Menu

Tuesday, 10 May 2016

/

Dua minggu yang lalu saya pulang kampung meninggalkan tanah Maluku menuju Jakarta. Dari ketinggian 10.000 kaki saya melihat keindahan tanah raja-raja ini begitu mempesona, hijau, biru dan bening sekali lautnya. Pesawat pun melesat..seeeet, melewati perairan Sulawesi, masih sama juga biru lautnya dan begitu hijau pulaunya. Tiga setengah jam saya mengangkasa, dan kemudian tibalah waktunya untuk mendarat, saya lihat dari atas ketinggian, kota Jakarta dengan segala kepadatan yang masya Allah, saya lihat pembangunan dimana-mana. Saya curiga ini, 30 tahun lagi kalau Jakarta terus mengadakan pembangunan, bisa-bisa begitu kita buka pintu rumah itu sudah masuk rumah orang sangking padatnya.

Pesawat pun mendarat mulus di Halim, saya disambut Bapak dan adik lelaki saya. Setelah mengambil barang-barang, mobil kemudian meluncur pulang kerumah saya di Bekasi.
Baruuuu bayar bea parkir, macet sudah menyapa saya, seolah berkata, “Hai, selamat datang di Jakarta dan nikmati sampai muntah kemacetan ibukota” sejenak saya membandingan, betapa enaknya tinggal di Ambon, saya tak pernah menemui macet yang parah sepeti Ibukota, macet sih ada tapi nggak sampai 5 menit sudah lancar lagi. Bahkan Makassar salah satu kota besar juga di Indonesia, macetnya nggak separah ini.
Melihat padatnya penduduk Jakarta, saya sempat berfikir, apa yang mereka cari di Ibukota ini? Kok ada orang-orang yang rela menghabiskan sebagian waktunya untuk rela bermacet-macet ria di jalanan. Itu ya, semisal kamu bikin skripsi, mungkin pergi dari rumah sampai kampus jadi BAB I, pulang lagi jadi BAB II, seminggu kamu tinggal di Jakarta selesai itu skripsi :D Beneran saya nggak habis fikir.
Saya ini lahir di Bekasi, bapak saya membeli rumah di kawasan bebas banjir, 28 tahun kemudian rumah kawasan bebas banjir itu mulai di sapa genangan air. Nah itu artinya, pembangunan mulai merampas kawasan kami. Sampai kawasan yang anti banjir pun sekarang digenangi air. Padahal Bekasi ini daerah dari planet luar Jakarta (ini kata orang-orang tentang Bekasi) tapi orang-orang yang nggak kebagian tinggal di Jakarta kemudian pada pindah ke sini, “Hai, selamat datang di planet kami ^^”, tidak hanya itu, kawasan Bogor, Tangerang, Cikarang pun sekarang mulai dijamah orang-orang yang bekerja di Jakarta. Apa sebenarnya daya tarik Jakarta sehingga orang-orang begitu excited untuk pindah dan menetap di sini?
Setelah kelas 2 SD saya pindah ke Samarinda, ikut bapak dinas. Setahun kemudian saya pindah ke Balikpapan ini tanah kelahiran Ibu saya, nyaris 9 tahun saya tinggal disini Dan kemudian saya kembali lagi ke tanah kelahiran saya di Bekasi, kuliah dan menikah. Lalu hijrah ke Ambon. Selama nyaris 10 tahun saya tinggal di Kalimantan, saya begitu puas merasakan paru-paru saya bersih menghirup udara segar, kecuali ketika ada kebakaran hutan yang sering melanda hutan Kalimantan, tapi ini nggak lama paling seminggu. Selebihnya saya bebas merasakan karunia Allah yang luar biasa ini.
Ketika saya SMA, untuk berangkat sekolah saya selalu melewati kawasan hutan kota dimana beruk-beruk suka nangkring di pinggir jalan, rumah saya saat itu di Belakang Kantor Imigrasi Jl.Jend Sudirman, dan sekolah saya di kawasan perumahan pertamina daerah Parikesit (orang Balikpapan pasti faham, betapa jauhnya saya menempuh perjalanan menuju sekolah), entah ya berapa kilo, tapi menurut saya ini jauh memang. Tapi karena kondisi jalan yang tidak macet, saya bisa pergi dari rumah jam 6.40 sampai sekolah 10-15 menit kemudian (ini jalan bebas hambatan loh ya) dan saya merasakan betapa damainya saya menempuh perjalanan menuju sekolah, segar, tanpa polusi, dan sangking sejuknya saya sampai ngantuk-ngantuk berada di dalam angkot. Ah saya rindu saat-saat itu J
Kelas 3 SMA saya pindah ke Bekasi, perbedaan mencolok saya rasakan. Untuk jarak sekolah yang sama seperti di Balikpapan saya harus bangun pagi-pagi sekali, berangkat pagi-pagi agar nggak kena macet, sungguh adaptasi yang sangat berat dan sepanjang perjalanan menuju sekolah saya harus terkena asap polusi kendaraan bermotor, mendengar sumpah serapah orang, dan muka-muka penuh ketegangan. Tampilan kece pun berubah menjadi tampilan kucel. Selama bertahun-tahun saya menikmati polusi dan kemacetan penuh sukacita (baca : sangat merana), dan saya sangat tertekan sekali menghadapi tahun-tahun sulit ini.
Tahun 2010, saya menikah dan kemudian saya hijrah ke Ambon mengikuti suami. Seketika saya menemukan dunia indah saya yang hilang. Di Ambon, memang hidup kami ‘susah’ bukan..bukan dalam hal finansial, pernah kita mengalami mati listrik 8 jam sehari, air tidak nyala seminggu. Mungkin bagi sebagian orang, hanya orang bodoh yang senang menikmati kesusahan ini, tapi bagi saya tidak. Saya menikmatinya, saya bersukur bisa tinggal di daerah yang tertinggal seperti ini, saya seperti keluar dari zona nyaman dan kesusahan-kesusahan ini begitu mendewasakan saya. Memang tidak ada mie ramen atau mpek-mpek Gabby, sushi tei dan banyak fasilitas yang saya rasakan kurang. Indonesia Timur ini saya akui masih jauh tertinggal. Entah kenapa saya seperti merasa menjadi saksi pembangunan untuk setiap jengkal kota Ambon, dari Ambon yang tidak punya Mall sekarang sudah ada 2 buah, dari bioskop 21 merangkak menuju XXI, hotel-hotel mulai banyak seiring banyaknya orang tahu pariwisata di sini sangat bikin ngeces. Asal kalian tahu Pizza Hut mulai masuk sini tahun 2015 kemaren (jangan ketawa!), nah jadi bisa dibayangkan betapa jauh tertinggalnya Ambon ini dibanding Jakarta. Padahal kalau mau dibilang, Indonesia ini sama, sama-sama lahir dari ibu pertiwi tapi kenapa ‘didikan’ tidak sama? Saya jadi mikir ya, ‘Ibu’nya kawasan Indonesia timur ini jangan-jangan ibu tiri :D, lalu apakah saya merana dengan kesusahan-kesusahan saya terhadap fasilitas? Sungguh saya tidak menemukan itu disini.
Karena sudah lama tinggal di Ambon, tawaran untuk pindah pun berdatangan, dan saya bilang ke suami, “Kalau mau pindah jangan ke Jakarta. Minta pindah ke daerah lain” sueeer, saya nggak sanggup kalau tinggal di Jakarta atau Bekasi lagi. Cukuplah ke Bekasi hanya untuk menengok orangtua setahun sekali yaitu saat momen ramadhan sampai lebaran, tapi untuk tinggal di sini saya nyerah. Saya nggak mau menghabiskan waktu berharga saya duduk diam tanpa melakukan apa-apa di jalanan. Saya juga nggak rela mengotori paru-paru yang sudah Allah beri dengan begitu sempurna ini terpapar asap kendaraan bermotor. Tapi kalau Allah berkehendak lain kita harus pindah ke Ibukota ya sudahlah, saya pasrah T_T. Dan saya salut dengan orang-orang yang begitu menikmati semua ini tanpa dumelan dan omelan setiap hari, sungguh saya salut dengan kalian yang begitu sabar menghadapi kemacetan dan polusi ibukota. 
Dan Jakarta adalah satu-satunya daerah bermaghnet yang dengan begitu mudahnya menarik orang untuk tinggal. Bahkan banyak pendatang-pendatang yang kemudian mendirikan bangunan di tanah pemerintah, yang ketika digusur mereka marah, padahal mereka mendirikan rumah tanpa perizinan, aduh ini bagaimana ka? Coba lihat angka pertambahan penduduk setiap KMnya, pada tabel yang saya ambil dari BPS ini (ngomong-ngomong saya belum dapat data tahun 2015), per KMnya, 

Sumber : BPS
Jakarta dihuni 15rb Jiwa, coba bandingkan dengan Maluku yang hanya 53 jiwa. Nggak usah jauh-jauh deh, masih banyak daerah lain yang bisa dihuni dengan nyaman kok, coba lihat saja angka dari tabel ini. Lalu saya kembali bertanya, apa yang membuat orang-orang ini merasa nyaman tinggal di Jakarta yang sangaaaaat sangat padat dan penuh sesak ini? Apakah karena over fasilitas sehingga banyak orang yang rela mengorbankan hidupnya demi kenyamanan tersebut? Atau bagi pekerja kantoran apakah karena Ibukota menjanjikan kemudahan berkoordinasi dengan orang pusat?
Orangtua saya ketika saya tanya, “Betahkah tinggal di Bekasi?”, mereka menjawab “Kalau bisa tinggal di daerah ya kita milih tinggal di sana daripada di sini”.
Stereotip ini juga dianut para pedagang makanan, mereka pikir kalau berjualan di Ibukota itu bakalan laku karena penduduk yang padat apa? Akibat strereotip ini setiap lima langkah tukang jajanan penuuuuuuh di sepanjang jalan. mereka bersaing berebut konsumen, bisa jadi hal inilah yang kemudian memunculkan pedagang-pedagang curang. Dagangan mereka masih tersisa, lalu  makanan sisa tersebut bisa saja diawetkan atau dipanaskan ulang. Coba deh pedagang-pedagang ini mau datang ke daerah-daerah yang minim jajanan, saya yakin mereka sukses dan tajir mlintir.
Kalian tau, tukang sayur keliling di Ambon setengah hari dagangannya habis tak bersisa, bahkan mereka suka-suka sendiri kalau jualan. "Mas hari ini nggak jualan?"
"Libur lah mbak hari minggu juga" ya ampun saya pingsan dengernya, bahkan tukang sayur langganan saya ini cuti 3 bulan mudik, kalau dipikir-pikir tukang sayur di Jakarta sampai lebaran saja masih jualan demi mendapatkan uang tambahan, dan baru kali ini saya bertemu dengan pedagang  yang nyantai banget jualannya. Oh ya, ada lagi pedagang bubur ayam Bandung, karena disini nggak ada bubur ayam asli Bandung, makanan ini selalu diserbu  para perantau juga penduduk lokal dan tau nggak jam 9 pagi bubur ayam ini ludes terjual. Tidak hanya itu, di Mall, rumah makan bisa dihitung dengan jari, contohnya saja di Mall MCM (Maluku City Mall) makanan yang tersedia hanya, KFC, Rice Bowll, Solaria, dan bakso, kalau jam makan siang yang makan masya Allah sampai antri-antri. Apakah pemilik resto tidak berniat buka Resto cepat saji lainnya disini? Daripada berebut cari lahan berjualan di Ibukota?
Nah cobalah kalian para pedagang berfikirlah sejenak, tidakkah kalian ingin berjualan di daerah yang lebih banyak pembelinya daripada jarang pembelinya?

Kriminalitas
Saya juga nggak habis pikir, ada orang-orang yang rela selama hidupnya siap menerima kejahatan sewaktu-waktu. Stereotip kebanyakan orang, orang Timur itu sangar-sangar, sadis. Tapi nyatanya kok saya malah sangat-sangat aman tinggal di Ambon dibanding jalan di Ibukota. Kalau di Bekasi ketika jalan ke Mall saya harus menitipkan helm pada penitipan helm, di Ambon helm yang cuma dicangklongkan di atas motor aja nggak di ambil. Suami saya sering ketiduran lupa memasukkan motor kalau malam, Alhamdulillah sampai pagi motornya sehat wal afiat :D entah kalau saya tinggal di Jabodetabek ya.
Angka kejahatan fisik juga sangat tinggi di Ibukota, kembali saya berfikir kenapa ada orang yang begitu rela dirinya bakal dianiyaya sewaktu-waktu? Apakah kalian tidak berniat pindah keluar dari zona tidak nyaman ini (bagi saya)?

Akhir kata saya sungguh sangat-sangat salut dengan orang-orang Jakarta yang sampai saat ini sanggup bertahan menghadapi macet, polusi dan juga kriminalitas yang tinggi. Tapi kalau bisa, ayo keluarlah dari lingkaran setan ini, kota-kota lain di Indonesia juga sangat nyaman untuk dihuni. Kalau bisa tinggal di daerah lain kenapa harus datang Jakarta?


Sumber : BPS

Sumber : BPS

Sumber : BPS

Sumber : BPS
note : catatan saya ini ditujukan untuk penduduk yang iseng datang sendiri ke Jakarta dan iseng mencari kerjaan di Jakarta setelah kuliah. Apa lahan kerjaan di daerah kalian nggak ada sampai harus datang ke Jakarta?
Kalau penduduk yang memang sudah ditakdirkan bekerja di Jakarta karena surat tugas, saya turut prihatin.Semoga kalian sabar dan tabah menghadapi ujian kemacetan, polusi dan kriminalitas tinggi ini :(, saya harus belajar pada kalian, 3 tahun lagi cepat atau lambat suami pasti ditugaskan juga ke Jakarta







8 comments

Hidup di jakarta itu karena keadaan Manda.Bukan karena pilihan.Kalau disuruh memilih juga semua milih hidup di kampung.Tiap hari sejuk lihat gunung.Tapi hidup adalah pilihan Manda.Gaji di Jakarta buat swasta memang tiga kali lipat di daerah.Tapi pengeluaran juga malah berkali kali lipat dengan tingkat stress tinggi.Kalau disuruh milih mah semua minta di daerah Manda.Tp ya itu..nggak semua bisa seberuntung mereka mereka yang ditempatkan di sana

Reply

mbak, kalo aja ada pilihan lain, ato kalo aja bank asing tempat aku kerja punya cabang di daerah2 terpencil, aku pasti minta pindah kesana :D.. sayangnya kantorku cuma buka cabang di kota2 besar yg notabene sama aja kayak jkt.. Akupun sblm merantau ke jkt, 18 thn tinggal di aceh.. sepi, aman (sebelum pemberontakan GAM beraksi ya), ga macet, ga polusi... dan aku jg sama stress luar biasa pindah ke jkt awal2nya :D.. tapi ya mau gimana, kerjaan dpt di sini, jd mencoba utk belajar mncintai jkt :).. Makanya tiap thn aku slalu traveling ke tempat2 yg sebisa mungkin jgn seperti jkt ;p ngilangin stress mbak..

skr planning jangka panjang sih, kalo aku dan suami pensiun nanti, kita pgn pindah ke kota yg lbh tenang, dan beli rumah di sana :)

Reply

mak tulisanku ini mengerucut buat orang-orang yang sengaja dateng ke Jakarta, nyari-nyari kerjaan di Jakarta, karena di daerahnya duitnya nggak ada. Padahal kalau ditekuni saya bilang lebih gampang cari kerjaan di daerah, karena lahannya masih luas
ada pula orang yang nggak betah tinggal di daerah lalu memaksa atasan buat pindah ke Jakarta karena daerah minim fasilitas, padahal masa kerjanya masih lama di daerah. Banyak nih temen2 suami saya yg kayak gini,

Reply

mba, mba pindah kan bukan atas kemauan sendiri, sedangkan catatanku ini mengerucut sama orang yang nekat ke Jakarta nyari kerjaan, padahal lapangan kerjaan di tempat dia tinggal juga banyak

Reply

Kadang miris juga kok mbak kalo bandingin jakarta *baca:semua fasilitas di jawa* dengan daerah luar jawa. Saya pun pernah ngalamin tggal di kalimantan dan papua utk urusan pekerjaan. Kehidupan berbeda sekali. Sangat jauh ketinggalan. Mgkin org2 takut gagal juka harus mencoba di dluar jawa. Selain itu, harga kebutuhan pokok yg jauh melambung dr di jawa bkin mereka mikir, apakah jika kerja dluar jawa bs ngirim uang ke keluarga.


Ak ada cerita, d papua tepatnya di kaimana bnyak bgt tukang becak. Trnyata mereka asalnya dr jawa *bnyak jatim* mereka dtg ke papua dg ajakan suadara atau teman yg bilang kalo pendapatan d kaimana lbh bnyak dibanding hanya jd buruh tani di jawa yg garap sawah orang. Akhirnya mereka pindah ke kaimana dg harapan bs memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Tp ternyata smpe sana, harga kebutuhan pokok jauh beda. Income mereka harus dibagi buat kos, makan, sewa becak, ngirim keluarga dan buat pulang kampung. Dan kata mereka memang tarifnya lbh besar, cm kalo dipikir2 sm aja.

Nah, yg jd perhatian disini kenapa bag tmur jauh tertinggal karena untuk kebutuhN pokok aja harus kirim dr jawa shgga biaya transport mahal. Sedangkan d bag tmur ga dibuat semacam pusat perekonomian sprti d jawa. Blm lagi kondisi masyarakat yg beda. Jd bnyak aaspek yg bkin daerah kurang greget buat jd tempat cari kerja.

Yap bener, cm org2 yg mau pindah dr comfort zone aja yg bs survive.

Btw saya juga br 3 bulan tggal d tangerang ikut suami. Saya pindah dr jogja. Awal2 saya hampir gila ketika ada acara d jakarta saya harus berangkat pagi2 buta dan harus selalu on.

Salam kenal

Reply

iya, kalau di Papua emang serba mahal apa2 juga, dia kan paliiiiiiiing timur di Indonesia, tapi di Ambon harga2nya sama kayak di Makassar dan nggak jauh beda juga kayak harga di Jakarta paling selisih 1000-2000 bagi saya sih harga segitu nggak bgtu mahal, dibanding harga di papua yg bisa beda 10ribu,
btw disini sepatu2 sport yang dijual brand2 Adidas, nike dll di outlet2 sport stasion lebih murah oh dari Jakarta, baju2 juga gitu bahkan ada yang diskon sampe 50% dari Jakarta *bingung kan*

Reply

Hahahahaha...itu kenapa hayo? Apakah karena pelabuhan lbh deket? Cukai lbh rendah? Hmmmm...


Lbh aneh lagi jakarta macet, kotor, apa2 mahal, apa2 jd jauh padahal deket, individualis, tp msh jd tujuan dan setiap taun sll nambah.

Bingung lagiii....

Reply

Makannya saya stress banget nih tinggal di pinggiran ibukota, pinggirannya aja loh padahal T_T

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...