dan menempatkan marah dengan benar ya.

Reply

Kl menurutku, marah ke tiap anak gak bisa sama loh mba. Anakku kembar dan kl yg satu dimarahin malah akan semakin dibuat ama dia. Beda dgn yg satu lg. Kl dimarahin gak bakal berbuat lg
Jd beda anak juga beda pendekatan

Reply

Mirip ortuku juga A ya harus A kaau enggak bisa di marahin dimanapun tempatnya. Akhirnya saya jadi anak yang penurut sampai detik ini. Saya jg punya adek yang jaraknya jauh banget dia gak di marahin dan gampang baperan hahahah tapi untungnya gak kurang ajar. Ternyata pengalaman pengasuhan orang tua kita bisa di jadikan pembelajaran supaya nantinya anak kita dapet haknya. TFS Mba salam kenal :)

Reply

Huum marah juga ada etikanya. Jgn asal marah hahhaa.. yg ada anak stress dimarahin mulu

Reply

Mungkin ini beda kasus ya mba, mba punya anak kembar, sedangkan aku punya jarak antar sodara, beda perlakuan saga rasa jg ga adil mba

Reply

Halo salam kenal jg.. ya seperti itulah kita yah πŸ˜„

Reply

Kalau aku dulu suka melawan karena kesal sering dibanding-bandingkan dengan kakak hehehe :D
Banyak belajar nih baca tulisannya, salam kenal mbaa :)

Reply

kok sama ya. aku juga dulu begitu semasa dalam didikan orang tua tapi aku ubah caranya kepada anak-anak, hanya sayangnya tdk kompak sama pasangan.

Reply

Berarti aku bener dunk ya.. aku ibu yg suka marahin anak wkwk

Reply

iya tu anak kepengen di jewer tilinganya kali heheheh.
trmksih infonya mbk. kalu ada waktu mmpir mbk di tempat kami heheheh

Reply

hmm... gitu ya. perlu terus belajar jadi ortu nih :)

Reply

Ya kayak kita ini, jadinya dibebasin sampe hilang arah :)

Reply

berikan pelukan... secara psikologi akan mempererat hubungan batin orang tua dan anak

Reply

Anak perlu ..dimarahi ya..mba.., marah arti sayang..cuma caranya juga meski tepat..

Reply

Loh kok kita sama hehe..

Reply

Wkwkwkwk.. marahlah pd tempatnya ya mak

Reply

Semua artikel yang tertera diatas itu kehidupan aku banget dan aku adalah anak pertama. Kemarahan dan emosi orangtua terutama ibu selalu diluapkan padaku sejak aku kecil hingga dewasa. Pasti itu sangat merasa tertekan sekali ... yah seperti itulah ... tidak bisa diungkapkan dengan kata kata. Yang pastinya aku sedih dan terkadang terlintas ada rasa benci dendam dan kecewa.

Reply

Jangan dijewer bsa budek kuping anak pak -_-"

Reply

Sama2 belajar ya mba πŸ˜…

Reply

Betul pak.. aku jg kyk gtu

Reply

Betul sekali jgn asal marah mbak

Reply

T_T, mudah2an setelah punya anak semuanya bisa termaafkan ya mba T_T

Reply

Syukurnya saya bisa berdamai dengan masa lalu, sekarang saya merubah ini semua, Alhamdulillah saya kompak sama pasangan saya :)

Reply

Sama2 bu, senang berbagi :)

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...