Wednesday, 12 June 2019

Pengalaman Pertama Menggunakan Menstrual Cup




Sebenernya saya itu sedih banget dengan dampak lingkungan akhir-akhir ini, orang makin brutal buang sampah sembarangan, ya walaupun yang disiplin juga ada tapi jumlahnya nggak berimbang dengan manusia-manusia yang brutal ini, akibatnya sampah jadi menumpuk, menggunung dan menimbulkan masalah baru yakni pencemaran lingkungan.


Sudah banyak terobosan dari banyak aktifis lingkungan, kayak Zero Waste, yaitu sebuah kampanye bebas sampah. Jadi orang-orang peduli lingkungan ini mulai mengurangi penggunaan plastik, misal beli gorengan bawa wadah sendiri, nggak beli air minum kemasan melainkan bawa botol sendiri, ga pakai sedotan sekali pakai dan lainnya. Kita emang bisa mengurangi sampah secara signifikan dengan hal-hal tersebut diatas tapi tidak dengan penggunaan pembalut, karena perempuan haid itu kan ada setiap hari, dalam sehari nggak ada perempuan yang nggak haid, jadi sampah pembalut ini memang dominan adanya. Dan ternyata, sampah dari pembalut ini susah banget diurai.

sumber : tirto



Pernah baca di sebuah artikel, sampah yang diangkut sama mobil truk itu 20%nya isinya pembalut semua, ini membuktikan emang jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki jiakaka.. nggak maksudnya, ini membuktikan perempuan itu pasti haid. Belum selesai sampai di situ, faktanya nggak semua perempuan ternyata ngerti dan faham bagaimana memperlakukan pembalut itu agar nggak semena-mena sampai di TPA. Menurut pengakuan para tukang sampah, mereka banyak menemukan sampah pembalut yang dipake langsung dibuang gitu aja berdarah darah *ih jijik nggak sih*, tapi banyak juga yang buang pembalut dalam keadaan sudah dicuci bersih dan dibungkus rapi. Kalau menurut hukum islam, membuang pembalut dalam keadaan utuh nggak dicuci itu nggak boleh, kata nenek saya bisa diikutin setan  bahkan setan suka menjilati pembalut yang masih berbentuk nggak dicuci. Pernah suatu hari teman kantor suami lembur, dia dengar ada suara berisik-berisik dari dalam kamar mandi, nggak disangka ternyata itu setan yang lagi menjilati pembalut yang dibuang utuh, dia asik aja makan sambil jilat-jilat, ih ngeri banget ini mah. Coba kalian bayangkan kalau dalam sehari ada ratusan perempuan yang haid dan mereka mengganti pembalut 4-6x sehari secara utuh tanpa dicuci, berapa banyak setan berkumpul menjilati pembalut tersebut, atau minimal sudah dicuci berapa banyak pembalut-pembalut tersebut menjadi sampah yang susah diurai, saya pernah mengulas tulisan ini di blog beberapa waktu lalu, coba baca tautan berikut.

Bismillah mulai meninggalkan pembalut

Inget waktu pertamaa kali punya bayi, saya ganti pospak dengan clodi, popok kain yang bisa dipakai berkali-kali, lumayan hemat banget dan nggak ada sampah pospak dirumah, saya pakaikan pada Naqib sampai menjelang 2 tahun dari dia umur 2 bulan. Giliran pindah ke Ambon, sudah nggak bisa lagi pakai clodi, karena di Ambon susah banget air jadi terpaksa pakai pospak. Omaygat, kebayang dong pengeluaran sebulan habis buat beli pospak doang, beda banget waktu cuma pakai clodi T_T..


Berangkat dari pemikiran ini, saya kemudian mencari cara, bagaimana  mengganti pembalut dengan produk yang lebih ramah lingkungan, ternyata ada loh, produk itu bernama Menstrual Cup, jadi haid kita ditampung di sebuah cup gitu, kalau sudah yakin penuh tinggal buang darah kita kemudian dicuci lagi dan kenakan lagi, sungguh praktis dan tidak ada drama. Soalnya saya ngeri banget dengan kandungan klorin yang ada dalam setiap pembalut, klorin itu bikin gatel, bikin iritasi, setiap haid saya merasa tersiksa banget, rasanya ngga kepingin haid aja gitu tapi gimana saya kan kodratnya perempuan haha.. dan ngerinya klorin ternyata bikin kanker, bikin serviks juga klo kita ga telaten bersihin vagina dan pakai pembalut saat haid. Apalagi malas ganti pembalut. Dan dengan menggunakan menstrual cup itu seperti dewa penolong buat saya yang mengalami semua drama diatas.
Sebenarnya sudah lama banget pengen pakai menstrual cup ini tapi karena harganya yang sangat mahal saya urung beli, pucuk dicinta ulam pun tiba, seorang teman memposting kalau dia beli mens cup lokal bernama ‘GCup’ dengan harga bersahabat, mana promo waktu itu, jadi kalau nggak salah beli 2 harganya hanya @100.000, murah banget kan, ya udah aja saya langsung beli 2, nggak pakai mikir, hemat 50 ribu hehe kalau bukan harga promo. Jadi sebenernya ini Gcup buatan luar hanya saja dikemas di Indonesia jadi harganya bisa lebih bersahabat.

@G_menstrual_cup 

Pas paketan ini datang nggak sabar rasanya kepingin pakai, padahal lagi bulan Ramadan coba, masak kepingin mens lol.. perempuan lain malah kepingin nggak haid biar puasanya full haha., langkah pertama yang saya lakukan ketika barang itu datang, langsung merebusnya agar steril dan mencobanya karena sebelum datang bulan saya selalu keputihan, ya anggap saja ini untuk menampung keputihan gitu. Dan malam pun tiba, sepulang tarawih saya berniat untuk tidur dan semangat ke kamar mandi untuk mencoba pakai Gcup ini, tapi kok.. sakit T_T, belum profesional kayaknya, ya sudahlah pemakaian Gcup dihentikan dulu, lah belum haid kok maksa make, lol


cara melekukan GCup, @G_menstrual_cup

Haid pun tiba
Ya ampun si Manda girangnya bukan main dapat haid, padahal ini 10 malam terakhir, kudunya mah sedih nggak bisa puasa lagi. “Nggak apa-apa namanya juga perempuan, haid kan nggak dosa, yang nggak puasa itu yang dosa :p” nggak tau ini bisikan dari mana :p

Hari pertama
Haid perdana keluar jam 12.30, saya langsung pakai Gcupnya dengan lekukan C-Fold, sebelumnya tangkainya saya potong sedikit, eh nggak deng nyaris habis ya atuh kan sakit ketusuk-tusuk. Haid ini belum banyak, jadi hanya darah hitam-hitam gitu yang keluar, setengahnya aja nggak ada, pokoknya sedikit banget, di hari ini saya norak dong tetap pakai pembalut, abis takut tembus wkwk, tapi karena emang excited banget saya tetap lihat di setiap mandi atau gosok gigi malam. Dan dalam keadaan mens vagina perempuan itu beda banget saat nggak mens, saat mens vagina perempuan lebih basah dan elastis jadi pakai Gcup nggak sakit bahkan nggak berasa sama sekali, nah inget waktu pertama kali coba itu pas dalam kondisi nggak haid, itu nggak enak dan nyeri.

Hari kedua
Haid juga belum banyak keluar, setengahnya juga nggak ada, masih dikit banget, jadi pakai GCup terus, dan akhirnya malas ganti sampai keesokan harinya

Hari ketiga
Jam 9 saya lagi ngetik dan duduk dengan sembrono, kemudian terdengar ‘blupup’ kayak ada suara begitu dari dalam vagina, setelah saya tekan celana, waaah tembus, nembusnya kayak setetes gitu, ya udah saya buru-buru mandi dong. Dan Innalillah, Gcup terisi setengah lebih darah, nah waktu terbanyak datang nih. Di dalam kamar mandi saya melihat dengan seksama bentuk darah, ternyata begini ya bentuk darah haid, setelah bertahun-tahun lamanya saya tahunya darah haid hanya ketika berada di pembalut, kalau di Gcup beneran bisa lihat langsung, kebetulan Gcup saya warnanya putih jadi kelihatan jelas. Nah jam 9 mandi tuh ya, sekitar jam 11.30 an kayaknya kepenuhan dan nembus lagi, eh tapi dilihat kok nggak penuh, wah kayaknya saya salah pake nih, saya buang dan saya pakai lagi dengan lekukan Cfold. Kemudian saya tidur siang, jam 4/5 sore terdengar blupup lagi, kayaknya nembus lagi, sebelum akhirnya nembus saya buru-buru mandi loh kok nggak penuh banget, duh gimana sih ini cara makenya, jadi kemrungsung sendiri, tapi saya nggak patah semangat, terus nyoba sampai bener, baca-baca lagi panduan dan petunjuk di Ig Gcup. Malam sebelum tidur saya cuci Gcup dan tidur


Hari keempat
Jam 3.30 pagi saya pipis karena menyiapkan sahur paksu, lalu kemudian membuang darah, wah udah setengah, kemudian tidur lagi. Nah sepertinya ini volume haid saya lagi banyak-banyaknya, jam 7 nembus setitik, mandi dong dan beneran banyak. Setelah kejadian hari kemarin yang nembus tapi belum penuh Gcupnya saya jadi ngerti bagaimana caranya mengatur pemakaian Gcup, untuk yang memiliki volume haid banyak, Gcup diganti setiap 3 jam sekali. Jadilah saya ke kamar mandi setiap 3 jam sekali, ya nggak masalah sih dibandng harus ganti pembalut secara periodik, bayagin aja kalau sehari ganti 5 kali pembalut, 3 hari sudah berapa sampahnya? Pokoknya nggak apa nembus yang penting jangan ada sampah diantara kita :D

Hari kelima
Nah di hari ini mens sudah tinggal sedikit, tapi tetap harus pakai Gcup, soalnya kalau nggak pakai ya tembus kaka.. di hari ini saya rasanya kepingin lepas Gcup, karena sudah nggak betah, ternyata lama-lama pakai Gcup juga nggak nyaman di vagina, kalau aktifitas gesit dikit Gcup geser-geser dan melorot akhirnya tangkainya kena di bibir vagina, ini yang bikin nyeri. Saya kemudian belajar lagi pakai type punch down – fold, loh pakai cara ini kok lebih nyaman. Setelah mempelajari aktifitas pemakaian Gcup, ternyata yang bikin melorot bukan karena aktifitas tapi karena saya pipis, saat pipis, usahakan untuk membetulkan letak Gcup lagi, karena saat pipis kita kan mengejan, ini bisa mendorong Gcup untuk sedikit keluar. Kalau sudah keluar sedikit, tangkainya bisa banget bikin bibir vagina jadi nyeri. Setelah mencoba dan belajar berkali-kali, pakai Gcup nyaman banget.

Hari keenam, Ketujuh dst pakai Gcup sebentar
Ah saya yang bego apa nggak bener makenya, ternyata kalau Gcup dimasukkan secara sempurna nggak ada drama apa-apa dan nyaman-nyaman aja di dalam vagina, sayang saya sudah selesai haid dan nggak butuh pakai Gcup lagi. Nah ini menjadi pelajaran penting buat saya dimasa yang akan datang eh maksudnya di haid bulan depan. Saya jadi nggak sabar kepingin haid lagi, lol,

cara memasukkan Gcup, ojo parno ngeliatnya


Berapa pembalut terbuang pemakaian pertama Gcup ini?
Cuma satu, itu pun karena takut tembus, tapi besok-besoknya nggak pakai lagi. Kamar mandi jadi nggak bau amis sebab darah dan pembalut.

Pakai ukuran apa?
Saya pakai ukuran L, untuk ibu yang melahirkan secara normal


Pertanyaan sensitif
Apakah nanti bisa lebar vaginanya setelah pemakaian Gcup?
Ini pertanyaan yang sama yang diajukan suami saya, nggak bakalan melebar, karena Gcup kan dari silicon. Lah ngeluarin bayi yang 3-4 kilo aja vagina balik normal kan, sempit lagi kan? Apa iya langsung segede goa, nggak kan? Apalagi pakai Gcup

Cara masangnya gimana, ngilu ngobok-ngobok vagina
Ya kalau dibayangin ya ngilu, saya lebih ngilu ngebayangin anak cucu hidup berdampingan dengan sampah yang sulit diurai.

Sakit nggak?
Ya lumayan, karena saya nggak bisa pakai Gcup pada awalnya, tapi setelah belajar terus terusan nggak sakit kok malah kayak nggak pake apa-apa :D, pernah saya bangun tidur, saya meraba-raba vagina, loh ini Gcupnya mana.. ah tidak, apa tersedot ke dalam rahim? Ternyata ya tetep disitu aja nggak kemana-mana dianya, karena saya sudah bener makenya

Kalau pipis gimana, apa perlu Gcup dilepas?
Ya enggak, pipis mah pipis aja, kecuali kepenuhan ya sekalian ganti. Tapi kalau pup tuh, misalnya feses sudah mau berontak keluar, liang vagina jadi sempit, karena dua saluran ini kan tetanggan, kadang ini bikin Gcup jadi gampang bocor, jadi kalau pup, gcup lepas sekalian ya.


Tehnik pemakaian Gcup
1.      Jongkok
2.      Coba berbagai macam tipe, lihat contohnya diatas. Kalau sudah nyaman dengan satu tipe, jangan coba-coba tipe lain, nanti kamu misuh-misuh sendiri kan akhirnya, karena vaginanya sakit wkwk
3.      Setelah Gcup masuk setengah ke dalam vagina, putar sampai terdengar bunyi ‘pluk’ itu tandanya Gcup sudah menutup sempurna. Nah setelah itu tarik, kalau ada perlawanan tandanya Gcup sudah bener makenya. Better double check sih, jadi keluarin masukin, keluarin masukin, kalau ada rasa tersedot, langsung masukin Gcup secara utuh sampai tangkainya hilang
4.      Tangkai lebih baik dipotong ya, saya dipotong sampai habis, soalnya ini bibir vagina jadi nyeri kalau nggak dipotong, tangkai dipotong jadi nggak berasa apa-apa. Bahkan lupa lagi haid :D
5.      Kalau mau keluarin Gcup, jongkok, lalu jempol sedikit dimasukan kedalam vagina dan tekan Gcup sampai bunyi ‘psssstt..’ sampai udara masuk lalu tarik pelan-pelan. Jangan sekali-kali ngeluarin Gcup tanpa tehnik khusus, yang ada kamunya kesakitan dan kapok pake Gcup lagi
6.      Harus belajar sampai bener, jangan gampang nyerah ngiahaha..
7.      Sediakan handuk khusus ya kalau buat pipis, tapi pastikan area vagina bersih dari darah haid. Biar nggak lembab dan nyaman pakai Gcup



Keluhan pemakaian Gcup vs pembalut sekali pakai
1.      Pembalut sekali pakai :
-          Berasa pakai popok, bokong berasa bahenol banget
-          Vagina terasa gatal, jika telat mengganti, darah mengering di vagina timbul ruam dan gatal-gatal nggak tertahankan, kalau digaruk bisa menimbulkan lecet sangking puasnya ngegaruk *nah kebayang kan gatalnya kayak gimana.
-     Jika tembus ke celana, akan susah dibersihkan karena darah tersebut sudah menempel lama, jadi celana direndam dulu minimal seharian, baru bisa hilang, yang kayak gini bikin celana cepet bolong karena serat kain jadi terendam terus
-          Nggak bisa duduk dengan nyaman, karena pembalut sangat mengganjal
-          Lama dikamar mandi dan drama pun muncul, karena cape meres-meres pembalut
-      Takut banget pipis, soalnya kalau lagi banyak-banyaknya, air bekas cebok bisa nempel dicelana dan ini bikin kandungan air di pembalut jadi bertambah, akibatnya bisa bikin darah mleber dan tembus. Nah bahayanya, saya suka nahan pipis dan malas minum, perut jadi sakit banget dan badan lemas pada akhirnya. Belum lagi kalau pipis vagina jadi lembab dan jadi sangat gatal.
-          Kamar mandi mendadak amis kalau saya datang bulan, padahal sudah dibersihkan loh

2.      Gcup :
-          Cukup pakai celana dalam aja
-          Jika telat mengganti, ketahuan tembus bisa langsung diganti, darah yang menempel bisa langsung dibersihkan dengan sabun
-          Bisa duduk seenaknya
-          Darah haid tinggal buang, cuci pakai sabun bayi, pakai lagi Gcupnya
-          Minum seenaknya sampai kembung, pipis juga nggak khawatir  lembab pada vagina
-          Kamar mandi jadi bersih karena nggak ada sampah pembalut mendadak berasa jadi dewa penolong buat bumi *halah

Belinya dimana?
Cek Ig : @G_menstrual_cup

Yaa tapi ini terserah temen-temen sih mau pakai apa nggak,  saya nggak bisa maksa, saya hanya bisa merekomendasikan :D, tapi yang jelas saya udah nggak mau pakai pembalut lagi, karena lebih nyaman pakai Gcup :D, gosah bawa pembalut, ribet ganti-ganti, cukup cabut-buang-pasang lagi. Cheers J selamat menyelamatkan bumi.

9 comments :

  1. Wah ternyata ada yang versi murahnya ya. Bisa nih jadi alternatif kalau mau coba menstrual cup. Kayaknya sekarang makin banyak yang pengen pindah ke menstrual cup soalnya

    ReplyDelete
  2. Semoga nanti pas mens udah datang aku berani mencobanya haha

    ReplyDelete
  3. aku masih belum berani lho mbak pakai ini. entah kenapa. mungkin pindah ke pembalut kain aja deh.

    ReplyDelete
  4. aduuhhh pengen sebenernya buat nyoba..ribet banget kalo pake pembalut. kadang males nyucinya juga. kalau ini kan kayaknya enak.

    ReplyDelete
  5. Aku udah baca dan cermati berkali2 tp masih bingung negabayangin cara pakainya mbak, itu GCupnya kalau udah penuh ketahuan atau ga? ada efek sampingnya ga? pengen coba tp takut bgt hahaa

    ReplyDelete
  6. Beberapa waktu lalu nggak sengaja nemu istilah menstrual cup, sempat kepikiran itu mekanismenya gimana. Eh artikel ini muncul di timeline. Cuma kayaknya belum ada keberanian buat menerapkannya.

    ReplyDelete
  7. Aku tau niih bentuk cup yg inii hehe quality nya ngga jelek.. Terus kalo di luar, salah satu merk yg nge-repackage duluan cup yg ini salah satu namanya itu Skinco siss. G cup ini jg mungkin ambil produk dari pabrik / manufacturer yg sama ya dgn Skinco :)

    ReplyDelete
  8. Waaa ... Kamanda pakai juga akhirnya ��
    Aku udah pakai sejak 2012. Mooncup ukuran A (besar)
    Eh, aku lebih nyaman u-fold pas pakainya, kak. Lipat sampai sebesar jari aja.

    ReplyDelete
  9. Huhuhu.. jujurrr saya masih takut mencoba :(, tapi pengin..

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)