Menu

Tuesday, 18 July 2017

/



Kalau kemarin saya sudah cerita tentang jalan-jalan mengunjungi rumah pengasingan bung Hatta,  benteng Nassau, dan benteng Belgica sekarang kita pergi ketempat yang agak horror, lewat di depannya aja berasa aura mistisnya. Hihihi.. *ketawa ala mbak kunti* tempat itu bernama Parigi Rante.
Oh ya, bagi temen-temen yang belum tau Banda itu dimana saya jelasin dikit ya, jadi Banda Naira adalah sebuah kepulauan kecil yang letaknya di Maluku tengah, dia masih masuk dalam wilayah Maluku tapi pulaunya terpisah. Banda ini nggak cuma punya wisata sejarah aja gengs, tapi juga punya wisata bahari, kedalaman laut Banda itu nggak terbayangkan indahnya, alamya pun indah, sejuk tak berpolusi. Kalau kamu pengen tau surga itu seperti apa, datanglah ke Banda, setetesnya ada disana, serius!

Akhirnya sampai juga di Banda :D, masih kurus sekali kita semua wkwk


Balik lagi ke Pergi Rante, Perigi Rante ini tempatnya sih biasa aja, hanya berupa bangunan terbuka berupa monumen kecil berpahatkan nama-nama sebanyak 40 orang. Tapi ternyata, tempat itu menuliskan sebuah kisah dimana orang-orang kaya Banda Naira pernah dibantai dan dihabisi hidup-hidup di dalam benteng Nassau *melotot* nah hanya sebab perdagangan pala. Lalu, gimana nggak berasa horror kan lewat di depannya. Pasalnya Perigi Rante ini lokasinya persis banget disamping benteng Nassau. Entah tempat ini pernah menjadi lokasi eksekusi, entah hanya tulisan berupa nama-nama saja yang terpahat disana. Entah pun ada kuburan 40 orang yang dibantai itu. Saya kurang begitu paham, pasalnya saya hanya lewat, foto disana pun nggak berani. *yeaah, saya gini-gini bisa ngerasain hal-hal kayak gitu, jadi daripada kebawa mimpi mending nggak didatengin hee*

Ini dia yang namanya Parigi rante


Mari kita baca sejarahnya, kenapa mereka sampai dibantai hidup-hidup disana,
Tau kan, kalau Banda itu penghasil rempah-rempah dunia yang harganya lebih tinggi daripada emas di EROPA, yes jadi di Eropa emas nggak ada harganya dibanding pala, dan banda adalah pusat perdagangan rempa-rempah pada abad ke 14. Dan pada saat itu pala terbaik hanya ada di Banda, tempat lain mungkin ada pala, tapi  kualitasnya nggak sebaik di Banda. Sampai di sini kamu bangga nggak sih jadi orang Indonesia? Saya sih bangga banget. Oke, saya akui saya buta sejarah dan saya terlambat mencintai pelajaran sejarah, untuk kisah lengkapnya mohon maaf saya ambil dari sebuah situs tentang kota Banda, jadi di bawah ini bukan tulisan saya, tapi seenggaknya ini bisa menjadi pelengkap tulisan saya.

Kenapa rempah-rempah kita bisa sampai terkenal di Eropa?
Rempah-rempah dari Banda Naira sebelumnya dibeli oleh pedagang-pedagang Melayu, Cina dan Arab, lalu dikapalkan ke Teluk Persia, diangkut oleh kafilah ke kawasan Laut Tengah dan disebarkan melalui Konstantinopel (Istambul) dan Genoa (Venesia). Melalui karavan daratan Cina, sejarah membuktikan bahwa kapal-kapal Cina sudah berada di Banda Naira kurang lebih 600 tahun sebelum Portugis tiba (Van der Chijs, J.A., Devestiging van Het Nederlandsche Gezeg over de Banda Eilanden, Batavia 1886).
Sesuai catatan ahli sejarah umumnya dan khususnya sejarawan Portugis, di Kepulauan maluku dalam tahun-tahun 1512-1605 adalah merupakan "abad Portugis yang penuh dengan pertumpahan darah dan kejadian-kejadian yang memalukan" (Dasseri, M., De Nederlanders in de Molukken, Utrech 1040).

Di Salah satu sudutnya ada nama2 pejuang kemerdekaan yg pernah dibuang ke Banda oleh Belanda


Perintah Seventeen Gentlemen (Heeren Zeventien) yaitu para direktur VOC di Amsterdam kepada Laksamana Pieterszoon Verhoeven berisi antara lain:
"kami mengarahkan perhatian anda khususnya kepada pulau-pulau dimana tumbuh cengkeh dan pala, dan kami memerintahkan anda untuk memenangkan pulau-pulau itu untuk VOC baik dengan cara perundingan maupun dengan kekerasan"
(Frederik W.S., Geschiedenis van Nederlandsch Indie, V.III, Amsterdam 1938-1940).

Dan ini 40 nama orang2 Banda yang dibantai sebab tidak setuju sistem monopoli Belanda

Jadi rempah-rempah kita sudah dibawa terlebih dahulu oleh saudagar-saudagar China, mungkin orang-orang Eropa mencicipi dan kemudian tertarik dengan wanginya. Anyway, katanya laksamana cheng Ho sudah lebih dulu ke Banda daripada orang Eropa, ini ka-ta-nya. Saya diceritain sama orang yang jaga benteng Amsterdam di Ambon.

Ekspedisi Verhoeven tiba di Banda Naira pada awal April 1609 dengan 13 buah kapal. Verhoeven membawahi sekurang-kurangnya 1000 orang bersenjata. Dalam sengketa yang terjadi dengan Orang-orang Kaya Banda, Verhoeven, Opperkoopman (pedagang senior) Jacob van Groenwegen beserta 26 orang Belanda lainnya terbunuh. Menurut Sejarah Banda, BHOI Kherang, Putri Raja Lautaka ikut berperang dalam peristiwa ini. Saat itu Jan Pieterszon Coen yang menjadi juru tulis Verhoeven nyaris terbunuh (Des Alwi, Sejarah
Maluku 2005). Kisah Coen yang hampir terbunuh pernah saya tulisdisini

Setelah Jan Pieterszon Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC yang baru, nasib Banda sepenuhnya ada di tangannya. Coen adalah pemimpin yang keras dan mempunyai prinsip; "yang kuat adalah yang benar", dan dialah yang kuat dan benar untuk menaklukkan Banda, Inggris dan Batavia. Visi Coen sama dengan pendahulunya yang lalim, bengis dan tidak berperikemanusiaan, yang telah merancang suatu rencana induk untuk mengukuhkan kekuasaan Belanda atas seluruh Asia. Pada tahun 1621 Coen bertolak dari batavia menuju Ambon dan Banda. Mereka tiba di Benteng Nassau 27 Pebruari. Dalam waktu 10 hari Coen menghimpun sebuah armada yang terdiri dari 13 kapal besar, 3 kapal kecil dan 6 perahu layar. Pasukannya berjumlah 1665 orang Eropa, 250 orang dari garnisun Banda, 226 orang hukuman dari Jawa dan 100 orang tentara bayaran Jepang.


Pada 11 Maret 1621, Coen mendaratkan pasukannya pada 6 titik yang berjauhan, dengan tujuan untuk membingungkan pihak Banda yang bertahan dan menguasai pos-pos penting. Pada hari itu juga seluruh Banda Besar dikuasai. Keesokan harinya, 12 Maret, Pasukan Coen menyerbu dan mengambil alih kekuasaan atas pertahanan-pertahanan rakyat terakhir yang masih ada. Coen menuntut agar mereka merobohkan kubu-kubu pertahanan, menyerahkan semua senjata, berhenti menghasut dan menyerahkan anak laki-laki mereka sebagai sandera. Dalam suasana tegang seperti ini, seorang tokoh Orang Kaya Lonthoir, Kalabaka Maniasa menghadap Coen denga dewan perwiranya, bahwa Banda tidak akan tunduk dan menyerah.

Ilustrasi pembunuhan orang2 Banda yang saya foto di Museum budaya Banda Naira, Coen bengis berbaju biru
Letnan Laut Nicolas van Waert seorang saksi mata yang penuh kecemasan dan ketakutan, melaporkan rangkaian peristiwa yang terjadi pada tanggal 8 Mei 1961 sebagai berikut:


"Keempat puluh empat tawanan-tawanan digiring ke dalam benteng (Fort Nassau) bagaikan sekawanan domba. Delapan orang yang paling berpengaruh dituduh sebagai pemicu kerusuhan. Sebuah kurungan bambu berbentuk bulat dibangun di luar benteng. Sambil terikat erat dengan tali dan dijaga ketat oleh penjaga, tawanan-tawanan itu dipaksa masuk. Hukuman mereka dibacakan dengan keras-keras di hadapan mereka, bahwa mereka telah bersekongkol untuk membunuh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen dan telah memutuskan perjanjian perdamaian.


Enam orang serdadu algojo Jepang diperintahkan masuk ke pagar bambu dan merekalah yang memotong perut dan membedah tubuh kedelapan orang kaya itu dengan pedang yang tajam menjadi empat bagian. Sementara ketiga puluh enam tawanan lainnya juga mengalami nasib yang sama, dipenggal kepala dan dipotong-potong. Eksekusi ini ngeri untuk dilihat, para Orang kaya itu mati tanpa mengeluarkan sepatah katapun, kecuali seorang diantara mereka dengan tegarnya berkata: apakah tuan-tuan (berbuat demikian), tidak merasa berdosa?. Pihak VOC memang tidak ada belas kasihan apalagi merasa berdosa. Kepala dan potongan tubuh mereka yang telah dieksekusi ditancapkan pada ujung bambu dan dipertotonkan kepada masyarakat. Hanya tuhan yang tahu, siapa yang benar"
(Luc Kiers. Coen Op Banda: de Qonqueste an Hetrech van Den Tijd, Utrecht 1943).

Eksekusi ini dilaksanakan sesuai perintah tidak resmi Heeren Zeventien pada 1615 yang mengatakan bahwa: keberhasilan menjajah Kepulauan banda Naira dan menguasai rempah-rempah disana adalah dengan cara menghabiskan atau menghilangkan pimpinan sesepuh rakyat secara besar-besaran sehingga yang ditinggal tidak mempunyai pimpinan perlawanan. Menurut catatan sejarah, kekejaman Jan Pieterszoon Coen di Banda telah menghabiskan kurang lebih 60% rakyat Banda dari jumlah penduduk 14.000 jiwa.

Ngomong-ngomong Jan Pieterszoon Coen ini namanya nggak begitu asing, lah iya, wong namanya diukir di salah satu sudut kota Jakarta, dia sempet jadi gubernur Hindia Belanda kalo nggak salah, dan meninggal di Batavia. Kalau melihat sejarah Coen ini bengis banget dan sangat kejam, demi sebuah pala dia rela menyusun strategi membumi hanguskan Indonesia agar bisa memiliki pala dan rempah-rempah yang saat itu hanya ada di Banda. Selayaknya, banggalah kita sebagai bangsa Indonesia, tanah kita tanah surga *bukan katanya* selayaknya kita menjaga apa yang seharusnya kita jaga.


Sumber : http://bandapedia.blogspot.co(dot)id
foto : Sebagian minta Chandra Kusuma W.
4 comments

ngeri kejamnya dia dan baca sejarah kek gini akupun merasa bangga banget sama Indonesia meski titik titik ga diterusin deh haahaha takut tercyduk 😂🤣

Reply

Aku merinding baca cara pembantaiannya :( .. Ga ada rasa kasian samasekali yaaa algojonya melakukan itu.. Jd pgn dt) ksana mba.. Mau liat bentengnya. Drdulu yaa tempat2 yg penuh sejarah kelam gini yg aku suka datangin..naikin adrenalin juga , Tp bljr sejarahnya lbh seru..

Reply

wah bermanfaat sekali infonya sis

Reply

Ilustrasi pembunuhannya serem gambarnya....

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...