Friday, 19 March 2021

Kisah 5000 Rupiah

 



Suami memang tidak pernah menuntut saya untuk selalu masak, kalau sempat ya masak, kalau nggak bisa ya jangan dipaksakan. Belakangan ketika saya dinyatakan hamil saya hanya sesekali memasak, ibu hamil kalau kelamaan berdiri kan kakinya bisa bengkak, nah saya menghindari itu. Setelah punya bayi pun demikian. Lebih baik saya catering daripada anak-anak nggak terurus. 

Plis, jangan bully saya, karena kemampuan orang dalam bekerja itu beda-beda. Mungkin ada ibu yang sanggup masak ketika memiliki bayi-anak banyak, saya tidak. Karena saya gampang sekali lelah. Nggak tau deh, apa jadinya anak-anak ketika saya seharian mengurus rumah, ngajarin anak yang daring sebab pandemi, mengurus bayi, ditambah harus memasak –eh iya, belum lagi mengerjakan deadline-deadline yang kerap hadir setiap harinya, emak blogger pasti merasakan ini-, mungkin ibu akan jadi singa dan mereka jadi santapannya :D :D :D, nggak kebayang trauma inner child mereka rusaknya kayak apa di masa depan, sebab ibu yang suka marah-marah sebab kelelahan mengurus rumah. Oke, itu sekedar opening, back to topic ya :D

Hari ini rupanya langganan catering saya nggak bisa masak, lalu saya memutuskan untuk go food saja di warung langganan. Warung langganan ini memang luar biasa ramai, memang sih rasanya enak dan pas banget di lidah. Dan benar saja, abang ojol berkata,

“Bu lagi ramai nih, sabar ya bu”

“Oke bang saya shalat dulu ya?”

Ealah pas lagi ingin shalat bayi saya rewel, ya sudah wudhu pun dibatalkan. Tak lama abang ojol datang, melihat saya berkerudung dia mengucapkan salam, lalu dengan sopan dia berkata,

“Maaf bu mengganggu shalat ya?” padahal saya tidak sedang shalat dan belum shalat, karena bayi saya rewel jadi lama kan keluarnya :D buru-buru saya memakai masker dan keluar.

“Maaf ya bu lama, antrinya panjang sekali, ini aja ada dari Grab beberapa orang dan Gojek beberapa orang” dia sopan sekali, dan permintaan maafnya tulus.

“Iya bang, nggak apa-apa bang, santai aja bang” jujur saya nggak pernah sama sekali mempermasalahkan lama atau sebentarnya abang-abang ojol ini mengantri makanan, yang terpenting makanan sampai dengan selamat dirumah saja udah syukur banget. Mungkin ada diluaran sana orang-orang yang nggak santuy menunggu makanan datang dan marah-marah ke abang ojolnya. Itu biarlah mereka seperti itu yang terpenting saya jangan, jangan sampai saya nyakitin hati si abang, bisa-bisa suatu hari Allah balas saya disakitin orang, kan ngeri. Ibu saya pernah berpesan, kalau kamu memperlakukan orang, bayangkan diri kamu diperlakukan serupa seperti yang kamu lakukan ke orang tersebut, bagaimana rasanya. Saya selalu ingat nasehat ini, bagaimana kalau saya jadi abang ojol dan saya diomelin, pasti sakit banget rasanya. Dan Karena kasihan saya pun memberi tip buat abangnya, nggak besar hanya 5000 rupiah.

“Bang, ini buat abang, kasihan abangnya sudah nungguin lama” sungguh saya nggak pernah tega dengan abang-abang gojek yang nungguin lama di resto. Melihat 5000 rupiah yang saya sodorkan, mata si abang berbinar-binar.

“Ya Allah, makasih banyak ya bu, sekali lagi makasih banyak ya bu, semoga berkah rejekinya. Ini lumayan buat tambahan saya makan bu, terimakasih sekali lagi ya bu” sebetulnya saya sudah melebihkan kembalian untuk si abang, tapi apa salahnya menambah tip untuk si abang. Toh yang saya beri tip kan bukan perusahaannya tapi pekerjanya. Kalau buat perusahaannya saya mikir lagi sih, lebih baik enggak, karena mereka sudah lebih kaya kan dari pekerjanya :D

“Iya bang sama-sama” saya langsung masuk ke dalam, si abang masih saja mengucapkan terimakasih yang hanya saya balas dengan lambaian tangan.

Seketika hati saya mencelos dan menangis, hanya lima ribu, bagi saya itu tidak besar. Tapi bagi orang yang membutuhkan itu besar sekali nilainya. Ya Allah betapa dunia ini penuh dengan ujian dan tipu daya, menipu bagi kita yang terlena, dan ujian bagi mereka yang terpilih. Berkali-kali saya berdoa, semoga abang ojol tadi diberikan kesehatan, umur panjang dan semoga dia jadi kepala keluarga yang bertanggung jawab untuk keluarganya. Sungguh saya sedih membawa lauk ratusan ribu di tangan sementara si abang menerima 5000 saja bahagianya bukan main, seharian saya memikirkan peristiwa ini dan kehidupan si abang.

 

Seketika saya langsung berfikir, jika kita ditakdirkan berkecukupan, itu tandanya kita dipercaya olehNya untuk memberikan sebagian rezeki kita pada mereka yang tak seberuntung kita. Alhamdulillah jika sampai hari ini kita tidak mengalami kesusahan-kesusahan itu, badan sehat anak sehat, keluarga sehat, masih bisa makan, bisa nafas, rumah nyaman, ya Allah itu benar-benar nikmat, benarlah apa yang dikatakan Rasul, “Jika kita menghitung karunia-karunia Allah kepada kita, kita tak akan pernah sanggup” sangking banyaknya, coba deh kalian menghitung dalam sehari aja dari pagi hingga pagi lagi bisa nggak menghitung rejeki Allah dalam setiap detiknya, pasti nggak akan sanggup. Maka, jangan pernah berhenti mengucap Alhamdulillah, setiap kita teringat karunia yang pernah Allah kasih. Lalu teringat lagi, apa jadinya jika Allah mencabut semua kepercayaan itu? Apa jadi nya kita tidak bisa merasakan kenikmatan yang pernah Allah kasih, T_T

Bersyukurlah hari ini, apapun kondisimu, percayalah itu adalah sebuah anugrah yang nikmatnya tak dapat kita beli.

Bersyukurlah dengan kondisimu, sesulit apapun kamu, lihat dibalik kesulitan-kesulitan kamu, apa yang kamu dapat hari itu, niscaya kita tidak akan pernah sedih jika ditimpa kesulitan-kesulitan.

 

Saya simpan kisah ini sebagai pengingat diri, jika sewaktu-waktu saya pelit sama orang

Post a comment

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)