Menu

Wednesday, 17 August 2016

/


Kemarin saya dapat BC yang isinya ada seorang ibu yang nggak mau repot dengan ruangan yang kotor karena capek ngeberesin mainan anak, ibu ini juga nggak mau repot dengan tangisan dan rengekan anak, dia ingin bebas menjadi ibu. Oleh karena itu anaknya dikasih gadget sampai anaknya kecanduan dan sulit berinteraksi dengan benda, orang bahkan lingkungan sekitarnya, kesimpulannya kemudian ibu itu menyesal telah memberikan anaknya gadget, sebab gadget pula anaknya lamban berbicara dan tidak bisa merespon apapun benda yang ada disekitarnya, karena hari-harinya selalu bermain gadget, dunianya adalah dunia sentuh, bukan dunia gerak.

 Melihat hal ini kita aware nggak sih sebagai orangtua? Aware sih iya tapi jangan terlalu juga membatasi ruang gerak anak untuk tidak mengenal gadget, dia dilarang dirumah, dia bisa bakalan nyoba ditempat lain karena penasaran. Dirumah dilarang keras nyalain TV, ditempat lain dia bakalan nonton film karena bisa jadi temen-temennya pada cerita film A, film B, film C, sebab nggak semua orangtua sepemikiran sama kita kan dalam hal kepemilikan TV, nah karena anak kita nggak pernah nonton TV pasti nggak bakalan nyambung ngomong dengan temennya, bisa jadi dia bakalan dianggap anak yang paling kuper karena nggak tau ini-itu, untuk menutupi rasa kupernya dia bakalan nonton di tempat lain. Mau nggak sih anak kita kayak gini?
Di dunia serba modern seperti sekarang ini, membiarkan anak anti gadget nggak bakalan bisa karena sekelilingnya bakalan pegang gadget, atau membiasakan anak dengan gadget juga nggak boleh, dia bisa jadi mahluk anti sosial karena hari-harinya selalu bersentuhan dengan gadget bukan dengan mahluk hidup. Anak kita saja terkadang tidak bisa mengikuti perkembangan jaman, apalagi kita yang hidup dari jaman tidak mengenal gadget, pasti kewalahan banget mengikuti arus ini. Kita melarang anak untuk main gadget, tapi kita sendiri sebagai orangtua rasanya gatel kalau nggak ngegadget, ‘Belum balas whatsapp ibu-ibu arisan RT, belum lihat status si A, si B, belum apdet twitter dll’ adilkah kita melarang anak sedangkan kita sendiri didepannya ber haha-hihi bermain gadget. Egois sekali.. Sungguh anak-anak kita dipaksa untuk menjadi dewasa, namun kita sendiri tidak bisa dewasa di depan anak.



Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai orangtua?
Saya memiliki anak yang juga masih balita, tentunya karena saya suka memainkan gadget di depan anak lama-lama anak akan penasaran, ‘Ini benda apa sih? Kok ibuku suka banget megang dan tiba-tiba aja ngakak nggak jelas’ anak-anak yang penasaran pasti akan minta diajarkan cara menggunakan gadget, atau bahkan sebelum anak-anak minta diajarkan kebanyakan orangtua sudah duluan ngajarin mereka, karena waktu kerja memaksa kita untuk mendidik anak-anak menjadi pendiam, anteng dan ‘Jangan ganggu mama, jangan berantakin rumah!’ kasih aja gadget anak pasti diam.
Anak saya juga bermain gadget, ini hanya sekedar memberi edukasi bahwa dia sudah ada di jaman serba modern. Jangan sampai anak saya malu karena nggak ngerti gadget, atau bahkan belum pernah megang gadget. Anak yang malu pasti otomatis dia akan menyalahkan orangtuanya, saya nggak mau dia seperti ini. Dia main hanya 30 menitan setiap harinya kalau ditotal dari pagi sampai sore, selebihnya dia lebih banyak nonton kartun di TV, bermain dengan teman sebayanya atau menghambur-hamburkan mainan di ruang tamu *bayangin ruang tamu, yang kalau tiba-tiba ada tamu saya kewalahan ngerapiinnya*

Bagaimana memberi pengertian waktu kepadanya?
Anak saya nonton Youtube, tentunya saya dampingi dia menonton. Saya subscribe film-film anak dan film edukasi. Walaupun ditinggal saya tetap mengontrolnya sedang nonton apa dia. Karena saya kapok meninggalkannya, pernah suatu hari saya tinggal dia nonton *padahal di linknya semua fim kartun*, kemudian dia tertawa-tawa melihat sebuah gambar, “Ibu ada pantat gede banget” kaget! Shock saya melihatnya, ada seorang wanita nungging dengan celana dalam nyempil dan menonjolkan pantat super gedenya. Ini sebab dia nggak mau sabar nonton, pindah-pindah-pindah akhirnya sampai di link film seperti itu, bukan film porno tapi film komedi tapi gambar awalnya cewek nungging yang dia lihat tadi. Semenjak saat itu saya nggak mau lagi membiarkan Naqib nonton sendirian. Dirumah dia juga nontonnya nggak mojok sendirian, asyik sendiri yang saya nggak bisa mengontrolnya, tetep ditengah-tengah keluarga yang banyak memperhatikan dia.
Ketika mulai kecanduan dan nggak mau lepas dari gadgetnya, dalam artian nontoooon terus, saya matikan menjadi mode pesawat, “Kok mati bu?”, saya bilang aja “Internetnya habis” begitu teruuuus sampai dia males nonton, kalau dia tantrum saya pura-pura nelpon dari ponsel lain yang saya angkat di tablet tersebut, dan berkata kalau operatornya marah kalau Naqib main tablet trus. Solusi paling ampuh, saya mendownload film-film kesukaan Naqib, saya kumpulkan di Flashdisk dan saya colok di TV. Dengan begini dia nggak pernah nonton lagi di tablet, karena film-film kesukaannya semua bisa dia liat berulang-ulang di TV. Lumayan karena sering diulang-ulang perbendaharaan katanya banyak terutama bahasa inggrisnya. Dia tau huruf, angka dan warna. Padahal saya mah nggak ngajarin dia. Nah kalau film-filmnya diputar di TV, dia nggak perduli dengan gadget, meskipun gadgetnya saya taruh didekatnya sekalipun.

Adakah dampak baik gadget untuk anak?
Ada, jika kita mengarahkan dengan baik. Dan tentu saja menemaninnya bermain, bukan saat dia asyik sendiri kebetulan nih bisa ngerjain yang lain. Saya pilihkan mainan-mainan bermanfaat yang gampang dipelajari seperti mengenal warna, huruf, tajwid, bentuk dan mainan-mainan seusianya. Misalnya saat bermain mengenal warna, saya ikutan main dan ikut mengedukasi dia. Contoh, ketika system permainan berkata ‘Ini baju warna biru’ saya ikutan mengulang ‘Ini baju warna biru’ di alam terbuka ketika saya bersentuhan dengan warna biru saya akan menanyakan anak saya ‘Naqib itu warna apa?’ hanya sekedar mengetes, berhasilkan edukasi itu masuk ke dalam otaknya. Tapi yang parah sih kalau yang dipelajari bahasa inggris, pernah dia protes “Bu, kok dia bilang walna wait (white) sih? Itu kan walna putih!” gubrak, sama aja keles :D, pernah juga dia berdebat dengan temannya, temannya bilang biru dia bilang blue. Wahahaha..
Saya baru melepas anak bermain sendiri ketika permainan mencocokkan gambar, paling dia main nggak lama cuma 15-30 menit selepasnya dia bakalan bosan, makannya saya nggak begitu takut ngasih dia tablet, lah wong anaknya cepet bosan, karena ya itu tadi, saya mendidiknya hanya untuk sekedar tau itu gadget buat freak terhadap gadget. Dia lebih senang ngeberantakin rumah dengan mainan-mainannya dibanding main gadget, karena anak saya tau ibunya nggak bakalan marah mainan diberantakin asal rumah sudah di pel dan di sapu, kalau belum saya pasti ngomel Jadi syarat mutlaknya rumah sudah rapi baru boleh ngeberantakin mainan.
Saat-saat saya ngerapiin rumah dan rempong pake banget dia ngapain? Nonton kartun, lagi-lagi film edukasi *ituloh yang saya cerita diatas, kalau saya mendownload banyak film dari youtube*, kalau ditotal kayaknya ada sekitar 100 film berdurasi singkat, biarin lah kuota habis daripada dia main gadget. Nonton sekali untuk selamanya lebih baik daripada diputer berkali-kali bikin kuota bengkak. Nah, karena anak saya suka pesawat saya banyak mendownload hal-hal yang berhubungan dengan pesawat, mengenal warna ya pakai pesawat, menghitung angka juga pakai pesawat, dia bakalan seneng nonton berjam-jam sebab ini hal yang dia suka. Efeknya apa? Dia bisa menghitung 1-10 dengan jelas, bahkan dengan bahasa inggris walaupun kebolak-bolak. Efek buruknya apa? Dia belum bisa membedakan bahasa ibu dengan bahasa asing. Tapi bagusnya dia jadi belajar listening secara nggak langsung. Nontonnya dimana?  Seperti yang saya ceritakan di atas, Di TV flat. Sekarang TV-TV itu sudah mendominasi rumah-rumah dan TV tersebut ada colokan flashdishnya. Jadi saya download beberapa film dan saya tinggal colokin di TV. Aman, anak tidak bersentuhan dengan gadget dan jarak nonton jauh dari mata. Seiring permintaan konsuman, TV Flat sekarang harganya sangat terjangkau, jadi saya sih lebih milih TV Flat yang bisa dipasang ditembok dibanding beli TV tabung yang bisa dijangkau anak, trus anak nonton deket-deket kayak jaman kita dulu atau kalau temannya manggil dia lebih milih main keluar dibanding di dalam rumah.
Memberikan gadget ke anak itu seperti kita main layangan, yaitu sistem tarik ulur, berikan jika butuh, lepaskan jika sudah kecanduan. Kita boleh saja saklek kepada anak dalam hal ‘no gadget’ tapi jangan sampai nantinya anak akan menjadi trauma dan ketika dia melihat gadget kita atau dipinjamkan gadget milik orang dia menjadi sangat freak, kalau kata orang betawi mah ‘udik’ kayak nggak pernah liat yang begituan. Kita jangan kalah sama anak, juga jangan keras terhadapnya. Kalah dalam artian jika anak tantrum minta gadget daripada nangis guling-guling ya udah deh kasih aja, kalau saya sih biarin aja dia nangis itu tandanya dia dilarang dan nggak boleh berlebihan, masa bodo dengan tetangga *egois ya saya* biarin! Emang tetangga mau tanggung jawab sama masa depan anak saya, atau jangan juga ketika ada moment pas buat ngajarin tehnologi ke anak, karena kita anti gadget, kita mempertahankan prinsip kita ‘No gadget’, jangan sampe anak jadi curi-curi waktu pinjam gadget milik temannya.

Ini adalah pengalaman saya dalam mendidik anak ketika anak balita saya bersentuhan dengan gadget, yang baca boleh saja protes karena kan pendidikan anak berbeda antara yang saya terapkan dirumah dengan ibu/bapak dirumah. Jika ada yang baik boleh diikuti, jika ada yang buruk dalam tulisan ini boleh di skip tapi saya mohon, jangan pernah menggunjing tulisan saya, 




26 comments

hhmm menarikk mba..anak saya terlambat bicara dan sangatt sangatt sangat aktif, hampir terdiagnosa hyeraktif, tapi masih suspect ke dyslexia, byk yang menyinggung klo dia selalu dikasih gadget, saya sihh terima terima saja, toh gak begitu saya pedulikan. ada bedanya klo kecanduan gadget atau ada "sesuatu" pada anak.Pilihan orangtua sih mau dikasih atau engga, cm jgn nyinyir ke anak tetangga..hehehe. bagus mba aku suka.

Reply

Iya mba bener, ketahuan kalau anak kecanduan gadget atau nggak. Semangat ya mbak buat mendidik anaknya :)

Reply

Aku juga punya 2 anak kecil mbak.. Sering sebel juga klo liat telinga mereka jadi "ilang" gara2 gadget. Klo aku, tak kasih jdwal mb..gadget hanya pas libur sekolah. Bisanya bpknya mlh pura2 hapenya di taruh kntr.. Jadi ortu me minimalisir megang hp saat anak2 aktif. Klo anak2 dah tidur. .baru megang

Reply

Dirumah saya biasa aja dlm hal gadget, disembunyikan enggak dipake sering juga nggak, maksudnya biar anak nggak ngerasa itu barang yg asing dimatanya, gtu mba :)

Reply

Aku belum punya anak jadi kepikiran nanti gimana kalau udah punya anak. Pengennya sih dikasih tapi wajar sih cuma ya gatau nanti juga *labil*

Reply

anak.q umur 15bulan kalau pegang hp cuma diliatain gambarnya saja mbk. kalau dengerin musik smabil joget2. hihihi :)

Reply

Gadget ada sisi negatif sama positifnya past ya Maaaak, Yang pasti yang berlebihan itu nggak baik, jadi bagusnya kalo untuk anak memang dibatasi aja yaaa

Reply

sampai saat ini saya masih memberikan keleluasaan untuk memegang gadget pada anak saya karena merasa masih banyak manfaatnya dari pada mudharatnya Mba :)

Reply

Dulu anakku waktu umur segitu juga senengnya liat iklan tok hehe

Reply

Jangan berlebihan juga jangan pelit :) ditengah2 aja lebih enak :D

Reply

Iya mba, saya juga download hal2 yang mengandung pendidikan aja, bukan games2 yg nggak jelas. Tapi anak saya cepet bosan jdnya nggak lama mainnya

Reply

Aku sering kesal kalo liat anak kelamaan main hape. Padahl mereka main nggak nyampe setengah jam. Emang harus dijaga ya saat main handphone ya mba

Reply

Benar-benar harus punya batasan dari kitanya sebagai orang tua. Konsisten kadang yang jadi kendala buat kita menerapkan aturan. Semoga kita bisa tetap menyeimbangkan gadget dengan aktifitas fisik lainnya untuk anak2 ya... Salam kenal mba.

Reply

Miris ya mba perkembangan teknologi kadang membawa efek negatif/ positif dampaknya yg cukup fatal sebagian terjadi kpd anak2

Reply

Anak2saya juga demen liat yutub tapi saya mode offline mbak klo enggak tak download dulu, anak2 tetep boleh kenal tipi, gadget asal diawasi dan dibatasi waktunya.

Reply

Boleh juga nih ditiru. Anakku juga suka banget liat film di youtube

Reply

Aku kalau anak main Hp, cari seribu cara lagi buat antisipasi ini, pokokny nggak boleh kalah sama anak

Reply

Halo salam kenal balik mba, betul banget, jangan sampe karena kita repot ya udah aja anak kasih gadget dan semuanya langsung aman terkendali

Reply

Nah kita yang sebagai orangtua aja nggak bisa ngikutin arus perkembangan zaman, apalagi kemudian anak2 kita T_T

Reply

Huum, sama, aku mending tak download mba, colok di tv biar puas nontonnya bisa sambil main yg lain

Reply

semoga berhasil, semangat ^^

Reply

kita harus pandai-pandai mengelola segala kemudahan ini termasuk gadget..anak-anak baiknya dibatasi ya mba, walaupun memang tidak selalu mudah untuk menerapkannya

Reply

Betul banget mba, susah banget kalo mau bikin anak nggak kecanduan gadget karena ya itu tadi emak bapaknya bergadget sih T_T jd selain kontrol diri juga pilihkan hal2 yg baik untuk anak

Reply

setuju ini... aku jg ga ngelarang anakku main gadget, tp ttp kita batasin waktunya, kita btsin apa yg ditonton :).. ada waktu jg utk me time bareng anak, biasanya aku ngajakin si kaka mewarnai bareng , ato story telling :).. yg penting g sampe bikin dia kecanduan banget ama gadget ini :D

Reply

Iya mba, aku juga kubatasin, kalau udah over mainnya kubilang aja gadget perlu di cas wkwk.. biarin deh nangis guling2 daripada kalah sama anak :D

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...