Menu

Sunday, 13 November 2016

/

Saya terpekur membaca halaman ini, ( Lelaki dari Tidore - Alberthiene Endah)
Masa-masa tempaan ini juga masih saya alami ketika sekolah dulu, ketika guru lelaki saya menggampar habis teman-teman SD saya yang ketahuan merokok, sambil memaki guru saya tak lepas melemparkan tendangan kasar ke arah teman-teman saya dengan mata marah,

"Kamu pikir kamu jantan merokok!! Kamu pikir kamu hebat merokok hah! JAWAB!!!" plaaaak!
Lelaki dari Tidore hal 28
Baca juga : Melatih kecerdasan kinestetik

Tamparan keras melayang, jawab tidak jawab mereka ditampar, pipi teman saya lebam. Mereka tak melawan, mereka menunduk malu, mereka menangis entah malu dan menyadari akan perbuatannya atau malu dipermalukan didepan teman-teman sekelas. Setelahnya mereka tidak pernah dendam apalagi membelas dendam, mereka tetap santun dan patuh karena mereka tau mereka dipukul karena mereka salah.
Orang tua mereka datang esoknya, bukan menuntut balas dan melaporkan ke Komnas Perlindungan Anak yang saat itu entah sudah ada atau belum, tapi mereka datang sambil menahan malu, malu tidak bisa mendidik anak-anak mereka dengan baik. Tidak ada sumpah serapah atau saling hardik yang saya dengar dari ruang kepala sekolah. Yang ada hanya ungkapan malu dan kata-kata maaf yang keluar dari mulut orangtua mereka. Saya yakin, dirumah anak-anak itu pasti semakin 'disiksa' orangtuanya.
SMP pun demikian, saya masih melihat teman-teman saya hormat pada guru. Banyak guru yang tak segan melemparkan kapur ke arah kami dengan kasar atau memukul tangan kami dengan mistar kayu sampai membekas jika kami tak memperhatikan mereka, ada pula yang main tangan dan tak segan membentak jika kami nakal dikelas, merekalah guru-guru kami dari Medan sana, orang-orang keras berdedikasi tinggi. Apakah kami dendam? Tidak, kami justru merindukan masa-masa itu. Masa-masa tempaan yang membuat kami akhirnya bisa menantang zaman, guru-guru saya dari Jawa jangan dikira lemah lembut, nggak jauh beda galaknya dengan yang dari Sumatra sana. Pernah saya dicubit guru dan mengadukan pada ibu sepulang sekolah,
"Mami tadi aku dicubit guru, nih sampe biru"
"Kenapa dicubit? Kamu ngobrol? Ga ngerjain PR? Apa ga merhatiin?"
"Aku ngobrol, habis aku ngantuk mi"
"Siapa suruh ngobrol!" Dan merentetlah omelan ibu saya yang kejam terdengar ditelinga. Menyesal saya mengadu saat itu, sudah dicubit guru kena omel pulak.

SMA pun demikian, tak pernah saya mendengar di era saya sekolah ada kasus lapor melapor pada pihak terkait sebab pengaduan anak murid. Saya hanya melihat, teman-teman saya yang patuh pada guru dia berhasil sekarang, sedangkan mereka yang membangkang entah dimana rimbanya.
Bapak saya pernah berkata,
"Sekolah yang bener nduk, sekolah itu ga mudah, Papi dulu harus jalan berkilo-kilo meter untuk ikut ujian nasional. Berangkat subuh, dan pulang menjelang sore. Pulang masih harus membantu si mbah di sawah. Sekolah tanpa alas kaki dan baju lusuh" saya kemudian melihat bapak saya adalah orang yang pintar, sederhana dan jujur sampai saat ini menularkan kegigihan pada saya. Mendengar cerita mertua pun demikian, sama sedihnya, beliau masuk SD di usia belasan tahun karena papa tidak ingin mundur dari kemajuan zaman. Papa kecil melihat lingkungannya berada dalam keterbelakangan ilmu, ia melihat laki-laki dewasa banyak bekerja menjadi buruh kasar sebab mereka tak berpendidikan. Stereotip kampungnya, cukuplah bisa baca dan tulis yang penting tidak bodoh, papa melihatnya dengan miris. Papa tidak ingin sepeti mereka, bekerja menjadi buruh hanya menyiksa kehidupan dan generasi mereka. Di usia 11 tahun papa memutuskan sekolah. Kisah perjuangannya menempuh pendidikan tak bosan-bosannya diceritakan pada anak-anaknya sampai teraliri semangat perjuangan orangtuanya. Papa berhasil menjadikan anak-anaknya generasi yang santun, menghargai ilmu dan punya semangat hidup. Suamiku, sering menularkannya padaku. Yang jelas saya bersyukur punya pasangan hidup yang sepemikiran dalam mendidik anak. TIDAK OTORITER namun tetap memberi semangat untuk mencari ilmu.


Ya, sebab ilmu adalah barang mewah yang harus ditempuh dengan keringat dan air mata. Dengan ilmu kita bisa menjelajah dunia yang kita mau, tetapi ilmu tak serta merta bisa kita raih tanpa bantuan guru. Dan penghubung antara kita dengan ilmu haruslah patuh pada guru, dengan kesantunan pada guru ilmu bisa mengikat kita. Anak-anak pintar tidak mau mengadu pada orangtua ketika mendapat 'siksa' karena bagi mereka mengikat ilmu itu sulit, ilmu itu mahal, bukti kepatuhan pada guru merupakan keberkahan dan doa-doa guru mustajab bagi anak-anak yang patuh.
Orangtua dulu mempercayakan anak kandungnya dididik orangtua kedua di sekolah karena mereka yakin, ada ilmu alam yg tidak bisa mereka ajarkan dirumah.
Saya semakin sadar, kenapa anak-anak di pedalaman sana tetap semangat bersekolah walaupun jembatan putus rintangannya, walaupun harus berjalan berkilo-kilo meter jauhnya, walaupun harus menyebrang sungai berarus deras, karena mereka bosan hidup susah, mereka ingin mengubah nasibnya dengan memiliki ilmu itu adalah satu-satunya jalan bagi mereka membuka tabir kesusahan, apakah mungkin anak-anak kota yang tergerus kemajuan dan kemudahan akses seperti merasa tak punya tantangan untuk berjuang? Seperti tidak ada yang ingin mereka perjuangkan minimal keringat orangtua mereka walaupun orangtua mereka dalam kondisi mampu
Saya semakin yakin, rendahnya minat baca di Indonesia karena mereka tidak merasa ilmu harus dihargai dengan nilai yang tinggi, apalah artinya buku delapan puluh ribu berisi motivasi sukses berbisnis jika dibanding ilmu yang penulisnya berikan, ia harus menulis berhari-hari, memikirkan kata-kata yang menarik untuk dibaca dan dimengerti, sampai rela bergadang. Tidak sampai disana, ia harus 'saling sikut' dengan penulis lain agar mendapatkan hati penerbit. Lalu kau bilang buku harga delapan puluh ribu mahal? Seharusnya seorang penulis tidak dihargai serendah itu
Hei adik-adik, lihat ini semangat mereka bersekolah! sumber : kompas

Sejenak fikiranku terlempar jauh di era ini, era dimana anak-anak sangat manja mengadukan perbuatan gurunya pada orangtua mereka, padahal hanya mendapatkan cubitan kecil.
Dan parahnya orangtua seperti tidak lagi menganggap guru-guru mereka memberikan pelajaran seperti itu agar anak mudah dikendalikan, anak-anak tidak cukup hanya dilembutkan, sesekali mereka harus tau kata marah sebagai alat tempaan mereka di masa depan. Manja sekali, semacam anak balita yang tak boleh mendapat marah. Anak saya saja sudah bisa membedakan mana yang benar mana yang salah diusianya yang ke 3 tahun sebab saya sering marah jika salah, lembut jika memang dia benar. Tidak berpihak pada salah satunya, dilembutin terus atau dimarahi terus.
Bagi mereka ilmu sudah tidak lagi mahal, yang mahal adalah gadget, konser musik, motor, fashion, narkoba, persaingan barang antar teman, gaya hidup bebas, atau pesta berlarut-larut sampai pagi. Mereka menganggap mencari ilmu bukan lagi kewajiban tapi hanya sekedar menjadi kebutuhan seperti sandang, pangan dan papan.Mereka tergerus kemoderanan zaman, dimana semakin banyak sekolah-sekolah bertebaran dan orangtua latah hanya mencari yang terbaik karena ilmu sekedar bisa ditukar dengan uang. "Saya sudah bayar mahal, anak saya harus diperlakukan sebaik mungkin". Mereka hanya menilai uang untuk membayar sekolah, menggaji guru, ikut ekstrakulikuler, tapi tidak merasa uang mereka sebetulnya tidak cukup untuk membayar ilmu yg diberikan oleh guru bagi anak-anak mereka. Zaman membuat uang mudah dicari tapi ilmu semakin tak dihargai. Mungkin inilah Indonesia mundur beberapa langkah dalam hal pendidikan. Seharusnya gaji guru jauh lebih besar dari gaji seorang presiden, sebab siapa yang bisa menjadikan presiden kalau bukan guru? Nah!
Kakak Ipar dan mertua saya yang seorang guru pernah berkata, "Anak-anak sekarang sudah tidak punya adab terhadap gurunya, mereka asik mengobrol sementara guru lewat di depan mereka, mereka tidak menunduk dan berebut cium tangan ketika menjumpai guru dijalan. Mereka menganggap guru seperti teman mereka, yang ketika berpapasan tidak pantas ditegur atau disapa bahkan dicium tangannya. Mereka mendongakkan kepala dengan congkak ketika berbicara dengan guru" padahal di jaman dulu, anak-anak jalan menunduk sampai tulang-tulang punggung mereka menonjol jika bertemu guru, mereka saling berebut mencium tangan mencari keberkahan di dalamnya, bahkan berebut meminum bekas guru agar ilmunya tertular pada mereka. Tapi di jaman ini semua itu seperti hilang seperti asap yang membumbung tinggi. Guru-guru terhempas harganya di depan anak murid yang membicarakan gadget baru dan fashion model terkini sambil terbahak-bahak.
Tapi tunggu! Masih banyak anak-anak yang menghormati gurunya, karena ilmu alam tak akan didapat tanpa adanya  guru, ilmu tak bisa diserap tanpa kepatuhan pada guru. Dan masih banyak pula orangtua yang mempercayakan guru dapat mendidik sebaik-baiknya anak-anak mereka, mendukung guru-guru sepenuh hati dan tidak begitu memanjakan anak-anak mereka sebab perbuatan guru-guru mereka. Sebab ilmu sebetulnya tidak ternilai dengan SPP yg sudah terbayarkan..


Renungan malam hari, Ambon manise 271016
10 comments

Artikelnya bagus. Saya suka

Reply

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru...... Saya paling suka hymne guru itu. Dalam banget maknanya. Miris banget membaca berita lapor melapor antara guru dan orang tua murid, kejadian yang sepertinya dulu tidak pernah terjadi. Sedih

Reply

Mungkin dunia sudah terbalik mbak, dan ukuran "baik" dimata orang sekarang adalah uang.
Bagaimanapun ilmu kepengasuhan dari luar negeri sono memang masih diserap setengah-tengah disini. Jadi ya gitu, hasilnya setengah-setengah juga.

Reply

baca ini saya jadi bersyukur kasihan ya anak2 yang diluar jawa sana ...betapa untuk belajar saja mereka harus berjuang. berjalan sampe ratusan km. tfs ya mbak

Reply

Sama mba, saya juga sangat sedih

Reply

Pulang-pulang jadi liberal dan sekuler dah.

Reply

Terharu bacanya. Realitanya masih banyak guru yg belum sejahtera ya Mbaaa :(

Reply

Iya mba, miris liatnya. Padahal siapa yg jadikan orang hebat kalau bukan guru

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...