Menu

Saturday, 3 February 2018

/


Ada dua bahaya yang mengancam anak-anak di Indonesia, yang pertama gizi buruk, yang kedua adalah stanting. Jika gizi buruk hanya dapat mengancam penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan, Stanting dapat mengancam semua anak di lapisan masyarakat, tidak perduli dia kaya atau miskin, anak pejabat atau bukan, yang jelas Stanting ini mengancam semua anak-anak Indonesia, termasuk anak saya di rumah.


Hari Rabu, tanggal 24 Januari 2018 kemarin, bertempat di Bunga Rampai Jakarta saya menghadiri diskusi bersama Tempo dalam acara Ngobrol@Tempo, diskusi yang bertajuk “Bibit unggul untuk Indonesia Hebat : Mencegah Stunting, Meningkatkan Daya Saing Bangsa ini” menghadirkan beberapa nara sumber, diantaranya Fasli Jalal, Sri Enny Hartati (Direktur Institute for Development of Economics and Finance) dan Yanuar Nugroho (Deputi II Kepala Staf Presiden), membahasa banyak hal tentang stanting dan solusinya.


Apa itu Stanting?
Stanting adalah kekurangan gizi pada balita yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Saat ini, bahaya stanting telah mengancam nyaris 9 juta anak Indonesia. Atau lebih dari 1/3 balita di Indonesia mengalami stanting. Pasti emak-emak yang dirumah langsung melirik anaknya dan was-was, kok bisa anak-anak di Indonesia ini mengalami stanting?

Penyebab Stanting
“Ah padahal anak saya makan kok tiap hari, kok masih bisa stanting?” penyebabnya bukan pada makan dan tidak makan bunda. Tapi apakah bunda sudah memperhatikan gizi yang terkandung dalam piring nasinya? Mari kita telusuri kenapa anak-anak di Indonesia bisa terkena stanting. Padahal makanan lokal di Indonesia sangat melimpah ruah,

1.                  Apakah bunda sudah memperhatikan kecukupan gizi pada 1000 hari pertamanya?
1000 hari pertama anak dimulai sejak anak masih di dalam kandungan sampai menginjak usia 2 tahun. Waktu hamil apa yang dimakan bunda? Bakso? Mie? Jajan diluar? Dan makanan yang tidak berfaedah lainnya, bahkan kurang mengkonsumsi buah dan sayur. Ternyata kecukupan gizi dimulai sejak anak masih di dalam kandungan, apa yang dimakan bunda saat hamil, itulah yang menentukan perkembangan anak ke depannya. Ibu hamil, harus makan makanan yang bergizi seimbang, terutama makanan bersumber protein hewani, agar janin selalu sehat dan bayi lahir selamat. Hindarilah makanan yang hanya enak di mulut tapi tidak enak di perut, karena ini hanya membahayakan janin.
Waktu hamil dulu saya nggak tau apa itu stanting, dan dampaknya kedepan, tapi saya berkeyakinan kalau saya makan yang bergizi bayi saya akan sehat. Saya buang jauh-jauh badan melar, saya makan apapun selagi sehat, perbanyak buah dan sayur, vitamin omega 3, minum air banyak, meng’haramkan’ mie, bakso dan jajan diluar, eh Alhamdulillah tidak ada kendala selama hamil dan besar Alhamdulillah Naqib sehat dan jarang sakit.
Nah setelah melahirkan kecukupan gizi lainnya yang harus dipenuhi adalah ASI, susui bayi sampai usia 6 bulan, karena ASI menyimpan banyak sekali gizi dan protein yang dapat membuat bayi tumbuh sehat. Selama menyusi saya juga tetap mengharamkan makanan-makanan tidak berfaedah, saya berkeyakinan, air susu yang diminum bayi akan lebih sehat jika saya makan-makanan yang menyehatkan. Naqib tumbuh montok dan ceria.

Naqib 5 bulan, dan dia montok sekali

Setelah 6 bulan berikan makanan pendamping bayi sampai ia usia 2 tahun. Sedikit cerita sih, dulu Naqib full ASI, tapi pernah kena anemia, gara-gara saya kurang ilmu dalam pemberian MPASI, dulu Naqib doyannya hanya kentang, wortel, keju dan ubi. Sangat nggak bervariasi saya pikir ini sudah tercukupi gizinya ternyata belum, nah ya udah deh dia terkena Anemia, syukurnya Naqib nggak terlalu lama kena anemia karena saya cekatan memeriksakan perkembangannya ke dokter dan saya kejar kemudian kecukupan gizinya, syukur sekarang dia mau makan apa saja, dan saya bisa mengejar tinggi badannya. Dan Naqib tidak masuk dalam kategori anak stunting di usianya yang 4 tahun tingginya sudah 110cm ^^,

2.      Apakah bunda sering menstimulus bayi dan balitanya?
Penyebab anak stanting berikutnya adalah karena kurang stimulus dari orangtuanya. Anak jarang diajak bercerita, bercanda dan disentuh. Akibatnya otak kurang mengerti respond dan kurang diajak berfikir. Akibatnya perkembangan otak dan fisiknya bisa terhambat. Orangtua perlu mempunyai waktu khusus pada anak, sejam saja sudah cukup dengan mengajaknya bermain, anak merasa ada yang menemani.

3.      Kurangnya kebersihan pada tempat tinggal
Banyak rumah-rumah yang tidak memiliki jamban sehat, artinya kotoran tidak dialirkan pada wadah pembuangan. Akibatnya banyak kotoran manusia yang tidak tertimbun, dan ini jika dibiarkan dapat menyebabkan menyebarny telur-telur cacing yang akan membuat banyak anak terkena cacingan. Anak-anak akan rentan terkena penyakit. Anak cacingan dapat menyebabkan perkembangannya terhambat

4.      Kurangnya ilmu terhadap asupan gizi
Banyak orangtua menganggap, kalau anak mau makan itu saja sudah cukup. Padahal kita tidak tahu apa gizi yang terkandung dalam piring nasinya. Misalnya, anak diberikan nugget setiap hari asal anak mau makan. Hal inilah yang dapat menyebabkan anak kekurangan gizi, karena dalam piring nasinya, anak harus mendapakan banyak sekali asupan gizi. Jika anak kekurangan gizi maka pertumbuhannya akan terhambat (stanting), di masa sekolah anak akan sulit berprestasi. Yang fatal, di masa dewasa akan mudah menderita kegemukan, sehingga beresiko terkena penyakit jantung, diabetes dan penyakit degenerative lainnya.

5.      Medan dan lokasi yang sangat sulit terjangkau tenaga medis
Dalam kasus gizi buruk di Papua, atau gizi buruk di daerah-daerah terpencil. Pemerintah sudah berupaya mengirimkan tenaga medis ke sana. Pemberian bahan makanan dengan menggunakan heli sampai pemeriksaan berkelanjutan kepada para warga. Namun terkadang, medan yang sangat sulit ditempuh menyulitkan penyaluran semua ini. Jadi, pemerintah tidak pernah abai dalam hal ini, mungkin kita saja yang tidak mengerti kondisi di lapangan. Pemerintah selalu berupa memeratakan bantuan bagi daerah-daerah tertinggal


Kasus stunting ini tidak hanya mengancam keluarga miskin, namun keluarga kaya dan berada sekalipun anaknya dapat terkena stunting, jika abai memeriksakan perkembangan anak, atau abai terhadap pemberian makan terhadap anak. Pemerintah Indonesia tentunya sudah melakukan berbagai usaha untuk dapat menurunkan tingkat stunting pada anak dibawah umur dua tahun dari 37% pada tahun 2013 menjadi 28% di 2019. Angka stanting yang tinggi juga dapat merugikan perekonomian negara dalam jangka panjang. Menurut studi Grantham-McGregor (2007) anak yang terkena stanting berpotensi memiliki penghasilan lebih rendah sekitar 20%, dibandingkan anak yang tumbuh optimal. UNICEF memperkirakan stunting juga bisa menyebabkan pendapatan Domestik Brut merosot 3%. Sedangkan analisis Qureshy tahun 2013 mengatakan stunting dapat merugikan Indonesia sampai 300 triliun pertahunnya. Ini mengerikan ya?

Agar peningkatan kesehatan dan gizi terwujud, tentu saja semua phak perlu mendukung program-program yang diminta pemerintah diantaranya :
  1. Pemberdayaan masyarakat, pemerintah memantau kecukupan gizi sampai ke pelosok desa, dengan menyelenggarakan dan menguatkan layanan posyandu dan kelas ibu dengan dana desa.
  2. Pelatihan tenaga kesehatan, pelatihan ini termasuk di antaranya pelatihan konseling pemberian makan bayi dan anak, pelatihan sanitasi total berbasis masyarakat
  3. Pemberian suplemen gizi mikro untuk ibu dan balita, pemerintah memastikan ketersediaan tablet tambah darah, vitamin A dan obat cacing di fasiitas-fasilitas kesehatan.
  4. Memfasilitasi keluarga untuk memilki dan menggunakan jamban sehat serta mengkonsumsi air minum yang aman. Angka diare anak yang keluarganya tidak memiliki jamban sehat (buang air besar sembarangan) 66% lebih tinggi dibanding anak yang memiliki kamar mandi di dalam rumah. Hal inilah yang dapat menyebabkan anak menjadi cacingan
  5. Upaya perubahan perilaku dan advokasi terhadap berbagai pemangku kepentingan, semua hal diatas tidak akan terlaksana dengan baik jika perilaku masyarakat tidak kondusif. Maka dari itu diperlukan kerjasama dengan masyarakat, media dan semua pihak.

Anak pendek tidak melulu stanting, sebab genetis orangtuanya bisa menyebabkan anak bertubuh mungil. Misalnya BJ.Habibie, pak Habibie itu cerdasnya luar biasa kan? Tapi tubuhnya mungil, apa beliau stanting? Tidak, beliau demikian karena faktor genetis. Namun orangtua tetap harus waspada jika anak tidak optimal perkembangan tubuhnya, segera bawa anak ke dokter anak terpercaya untuk dikonsultasikan lebih lanjut, agar anak terindikasi stanting, orangtua bisa mengejar ketertinggalan tinggi tubuhnya. Tentunya kita ingin dong anak tumbuh optimal :)
Kedepan, jika anak-anak tumbuh dengan optimal, bisa dipastikan Indonesia akan baik perkembangannya dalam hal ekonomi. Semangat ya parent’s… laff

16 comments

apa yang dimakan anak emang harus bener2 diperhatikan. 4 sehat sempurna harus masuk dan seimbang. selain itu kebersihan juga penting.

Reply

Iya, dmi mewujudkan generasi emas mba

Reply

Kasus stunting memang ga boleh dianggap enteng neh

Reply

Diperlukan kecerdasan org tua utk mengolah makanan berikut sanitasi supaya kondisi stunting ini gak berlanjut di kemudian hari, miris ya pdhl Indonesia bumi kaya akan tumbuhan dan lautnya

Reply

Jaman dulu kalau sudah tahu istilah stunting, pasti beta diledek terus. Hehhe. Tapi teryata skarang baru tahu kalau kecerdasan juga terengaruhi akibat stunting ya

Reply

Makanan untuk anak emang harus diperhatikan gizinya yaa, jangan asal dikasih makan.

Reply

Betul nih mbak, kadang uga anak pendek dari gen dibilang kurang gizi, padahal bapak emaknya eang keturunan pendek.

Reply

Ilmu seperti inilah yang penting dan dibutuhkan orang tua, tak jarang dari mereka yang tidak mengerti hal ini

Reply

Penting bgt ya edukasi tentang gizi seimbang

Reply

Betul sekali, kudu waspada ya ceu

Reply

Itulah, kemudian yang menjadi pertanyaan, salah ibu apa salah Indonesia?

Reply

tapi kk Alida ini so pasti pintar ee.. jd mangkali bukan stunting tp faktor gen

Reply

hehehe.. nah saya ini kayaknya yg stunting, sebab bapak ibu nggak pendek-pendek bngt

Reply

Orangtua jaman now memang harus banyak baca :(

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...