Friday, 27 September 2019

Konflik Asia-Afrika Usai, Kini Kita Bisa lIhat Sejarahnya Di Museum KAA




Pagi-pagi banget saya sudah siap-siap ingin pergi lagi menjelajahi Bandung, kali ini saya ingin pergi ke Museum KAA yang terletak di jalan Asia Afrika. Di hari Sabtu ini biasanya pengunjung museum ramai, maka dari itu saya ingin datang ke Museum pagi-pagi sekali, biar nggak ramai pengunjung sekaligus balas dendam karena di hari kamis kemarin tutup dan nggak bisa kesini. Tapi kenyataannya, yang namanya Museum ya tetap aja ramai mau datang pagi-pagi juga :D, hari ini ramai sama anak-anak sekolah yang karyawisata, dan orang- orang yang kayaknya ikutan paket tour.

Siapa sih yang nggak tau Museum KAA, karena tempat ini adalah salah satu destinasi paling diburu wisatawan selain Museum Geologi. Selain historis nama jalannya yang begitu fenomenal yakni Jalan Asia Afrika Bandung, Museum KAA dekat dengan alun-alun dan Masjid Raya Bandung, sudah pasti dengan sekali jalan wisatawan bisa banget mengunjungi banyak destinasi hanya dengan berjalan kaki. Oh ya, Museum KAA kalau tidak salah dekat dengan tulisan Pidi Baiq yang terdapat pada sebuah dinding yang tak jauh dari sana. Tapi susah banget, mau foto di depan tulisan ini, karena kawasan Asia Afrika itu ya gitu, padat dan macet. Pasti ketutupan sama mobil-mobil yang lewat. Nggak bakalan bisa dapat angle yang pas, karena rebutan sama orang-orang yang juga kepingin foto disana.


Masuk ke Museum KAA gratis
Tidak ada biaya untuk masuk ke Museum KAA, tapi kita diwajibkan untuk mengisi buku tamu, ada receptionist di sebelah kiri bagian pintu masuk, disana juga tersedia brosur kalau mau baca-baca. Gedung Merdeka yang berdiri pada tahun 1895 ini pada awalnya adalah tempat perkumpulan orang-orang Eropa, Societetit Concordia. Gaya Art Deco kemudian ditonjolkan oleh C.P. Wolff Scoemaker pada tahun 1921. Di tahun 1940 A. F. Aalbers menambahkan gaya Internasional (style), desain ini ditujukan agar lebih banyak orang yang bergabung di Societeit Concordia. 


Ketika Jepang datang, Gedung Merdeka berganti nama menjadi Dai Toa Kaikan, dan digunakan sebagai pusat kebudayaan. Kemudian Konferensi Asia Afrika akan diadakan, gedung ini mengalami perbaikan dan diubah namanya oleh Presiden Soekarno menjadi Gedung Merdeka dan diresmikan pada tanggal 24 April 1980 sebagai puncak acara Peringatan 25 Tahun Konferensi Asia-Afrika. Menginjak usianya yang ke 50 Tahun Konferensi Asia Afrika, Museum direnovasi, menuju pada satu Museum dengan berbagai ruang pameran pilar-pilar kemitraan Asia-Afrika.


Lihat dari dekat sejarah KAA
Perang dunia II berakhir pada Agustus 1945, tapi tidak juga membuat dunia menjadi damai, dalam sebuah diorama saya membaca, bahwa keinginan menyatakan kemerdekaan menggema dari semua negara jajahan, terutama Asia, semakin besar jiwa Nasionalismenya, semakin besar mereka melakukan perlawanan. Hal ini juga didorong melemahnya kaum imperialis, di tanah jajahan pada tahun-tahun sesudah berakhirnya Perang Dunia II. Situasi yang semakin memanas antara Blok Barat dan Blok Timur, serta pengembangan nuklir yang semakin menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya perang dunia selanjutnya.


Sebab dunia semakin tak jelas rimbanya, berlangsunglah konferensi Asia-Afrika ini pada tanggal 18-24 April 195. Konferensi ini diikuti oleh 29 negara. Hasil yang paling terkenal adalah Dasasila Bandung atau 1 prinsip di Bandung. Prinsip-prinsip ini kemudian menjadi pedoman bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrik dalam menggalang solidaritas serta kerja sama Internasional. Semangat konferensi ini kemudian menambah kekuatan moral bagi para pejuang kemerdekaan bangsa-bangsa. Diadakannya konferensi KAA juga ditujukan demi masa depan negara yang semakin baik.


Setiap peristiwa dijabarkan secara detail di museum ini, rmelalui benda-benda tiga dimensi dan foto-foto dokumenter peristiwa yang melatarbelakangi Konferesi Asia – Afrika. selain Konferensi KAA ada pula dokumenter tentang Pertemuan Tugu, Konferensi Kolombo, Konferensi Bogor dan dampak Konferensi Asia-Afrika bagi dunia Internasional. Oh ya, ada juga loh rekaman suara bung Karno saat pidato. Berada di sini saya seperti membuka buku IPS, dan seperti berada di dalam konferensi secar langsung.


Mari kita keliling
Sebenarnya kalau kita pergi dengan rombongan, kita bisa melihat film dokumenter seputar acara KAA, di sebuah ruangan gitu. Nah selain bisa menyaksikan film dokumenter, di Museum KAA terdapat pula perpustakaan yang mengoleksi buku-buku sejarah, politik, sosial dan budaya negara Asia-Afrika, dokumen-dokumen mengenai Konferensi Asia-Afrika, KTT Asia Frika 2005, dan banyak lagi buku-buku yang bisa dibaca dan hanya tersedia di sini. Jangan lupa juga berkunjung ke auditorium besar tempat berlangsungnya Konferensi KAA. Persis kayak yang di buku sejarah. Btw, Museum KAA salah satu Museum yang nyaman banget dikunjungi, karena ruangannya nyaman, bersih, dan dingin. Ada juga tempat beli oleh-oleh, tapi sayangnya hanya sedikit oleh-oleh yang dijual. Kalau kamu ke Bandung, jangan lupa datang dan berkunjung ke mari ya J

Museum Konferensi Asia Afrika
Jl. Asia Afrika, No.65 Braga
Kec.Sumur Bandung, Kota Bandung
Jawa Barat 40111

Post a comment

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)