Menu

Sunday, 19 June 2016

/



Dari kecil saya ini sering berpindah-pindah tempat tinggal, ini dikarenakan bapak saya yang seorang pegawai pemerintah harus mengabdi dulu untuk daerah, lalu jika ilmu dan jabatan dirasa sudah cukup nantinya akan dipindahkan lagi di pusat. Pemikiran saya sih dulu gitu, karena waktu kami pindah ke daerah keadaan ekonomi kami biasa-biasa saja. Dan daerah yang sudah saya singgahi untuk ditinggali adalah Bekasi-Samarinda-Balikpapan, 
Saya lahir di Bekasi, kelas 3 SD pindah ke Samarinda, lalu pindah lagi ke Balikpapan dari kelas 4, dan saya besar juga menghabiskan masa remaja di Balikpapan. Kelas 3 SMA saya pindah lagi ke Bekasi. Sebetulnya ketika semester 5 waktu kuliah bapak dipindahkan lagi ke Balikpapan tapi saya nggak ikut, ya iyalah udah gede.. saatnya bebas dari kungkungan dan otoritas orangtua, lagipula kalau ikutan pindah saya mau kuliah dimana, yang setara dengan pendidikan saya? Setahun kemudian orangtua saya balik lagi ke Bekasi dan menetap sampai sekarangNah saya pikir, udahan nih saya nggak pindah-pindah lagi. Ealah.. ternyata Allah menjodohkan saya dengan laki-laki yang juga bekerja di pemerintahan. Okelah ini siap lagi dong ya pindah-pindah. Calsu *calon suami* yang ternyata temen SMA saya di Bekasi ini mengaku bekerja di Ambon, itu artinya sehabis menikah saya ikut dengan dia merantau.Saya sih saat itu mikirnya, asiiik niiih pindah lagi, itu artinya saya bisa jalan-jalan dan kenal daerah orang. Karena Ambon kota yang belum pernah saya datangi saya masih meraba-raba dong ya bagaimana keadaan di sana.Seminggu setelah menikah, saya pun menyusul suami yang sudah berangkat duluan. Kami mengontrak rumah di daerah Kebun Cengkeh, sebagaimana daerah timur yang kurang mendapatkan perhatian Pemerintah, daerah ini sering sekali mendapat ‘perlakuan’ nggak enak. Contoh, pada tahun 2010 mati lampu bisa seminggu 3x, dan mati lampunya bisa lama 8 jam sehari. Kalau sudah mati lampu yang saya ingat waktu itu saya akan menghabiskan waktu di jalan dengan suami, pulang sampai lampu nyala, ini sih masih mending waktu tahun 2009 mati lampu 12 jam SETIAP HARI, untung saya belum nikah waktu itu. Tidak hanya itu, air di tempat kami tinggal nyala 2 hari sekali, beruntung bak kamar mandi kami besar dan penampungan ada. Tapi pernah juga loh, kami sampai mandi di tempat orang gara-gara air yang kami punya nggak cukup :D, apakah saya menderita dengan keterbatasan ini? awalnya sih iya, tapi lama kelamaan nggak tuh, saya merasa betah banget tinggal di Ambon, nantilah ya saya ceritakan di akhir. 
kota Ambon

Apakah saya nggak pindah lagi?
Pindahlah, tahun 2012 suami saya mendapatkan beasiswa S2 di UNHAS dan itu artinya kita harus pindah ke MAKASSAR, kira-kira bulan September 2012 saya pindah ke Makassar, menetap di sebuah kamar kecil dengan kamar mandi di dalam, karena mikir kalau ngontrak rumah harus ada barang sedangkan kuliah ini kan cuma sebentar jadi ya kita lebih milih guest house untuk tempat tinggal karena semua fasilitas sudah ada. Cuma di Makassar saya merasa tidak betah, ya bayangin aja siapa yang kerasan dengan kamar ukuran 4x5 meter sendirian, hanya nonton TV seharian nggak ngapa-ngapain, nggak bisa masak *masak hanya bisa di rice cooker dan menu yang bisa diolah terbatas* nggak nyuci karena ada fasilitas laundry murah, Cuma nyapu, ngepel, habis makan tidur, wah sebulan pertama sungguh saya stress. Beruntung saat itu saya sudah punya smartphone dan laptop, waktu luang bisa saya manfaatkan semaksimal mungkin dengan memperdalam ilmu mengetik saya. 3 bulan di Makassar saya hamil, Alhamdulillah banget saya akhirnya bisa pindah kerumah orangtua, saya melahirkan dan membesarkan Naqib sampai 2 tahun kurang di Bekasi. Dan Juli 2015 kemarin saya pindah lagi ke Ambon dan menetap sampai sekarang, kali ini saya tidak tinggal di Kebun Cengkeh lagi *karena biaya kontrak rumah yang di Kebun Cengkeh sudah 12 juta setahun, pingsan lah ya*, suami mengontrak rumah di daerah STAIN *daerah ini ada kampus islam bernama STAIN, jadi dinamai daerah STAIN*, di tempat saya tinggal air ngalir 3 hari sekali tapi masih lebih wajar daripada di Kebun Cengkeh, karena di STAIN air nyala seharian pas waktunya air ngalir*, nah di daerah tempat saya dulu tinggal Kebun Cengkeh air sudah nyala 1 minggu 1x. yah begitulah Ambon, memang merantau itu ada minus-plusnya. Tapi bagi saya Ambon ini adalah zona nyaman dan lebih nyaman dari Ibukota, mengapa begitu? 
  • Ambon ini hanya kota kecil, dan penduduknya juga tidak terlalu banyak. Tapi cukup ramai untuk daerah yang tengah berkembang, jadi lalu lintas kota juga tidak terlalu ekstrim. Udara bersih dan enak pokoknya untuk paru-paru, yang jelas nggak pernah keliatan macet parah. Macet sih pasti, tapi kalau sampai parah itu nihil
  • Masih adanya hutan kota sebagai paru-paru kota. Di banyak tempat Ambon memiliki pohon-pohon rimbun, dan ini sejuk sekali walaupun Ambon daerah yang panas *tapi kata suami saya Bekasi lebih panas dari Ambon, dia bisa stress kalau kena panas di Bekasi*
  • Walaupun panas, sekalinya hujan Ambon ini ekstrim. Bahkan lebih ekstrim daripada Bogor yang dijuluki kota hujan, tau nggak? Pas masuk musim hujan, kota Ambon bisa hujan seharian dan itu nggak tanggung-tanggung deras meeeen, bahkan kalau keluar udaranya lebih dingin daripada puncak. Saya yakin jika Jakarta punya curah hujan seperti Ambon, sekali guyur nggak cuma Banjir di daerah tertentu, bisa-bisa seluruh Jakarta terendam.
  • Untuk pasangan muda seperti saya yang baru menikah 6 tahun rasanya seneng kalau setiap saat bisa ketemu suami. Nah Ambon ini kan kemana-mana dekat ya, kantor suami pun dekat. Jadi kalau pergi ke kantor bisa jam 7 dari rumah *kalau tinggal di Bekasi mungkin harus dari subuh langsung berangkat, karena suami bakalan ngantor di Jakarta*, makan siang dirumah *mungkin kalau sudah di Bekasi, nggak ada acara makan siang di rumah*, habis maka siang suamiku masih bisa bobok dan bercanda bareng anak *mungkin kalau tinggal di Bekasi ini nggak akan terjadi*, sore jam setengah 5 atau jam 5 sudah dirumah *mungkin kalau tinggal di Bekasi bisa-bisa habis maghrib pulang* zona nyaman seperti ini yang bikin suami saya mikir 1000x buat pindah
  • Ambon adalah daerah timur dengan perairan sangaaat indah, dan saya pecinta pantai. Saya tergila-gila kalau liat laut, cuma duduk dibelakang pasar aja saya bisa liat laut yang biru. Di Jakarta saya harus datang kemana dengan jarak yang dekat seperti ini?
kota Ambon
Ini pantai ada di tengah kota


  • Tingkat kejahatan disini rendah, tingkat pencurian curanmor juga rendah. Misalnya orang mau nyuri motor, yang nyuri mungkin bisa kabur tapi motornya bisa cepet ditemukan, lah iya si motor mau lari kemana? Kemana-mana kudu naik kapal dan pesawat, misalnya aja nyebrang pulau, belum kabur polisi pasti udah dapat, beda dengan di Jawa. Sekali nyolong si copet mungkin bisa dengan segera bawa kabur sampai pulau jawa. Sering kali motor kami lupa dimasukkan ke dalam, Alhamdulillah sampai pagi si motor tetep cantik, bahkan ini ya kalau kami datang ke Mal, helem itu nggak perlu dititipin, tarok aja di atas spion, mau sampai malem juga nggak ada yang ngambil itu helem. Coba di Jakarta, pager lupa nggembok aja, semenit motor hilang. Ini kadang yang bikin kita males tinggal di Ibukota
  • Penduduknya ramaaaah banget, kalau banyak yang bilang orang Timur itu keras kalian salah. Memang kalau ngomong mereka intonasinya keras kayak orang ngajak berantem, tapi dari sisi hati mereka lembuuut banget. Mereka nggak segan bantu kalau kita butuh pertolongan
  • Yang lebih utama, saya senang tinggal di Ambon karena jauh dari hiruk pikuk orang-orang yang suka mencampuri kehidupan saya, ini yang terpenting. Saya bebas melakukan apa saja tanpa banyak kritik, saya bebas ngapain aja tanpa bisik-bisik tetangga. Karena tetangga saya disini baik-baik, mungkin karena senasib sepenanggungan, sama-sama ngerantau jadi ngerasa ‘ngapain ngurusin orang, gue juga susah dimari’ hihihi..
 Walaupun saya akui, Ambon ini minim sekali fasilitas, ternyata kebersamaan dan waktu itu nggak bisa dibeli dengan fasilitas mahal sekalipun. Memang tinggal di Ambon ini kita harus berkorban bayar kontrakan dan ticket PP kalau mudik *tetangga saya bahkan ada yang rela tidak pulang demi ngumpulin duit*, hal ini sebanding dengan waktu dan semuanya yang saya ceritakan di atas.Di Bekasi kita memang dekat dengan orangtua dan sudah ada rumah yang sudah bisa ditempati, tapi saya yakin kalau pindah ke Bekasi waktu dan kebersamaan bisa sedikit berkurang, soal keamanan dan udara bersih juga menjadi pertimbangan, hal ini yang bikin saya dan suami mikir ribuan kali mau pindah, apakah bisa meninggalkan zona nyaman ini dan beralih pada zona ekstrim?  



Menjelang makan malam, 
Ramadhan ke 14-lagi haid, nulis ajalah daripada nggak bisa shalat T_T-


6 comments

Orang timur emang ciri khasnya gitu ya? Yang belum ngerti pasti kaget.. Kadang udah kalah gertak dluan sama suara.. hihi..

Reply

Hahaha.. iyah pernah aku kurang bayar angkot diteriakin, "Hooooooooii, bayar ini kurang kaka!" gemeteran langsung, tapi lama2 biasa aja sih hehe

Reply

Saya mengakui bahwa wilayah timur Indonesia sungguh mempesona. Salah satunya Ambon
wuahh..mba Hebat y..bisa berpindah2, sanggup setiap saat utk beradaptasi dgn lingkungan baru dalam waktu singkat

Reply

iya tapi gara-gara sering pindah jd ga punya temen tetap T_T

Reply

Semua memang plus minus ya mba :). Dulu pas aku msh di banda aceh, itu jg steess gila ama mati lampunya yg bikin sedih... Tp setidaknya di aceh makanan enak2, murah2, temen banyak, g ada macet.. Pas pindah k jkt, walo daerah rumahku ga prnh mati lampu, kalopun mati paling cm 10 menit dan setahun paling cm sekali, tp macetnya yg bikin nangis :p. Mana kalo pergi kntor pagi2 buta, dan pulang malam supaya macetnya rada berkurang :D

Tp namanya aku cari duit di ibukota... Ditahan2in deh.. Syukur bisa bertahan 10 thn skr ini :)

Reply

Iya, Aceh juga enak dan nyaman tempatnya. Aku waktu ke Aceh berasa seneng banget soalnya nggak macet, nggak polusi, cuma panasnya nggak nahan yak :D

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...