Menu

Sunday, 14 April 2019

/



Karena menurut paksu Geylang ini penuh dengan manusia oriental, dia pesimis bisa dapat makanan halal di sini. Tapi saya yakin bakalan dapat makanan halal lebih banyak, karena sudah banyak survey dan banyak baca dari review orang-orang yang pernah ke mari. Jadi ya saya tenang-tenang aja nginep di sini :D.

“Bu, di sini ada makanan India nih, halal. Nanti ke sini aja sekalian beli simcard di sevel, tapi kita ke sevel aja dulu ya baru pulangnya mampir ke sini, soalnya letak sevel setelah Al-Bidayah” oke saya mah nurut aja, soalnya suami paling jago baca peta kan. Selesai mandi dan beres-beres, kami langsung keluar sore itu, menikmati wajah kota Singapura dari sudut yang berbeda. “Woooi… sudah sampe Singapur woi” norak!


Singapura kota yang lengang, saya sedikit melihat kendaraan pribadi melintas disini, dimana-mana orang berjalan kaki, tidak ada angkot, ojek,  mikrolet bahkan sumpah serapah orang yang mobilnya tersenggol karena macet. Sungguh pemandangan yang berbeda jika saya datang ke Ibukota, dimana mobil seperti lautan semut yang berkumpul di jalanan. Memang beda ya negara berkembang sama negara maju. Kalau di negara maju masyarakatnya dilarang pakai mobil dan bensin dinaikkan demi kebersihan kota juga kenyamanan berkendaraan, ya mereka nurut aja, toh untuk kepentingan bersama kan, eh kalau di negara berkembang bensin dinaikan dikit, masyarakatnya semacam antipati dan kemudian muncul hastag #TahunSekianGantiPresiden, semacam nggak terima gitu, padahal kalau negara nyaman siapa juga yang seneng ye kan? :D eaaa… bahkan menyebrang pun tetap memakai aturan, kalau lampu menyebrang belum menyala, jangan sekali-kali menyebrang kalau nggak mau ditabrak sama orang, mau nuntut? Lah yang salah kita kok, nggak disuruh nyebrang main nyebrang aja dan, jangan main-main berada di kota ini kalau nggak mau dapat denda yang sangat sadis.

gilaa sepiiii....

Saya sih bisa berkata semacam ini karena memang dimana-mana terpantau CCTV dan kalau masyarakatnya berbuat hal yang melanggar, tinggal di denda, dendanya sadis coy.. kadang disuruh bayar 300$SGD misal kalau meludah sembarangan atau makan permen karet, padahal ini kan sepele ya, yang kalau di Indonesia ini bukan hal yang harus di dendakan, bahkan harus dilanggar jikakak.. *eh map..maap jadi culture shock gini
Geylang memang daerah prostitusi *katanya* jadi jangan heran kalau ada adult shop disini, adult shop ini toko yang menjual segala rupa jenis alat bantu seks, ya jangan ditanyalah seperti apa, saya aja nggak berani masuk, kalaupun masuk juga beli apa? Wong punya suami wkwk..


halal ya :)

interior, dan bisa dipastikan hampir semua warung India begini tampilannya


Untuk menuju makanan halal yang terdekat, kami harus berjalan sejauh 200m pertama kali sampai, kami langsung disambut abang-abang Indiahe yang mahir berbahasa Melayu, “Nak makan ape?” katanya menyorongkan selembar kertas yang dilaminating dan sudah agak terkelupas di sana-sini, saya langsung melihat menu. Eh  gila ya, emang Singapura ini beneran kota yang sangat mahal sekali, sampai seporsi canai aja bisa 30 rebuan, padahal kalau di Bekasi harganya paling 10rebu wkwk…


daftar menunya

Kemudian setelah melihat-lihat menu dan teringat pesan teman, “Kalo di Singapur makan buat berdua aja udah banyak, nggak usah kalap beli makan” akhirnya saya beli makan buat berdua, pertama saya pesan teh tarik, lalu canai makan ditempat *tapi mereka bilang sih ini prata*, lalu paksu pesan nasi goreng kambing kalau nggak salah dan saya nasi briyani, semuany habis 15$SGD, ya sekitar 160ribuanlah, tapi porsi menu ini banyak dan amti-amit banget klu dihabisin kenyang, 15$ menurut saya nggak terlalu mahal lah ya

itu yang dibelakang sendirian, pengen banget eksis juga ya T_T, tapi fokus pada pratanya yang cuma selembar dengan daging


Rasa
Soal rasa, kenapa masih enak yang di Malaysia :D? yang di Singapur juga enak, tapi ya biasa aja, rasanya saya jadi kepingin bawa garem kemari walaupun ada bumbu khas yang menguatkan rasa. Eh ini serius, rasanya sama tapi kok kayaknya rempahnya beda, kayak ada yang kelebihan dan kayak ada yang kurang. Terus kalau pesen nasi-nasian gitu dikasih kerupuk, semacam kerupuk gendar tau kan? kerupuk yang terbuat dari beras itu, tapi lagi-lagi rasanya ajaib karena bercampur rempah.
Pokoknya beda banget sama Malaysia punya, mungkin karena di Singapur ini sudah tercampur antara masakan India, Cina dan Melayu, jadi rasanya agak ‘ajaib’ *emang ngaruh ya* hehe.. sedangkan di Malaysia kan lebih banyak Melayu dan Indianya, jadi rasa yang di Melayunya lebih kuat. padahal ini baru ke Singapur dong ya, lidah rasanya nggak cocok aja sama makanannya T_T

teh tarik

ini katanya briyani

Oh ya masakan India ini ada dimana-mana, apalagi di daerah Bugis, ya sallam… buanyak banget, dan bisa dipastikan rasanya sama semua, entah satu resep, entah memang mereka di training, entah memang mereka sodaraan dan buka cabang dimana-mana, tapi bisa dipastikan rasanya sama. Jadi mending kalau kamu main ke Singapura coba rasain makanan yang berbeda, biar lebih menyatu dengan kultur setempat dan tau masakan khasnya apa. Ya bosen juga kali tiap hari makan prata, mandhi, briyani, bisa-bisa pulang dari Singapur langsung bisa bahasa India deh :D

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...