Thursday, 18 June 2020

Corona, Sejarah Akan Mencatatmu




Semua nggak ada yang menyangka, kalau corona membuat umat manusia murung dan bersedih, semua nggak ada yang menyangka kalau pada akhirnya sebuah virus akan melemahkan setiap sendi kehidupan dan menghilangkan harapan kami.


21 Januari 2020
Hari itu kami sekeluarga ke Jogja, menghadiri wisuda adik ipar nomer 4 yang selesai S2 di UGM, tidak hanya kami sekeluarga, mertua saya, dan mertua adik serta istrinya juga datang, kami menyewa villa di sana, sungguh, kami tidak akan pernah menyangka dibalik kesenangan kami tertawa dan jalan-jalan di Malioboro, pada belahan bumi berbeda ada negara yang sedang terserang virus mematikan, corona namanya.
Sampai di sebuah perjalanan, adik ipar berkata, “Kasian banget China lagi ada wabah, banyak yang meninggal” kami saat itu tak terlalu memperdulikan, hanya menanggapi dengan biasa saja, karena berfikir, negara tirai bambu itu jauh dari negara kami, tidak mungkin virus berbahaya itu sampai di sini.

entah kapan bisa ke Solo lagi

Tak terlalu memperdulikan corona yang mulai mewabah di China, kami menikmati acara santai di Jogja, jalan-jalan, belanja-belinji dan berakhir pulang kampung ke Solo, saya menengok mami-papi yang kebetulan baru pindah beberapa bulan ke sana. Saya juga tidak akan pernah menyangka, kalau bulan itu mungkin pertama kalinya dan entah kapan saya bisa pulang kampung lagi, karena corona tidak bisa ditolerir keberadaannya, tidak bisa membuat kami pulang kampung. Saya ingat, ketika pulang, pakde-bude berdoa, “Semoga kamu punya momongan lagi ya nduk” dan banyak saudara papi yang berdoa untuk kehamilan saya. Saya pun tak menyangka kepergian saya ke Solo yang saat itu sedang haid, adalah haid terakhir saya, karena beberapa minggu setelahnya saya positif hamil. Hamil di tengah pandemi.

5 Febuari 2020
Ada undangan jalan-jalan ke Palembang, bak gayung bersambut saya menyanggupinya, toh saya juga tak tahu kalau saat itu tengah hamil muda. Suami mengizinkan, mertua mau dititipi anak. Saya senang akhirnya bisa refreshing lagi. Saat itu corona sudah mulai mewabah, tapi belum sampai di Indonesia, tapi sudah masuk ke Asia Tenggara, negara seputar China banyak yang terserang. Kota mereka, Wuhan adalah salah satu daerah pencetus wabah itu. Wuhan bak kota mati dan banyak warga mereka yang meninggal. Seorang teman menjapri, “Kalau di Palembang ada corona gimana Nda? Secara disana banyak orang China” rasis kubilang.
“Mereka itu Chinanya China lokal, mana mungkin bawa virus.”
“Ya kali ada saudaranya yang datang dari China terus kena corona kan?”
“Yaelah, bismillah aja.. nggak ada China lokal yang kena corona” sahutku saat itu menyepelekan corona. Tidak ada yang menyangka, suatu hari setelah omongan itu, corona benar-benar mematikan banyak orang Indonesia, bahkan sampai ke Palembang.

Entah kapan bisa ke Palembang lagi

Di Palembang, ada kegiatan kami di pulau Kemaro, saat itu sedang diadakannya acara Cap Go Meh, ramai orang berkumpul, rata-rata etnis China, tapi tidak ada keraguan sedikit pun kalau ada wabah corona, saya menganggapnya biasa aja, saat itu pun saya tidak pakai masker. Pulang dari Palembang, bandara pun terlihat biasa saja, masih ramai, tidak ada kepanikan yang terlihat.

15 Febuari 2020
Kami sempat menghadiri undangan di Bogor, aktifitas pun tampak biasa saja. Belum ada anjuran untuk stay at home, saat itu mulai keluar meme-meme kalau Indonesia adalah negara yang tidak bisa terserang covid. Saya pun optimis Indonesia aman, tapi kemudian akhirnya memang menyedihkan, karena bisa jadi akibat kesombongan kami yang menyatakan, kalau corona nggak mempan masuk ke Indonesia karena banyak hal, salah satunya makan gorengan campur plastiklah, rajin minum jamulah, makan-makanan bermicinlah, dan banyak hal lainnya. Kami menyepelekan wabah tersebut.

kangen kondangan dan pakai kebaya lagi


1 Maret 2020
Kesombongan masyarakat Indonesia ini terus berlanjut, sampai pada akhirnya ada warga Depok yang terkena covid 19, panic buying pun melanda, banyak orang yang belanja habis-habisan karena takut efeknya seperti China yang di lockdown sampai berminggu-minggu, tidak bisa kemana-mana. Tapi akhirnya, warga Indonesia memang berpenduduk orang-orang bebal, mau ada corona atau tidak mereka tidak perduli
Saya sempat berbelanja di salah satu supermarket besar yang nggak jauh dari rumah, orang-orang mulai terlihat menggunakan masker, berbelanja banyak dan kayak social distancing. Tapi saya diminta untuk tetap tenang sama suami, malah menganggap hal tersebut lebay, corona kan baru sampai Depok, saya malah merasa tidak akan banyak orang yang terkena corona, karena antara Depok dan Bekasi jauh. Tapi siapa yang menyangka kalau akhirnya sampai seperti sekarang T_T

terpaksa harus belajar setiap hari di rumah aja T_T

10 maret 2020
Belum ada anjuran untuk mulai dirumah saja, saya pun masih melaksanakan arisan sekolah yang rutin kami lakukan setiap bulan, kami masih bisa berkumpul, ngobrol, cipika-cipiki. Belum merasa kalau social distancing itu perlu dilakukan, bahkan saya sempat melakukan usg di hari sabtunya. Yah, walaupun orang-orang sudah mulai menggunakan masker, hand sanitizer mulai langka, masker juga, desinfektan habis dimana-mana. Saya tetap tenang tapi sudah mulai melakukan protocol kesehatan.
Akibat kelangkaan ini mulailah bermunculan cara membuat hand sanitizer baru, desinfektan baru, vitamin pun mulai langka, harganya melonjak, masker pun demikian, yang biasanya terjual murah, kini bisa sampai berpuluh kali lipat harganya, bahkan saya beli masker saja sampai 300ribu, edan.. dari Depok, muncul berita kalau pasien corona merebak dan mulai banyak sekali dimana-mana. Ketakutan mulai melanda. Bak wabah zombie, penyakit ini mulai ditakuti banyak orang.

16 Maret 2020
Pemerintah kota Bekasi mulai mengumumkan bahwa anak-anak diliburkan. Karena menyusul kebijakan kalau seputaran Jakarta mulai libur, inilah awal kesedihan itu. Padahal corona belum (atau mungkin sudah) masuk Bekasi, saya rasa seminggu lagi belajar anak-anak juga masih aman berada di sekolah, tapi karena orangtua murid sibuk berkoar di grup “Daerah lain sudah libur, kenapa Bekasi nggak libur? Kasihan anak-anak kalau harus sekolah”, akhirnya, keluar kebijakan dari Pemkot Bekasi dan liburlah kita. Ada rasa menyesal saat itu merasakan senang akhirnya waktu libur datang, karena berbulan-bulan kemudian sampai Juni dan akhirnya lulus, Naqib tidak pernah lagi menyentuh bangku sekolahnya walaupun hanya sekedar belajar sebentar, bahkan bertemu dengan guru dan teman-temannya saja tidak lagi dia rasakan. Pernah saya ajak dia kesekolah hanya untuk mengembalikan tugas-tugas sekolahnya, tampak kesedihan di raut wajah Naqib, dia melihat ayunan, halaman sekolah, ruang kelas Nampak kosong tak berpenghuni, akhirnya pulang dari sekolah dia berkata, “Naqib ingin sekolah lagi bu, Naqib kangen sekolah, Naqib kangen temen-temen” sedih rasanya perasaan ini. Padahal waktu diumumkan hari libur sekolah, perjanjiannya hanya 2 minggu, tapi diluar perkiraan, angka covid meningkat drastis dan pada akhirnya sekolah tidak pernah diadakan lagi sampai hari ini, bahkan katanya sampai Desember nanti. Ini artinya ia lulus dalam keadaan tidak berjumpa, tidak berkesan, menyedihkan banget ya T_T.
Anak-anak tidak pernah belajar dalam jangka waktu selama ini dirumah, apalagi diajar sama ibunya sendiri, pasti dia punya perasaan yang perih hanya melihat teman-temannya saja melalui foto-foto yang dikirim. Saya saja sedih apalagi dia. Tapi yang namanya anak-anak, dia tidak pernah menunjukkan perasaan itu.

April 2020
Shalat Jum’at mulai ditiadakan, entah sampai kapan. Ojek Online hanya menerima pesanana makanan, tidak diperbolehkan mengangkut penumpang. Toko-toko mulai ditutup, orang-orang dirumahkan, dan pekerja kantoran dilarang beraktifitas di luar. Semenjak Maret kemarin pun suami sudah mulai Work From Home. Hari-hari kita hanya dirumah saja. Perasaan senang sedikit meliputi, pasalnya dulu saya pernah berdoa, “Saya ingin sekali melihat suami sepanjang hari, karena setiap hari dia bekerja, tidak punya waktu sedikit pun untuk saya kecuali sabtu-minggu” Mungkin inilah waktu, doa saya dikabulkan. Semenjak corona, suami hampir sebulan berada dirumah terus, sekarang pun yang berbelanja bulanan adalah suami. Tapi pada akhirnya saya merasa bosan bertemu dia 1x24 jam setiap hari, sesekali saya ingin suami ngantor agar ada rasa kehilangan dan rindu ketika ia pergi sejenak. Sungguh memang yang berlebihan tidak baik :D, ya tidak dipungkiri memang, rasa bosan memang ada tapi tetap saya merasa senang dia ada dirumah, daripada di jalan ketularan virus, ye kan :D

Mei 2020
Ini adalah Ramadhan tanpa shalat jum’at, tanpa tarawih di masjid, dan tanpa shalat ied, buat saya. Ramadhan yang sepi, tapi tetap ada suara anak-anak mengaji di masjid, tapi tetap ada gegonjrengan anak-anak memukul galon keliling perumhan, yang sedih sih nggak ada shalat jum’at heuheu.. Kalau shalat ied sebetulnya ada, tapi saya tidak shalat dan jumlah jama’ahnya dibatasi. Yang sedihnya, tidak ada silaturahmi. Ya jadi kayak shalat ied Adha aja, habis shalat terus pulang. Ada yang berkunjung tapi nggak banyak, hanya 1-2 keluarga. Dan saya merasakan ini Idul Fitri paling aneh sepanjang sejarah. Nggak bisa pulang kampung, nggak bisa berbuat apa-apa pokoknya selain diam dirumah.

tetap bisa lebaran, untung punya keluarga besar, jadi berasa rame lebarannya

Juni..
Dan inilah bulan itu sekarang T_T.. bulan dimana saya dilahirkan. Tapi corona masih ada, usia kandungan menginjak bulan ke 5, mungkin corona lebih lama datang di bumi pertiwi ini sebetulnya, tapi kita terlalu abai. Mungkin inilah tanda akhir zaman, dimana seperti yang disebutkan Rasulullah, “Akan datang sebuah wabah sebelum kiamat” entah kapan kiamat itu datang, tapi kedatangan corona begitu menghentakkan umat manusia, sampai-sampai saya bosan setiap hari terus saja dijejali berita tentang corona.


Oh corona entahlah kapan kamu berlalu, Juni akan berakhir dan Juli akan segera datang.

Post a comment

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)