Friday, 22 January 2021

Saat-Saat Mengeluarkan Nawa Ke Dunia

 

 

 

Di postingan sebelumnya saya bercerita kan, bagaimana sulitnya saya meyakinkan suami dan anak untuk ingin hamil lagi. Kalau belum baca ceritanya, boleh klik link berikut

Nah di post kali ini saya ingin menceritakan saat-saat menegangkan ketika Nawa ingin dilahirkan ke dunia

 

Tibalah saat-saat menegangkan :D

Menginjak 9 bulan hal mengejutkan datang, bidan yang kerap saya datangi positif covid 19, ndilalah membuat saya kemudian pindah ke rumah sakit. Sebetulnya saya memang berencana kontrol ke rumah sakit karena saya akan melahirkan disana, tapi keinginan ini akan saya lakukan ketika menginjak bulan ke 8 akhir, sedangkan saat bidan saya terkena covid usia kandungan baru 8 bulan awal. Ya sudahlah akhirnya karena keluarga juga pada takut saya kenapa-napa akhirnya pindahlah kami kontrol di rumah sakit. Oh ya, karena ini masih dalam keadaan pandemi, saya pun sempat merasakan tes SWAB, ya ampun nggak enak banget ya ambil sesuatu lewat hidung heuheu.. Mungkin ada 3 kali saya mengunjungi dokter cantik bernama Rahayuning Indit Pramesti dokter yang bertugas di Hermina Galaxy Bekasi, ketika kunjungan ke 4 saya periksa dalam dan ternyata sudah bukaan 4, disinilah sebuah kisah seru terjadi :D

 

Baju bersalinnya itu loh, kenapa juga mirip baju Al-Azhar T_T

Jadi ceritanya begini

 

Tanggal 15 Oktober saya kembali kontrol, di hari kamis ini pasiennya lumayan banyak, ampun deh pokoknya, saya sampai kena giliran hampir sore, biasanya saya kontrol hari rabu, tapi karena suami sibuk ya hari kamis ini bisanya. Tiba giliran saya, dokter mulai memeriksa dan mengontrol bagian dalam, “Sudah bukaan satu ya bu” kata dokter Ayu, wah saya deg-degan dong, bisa jadi saya sebentar lagi lahiran, tapi nyatanya hari demi hari saya tidak merasakan mules apa-apa. Hanya pinggul bagian bawah yang terasa teramat sakit bahkan shalat saja saya harus duduk sangking sakitnya.

Tanggal 21 oktober saya kembali kontrol, saya membatin, jangan-jangan bukaan sudah nambah nih, dan benar, bukaan sudah nambah jadi bukaan 4, kata dokter 6 jam lagi saya bisa lahiran dan dokter menyuruh saya rawat inap. Saat itu juga suami memesan kamar dan saya langsung menuju ruang persalinan, karena belum juga merasakan mules saya disuruh jalan-jalan dan senam squat sesering mungkin. Pokoknya udah tuh, setiap jam saya jalan-jalan dan senam squat, sampai 6 jam kemudian, tapi mungkin memang bayinya belum kepingin keluar ya saya tidak merasakan apa-apa bahkan sampai esoknya saya tidak merasakan sakit apa-apa. Sampai akhirnya dokter kandungan memilihkan opsi untuk saya

 

padahal udah pasang status beginian coba di IG, eh bocahnya kaga nongol juga wkwk

“Mau induksi atau pulang nunggu mules bu?”

“Kalau diinduksi berapa jam lagi bisa keluar dok?”

“Ya bisa dua belas jam” hastagah 12 jam, buju buneng, nggak kebayang induksi lagi, waktu Naqib aja diinduksi baru 18 jam keluar, saya kapok, mending pulang aja daripada harus menahan rasa sakit yang nggak ketulungan. Suami juga nggak setuju saya di induksi, dia kasihan kalau saya teriak-teriak nahan sakit. Akhirnya pulanglah kami. Lumayan menghemat waktu, daripada harus guling-guling nggak jelas di Kasur rumah sakit

 

beberapa menit setelah lahir, masih berdarah-darah

Sebelumnya suami mengurus administrasi terlebih dahulu, agak lumayan lama. Sementara menunggu itu saya merasakan perut yang nggak enak, kok saat itu perasaan saya nggak enak juga, kayaknya mau lahiran nih, tapi saya nggak mungkin bilang ke suami kalau administrasi dibatalkan aja, jangan pulang, secara dia udah bolak-balik dan mengurus semuanya. Akhirnya untuk memastikan semuaya baik-baik saja, saya memanggil suster jaga untuk memeriksa bagian dalam,

“Masih bukaan empat kok bu” oh berarti yang tadi hanya kontraksi palsu aja mungkin. Saya menghibur diri

Sebenernya saya sudah merasakan mules saat dirumah sakit, tapi saya berusaha tegar, kembali berfikir positif mungkin kontraksi palsu. Tapi nggak bisa pasrah juga dong, saat itulah saya berinisiatif untuk mulai menghitung berapa kali mules itu datang, ternyata nggak disangka gaes, mulesnya datang tiap 4 menit sekali, dan itu masih di rumah sakit. (tegang nggak yang baca?) saat itu juga saya nggak berani bilang, karena suami sudah mengurus administrasi, dia juga lapar dan sudah memesan mobil online. Akhirnya saya putuskan untuk pulang saja, inilah waktu terlama yang saya rasakan. Haduh beneran ini saya di prank anak sendiri wakaka…

 

ambil jejak kaki dulu :p

Sepanjang perjalanan saya hanya bisa menarik napas panjang, dan kembali menghitung, ternyata memang tiap 4 menit sekali datang rasa mules itu dan nggak berubah.

Karena tetangga baru saja meninggal, maka saya disuruh untuk mandi dirumah mertua, dan mama hanya pesan “Sudah lu disini aja, jangan kemana-mana, ntar kalau mules gampang tinggal pesen mobil” sebenernya saya kepingin pulang, inget cucian dirumah yang sangat menggunung wakaka.. tapi mengingat rasa mules sudah sering datang, saya urungkan. Nah pas sampai dirumah mertua ini mulesnya hilang sebentar tapi kemudian datang lagi ketika saya mandi, pokoknya setiap 4 menit sekali gitu deh. Dan makin lama makin sakit ketika saya shalat. Saya nggak berani untuk bohong kalau perutnya nggak sakit, tapi suami menyuruh saya untuk tiduran  dulu, dia mungkin berfikir ini kontraksi palsu lagi. Oke, sebagai istri saya hanya bisa patuh. Karena makin lama makin sakit saya memaksa untuk ingin segera kerumah sakit, saya nggak bisa patuh lagi sama dia :D, akhirnya satu rumah beneran panik ketika tau saya mules nggak tertahan. Mertua, kakak ipar dan seisi rumah beneran panik saat itu.

 

Ini sungguh perjalanan terlama dari rumah menuju rumah sakit, untung nggak macet dan masih siang, yang saya ingat saat itu selepas Ashar, untung saya sudah menjamak shalat, kalau tiba-tiba mules nggak bisa shalat kan nggak lucu saya ninggalin shalat T_T. Saya hanya bisa menahan rasa sakit yang terus menerus datang. Sesampainya dirumah sakit, suami segera mencari pinjaman kursi roda. Tapi mungkin banyak yang sakit jadi kursi roda banyak digunakan, haduuuh ya Allah udah nggak kuat. Alhamdulillah tak lama berselang, kursi roda datang dan dengan secepat kilat suami membawa saya sembari menggeret koper menuju ruang persalinan. Haduh nggak kebayang saat itu betapa rempongnya dia wakaka.. maaf ya suamiku saying :p

 

horeeee boleh pulang kerumah :D

Sesampainya di lantai 2 ruang persalinan, suami langsung masuk dan berkata, “Sus, balik lagi nih, pasien yang pulang tadi” ya ampun konyol banget nggak sih, itu tuh baru 3 jam berlalu saya meninggalkan rumah sakit dan sudah balik lagi karena beneran mules. Langsung aja, setelah masuk saya dipakaikan baju yang tadi saya tanggalkan, sampai-sampai susternya bilang, “Bu, baju yang tadi dilepas aja belum sempet diberesin loh”, wkwk kocak nggak sih ya Allah..

Setelahnya saya diperiksa dalam, pembukaan sudah naik. Bidan mempersiapkan segala sesuatunya, mereka terlihat sibuk dan saya hanya bisa teriak-teriak menahan sakit yang tak terperi. Memang perjuangan ibu melahirkan itu antara hidup dan mati ya, saya merasakan waktu melambat saat itu, duh ya Allah percepatlah begitu doa saya. Menjelang pembukaan 9 dokter Ayu datang, dia menggoda saya, “Eh balik lagi” asem ik wkwk..

Perasaan sudah kacau saat itu, tim dokter jaga juga sudah datang yaitu dokter Adit, saya lupa ada berapa suster yang membantu, yang pasti ketika pembukaan lengkap saya disuruh mengejan sekuat tenaga. Sampai akhirnya .. bayi perempuan bernama Ruqayyah Nawarah Hakim pun terlahir di jam 17.20.

Jika dimasa depan kamu membaca kisah ini nak, ketahuilah, bahwa kamu pernah mengerjai ibu dan abah saat ingin dilahirkan :D

 

eh sekarang bocahnya udah segede ini  ya Allah..

Eh kisah ini masih berlanjut di postingan selanjutnya, saya kepingin cerita kenapa suami takut banget saya hamil lagi, tapi saya bobok dulu ya..

Post a comment

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)