Menu

Saturday, 1 July 2017

/

Ini sebenarnya postingan lama, saya lupa banget pengen post karena terbentur waktu terus dengan postingan lainnya yang lebih penting. Tulisan ini mewakili rasa akan perjuangan pattimura di tanah Maluku, dan sebagai pengingat agar anak-anak Maluku punya semangat yang tinggi seperti Pattimura. Walaupun ini bukan tulisan saya, saya pengen banget pajang tulisan ini di blog saya, seenggaknya tulisan ini bisa nyemangatin saya kalo down. Dan sebagai kenangan akan bumi Pattimura yang sempat saya tinggali





15 Mei 1817 - 15 Mei 2017.

200 Tahun sudah berlalu, pemimpin bangsa terus berganti, tapi sejarah hari ini seakan datang kembali dan memaksa kita untuk melakukan penghayatan lebih dalam atas peristiwa yang pernah terjadi, pantai waisisil menjadi merah adalah penggambaran luar biasa akan penyerangan heroik yang dipimpin oleh Pattimura bersama Philip Latumahina, Anthony Rhebok, Said Parentah dan Christina Martha Tiahahu, penyerangan ini berhasil membuat Belanda lari dan untuk sementara benteng Duurstede berhasil dikuasai.
banyak korban berjatuhan baik dari pejuang maupun kompeni Belanda, darah bercecer kemana-mana dan kecantikan pantai Waisisil saat itu berubah menjadi merah akibat peperangan hebat ini, tak sampai disitu peperangan ini berhasil memicu perjuangan lainnya di tempat-tempat lain, perjuangan melawan kerakusan Belanda semakin membesar di Bumi Maluku, apa yang dilakukan oleh Pattimura dan kawan-kawan telah menjadi obor yang membakar jiwa-jiwa orang Maluku untuk bersama mengangkat senjata dan menyatakan perang melawan penjajah Belanda.
2 abad sudah berlalu, peristiwa penting ini seakan dihilangkan dari mata sejarah, pelajaran-pelajaran sejarah di pendidikan formal dari jenjang SD hingga SMA seakan luput memotret hal ini sebagai salah satu peristiwa penting dalam tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kesewenang-wenangan penjajah.


Setiap tanggal 15 Mei di Maluku dilakukan peringatan hari Pattimura, dimana obor Pattimura melewati prosesi adat yang sangat sakral dari gunung saniri di Pulau Saparua hingga sampai di jantung kota Ambon, penggunaan obor dalam hari Pattimura haruslah dimaknai sebagai api semangat yang tak pernah padam untuk terus berjuang walaupun harus terbuang.
Pattimura telah mati ratusan tahun yang lalu, tapi nyala obornya akan tetap membara dalam jiwa dan raga setiap manusia Maluku yang telah hidup dan beranak pinak di bumi para raja ini, hari Pattimura bukanlah sebuah kegiatan simbolis yang tak berarti apa-apa mengenai masa depan, lebih dari itu hari Pattimura mengajarkan pada kita generasi-generasi selanjutnya bahwa perjuangan belum berakhir, bahwa api Pattimura harus selalu dinyalakan, bahwa semangat juang untuk menaklukan penjajah tidak berhenti sampai disitu.
Penjajah boleh mengangkat kaki dari bumi Indonesia, tapi pikiran penjajah mereka boleh jadi tetap tinggal dikepala-kepala kita, bisa saja beranak pinak menjadi penjajah gaya baru, yang warna kulit dan bahasanya sama dengan kita, tapi pikiran dan tindak tanduk mereka sadar atau tidak melakukan penjajahan pada saudara sendiri.
Hal inilah yang harus dilawan, harus ditentang, api Pattimura harus membakar habis mentalitas penjajahan, tak boleh hidup barang secuilpun keinginan untuk menjajah saudara sendiri, apalagi memperbudak bangsa sendiri.
Pattimura harus tetap hidup dalam ingatan anak Maluku beratus ribu tahun lagi, spirit Pattimura hendaknya terus diajarkan dalam pendidikan formal agar tercipta insan-insan Maluku yang tidak hanya narsis mencintai diri sendiri tapi juga mencintai Bumi Maluku yang tanahnya dipijak, yang airnya menghidupi.


200 Tahun Pattimura adalah bukti bagi Indonesia bahwa Maluku adalah bagian dari Indonesia yang layak dan wajib dipandang sama dengan daerah lain, bahwa bukan hanya jawa, kalimantan, sumatera atau Sulawesi yang berjuang untuk menjadi Indonesia, tapi di tempat matahari terbit ini 200 tahun yang lalu Pattimura dan kawan-kawan telah punya cita-cita besar untuk melawan penjajah, untuk merdeka dan berdaulat atas tanah sendiri, atas cengkeh, atas pala, atas laut yang menghidupi rakyatnya.
200 Tahun Pattimura adalah bukti kecintaan Maluku terhadap negara ini, yang walaupun kadang dilupakan dalam pergulatan pembangunan Nasional tapi Maluku dengan segala potensi sumberdaya manusia dan alamnya tetap kukuh untuk menjadi bagian dari Indonesia. 


Selamat memaknai 200 Tahun Pattimura,
Dari Pattimura, dari Maluku Untuk Indonesia.

Salam hormat Muhammad Yusuf.
4 comments

mbak manda produktif banget ya buku2nya udah banyak...aku juga suka figurnya pattimura

Reply

Terimakasih mBa ^^

Reply

Tulisan yang menarik neh, penuh dengan sejarah ya. Ternyata sudah 200 tahun pattimura ya.

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...