Menu

Friday, 18 January 2013

/
Mencoba menarik benang lurus dari peristwa banjir ini, koreksi jika saya salah..

Penyebab curah hujan tinggi di Ibukota  >_<

Saat ini di pulau jawa sedang terjadi fenomena daerah pertemuan angin atau tropical convergence zone. Yang artinya, ada pertemuan dua jenis angin dalam satu wilayah.
"Trade winds (atau disebut juga angin passat) adalah pola umum angin timur yang ada di daerah tropis dekat equator/ garis khatulistiwa. Angin passat adalah angin bertiup tetap sepanjang tahun dari daerah subtropik menuju ke daerah ekuator," ungkap penjelasan dari situs IlmuTerbang.
"Di sekitar khatulistiwa, kedua angin passat ini bertemu. Karena temperatur di daerah tropis selalu tinggi, maka massa udara tersebut dipaksa naik secara vertikal (konveksi). Daerah pertemuan kedua angin passat tersebut dinamakan Daerah Konvergensi Antar Tropik (DKAT), Pola-pola angin dari arah utara dan selatan cenderung berkumpul, yang kemudian mengakibatkan awan-awan penyebab hujan muncul di daerah yang dilaluinya. Fenomena ini yang mengakibatkan curah hujan tinggi, yang saat ini didukung oleh siklus periodik musim hujan yang mencapai puncaknya pada Januari 2013 ini. Dan menurut BMKG si angin betah berlama2 di Jabodetabek. Maka dari itu mengapa curah hujan muncul tak seperti biasanya, deras dan lama. Waspada saja, si angin masih bertamu sampai awal Februari.


Penyebab banjir Ibukota..

Seperti yang kita ketahui, pertumbuhan ekonomi terbilang pesat di Jakarta. Hampir semua yang tergiur mencari uang dengan mudah berbondong2 datang ke Jakarta. Jadi bisa dikatakan, isi penduduk Jakarta itu mayoritas adalah pendatang. Laju pertumbuhan penduduk yang begitu pesat akhirnya memaksa Jakarta bekerja ekstra keras, membangun perumahan, mall, apartemen sampai  tidak adanya lagi tanah resapan. Hal ini juga yang menyebabkan terjadinya penurunan tanah dengan sangat cepat dan membuat keseimbangan ekosistem dikorbankan.
Selain itu tidak adanya sistem drainase yang baik membuat hujan yang turun tidak bisa lari kemana2 (ya habisnya mau nyerap kemana?), dan akhirnya air yang turun jadi tergenang disitu2 aja. Banjir deh..
Dan ingat, banjir di Jakarta sudah terjadi sejak ratusan tahun lalu sejak jaman Hindia Belanda, kurang lebih tahun 1900an, jadi kita yang anak baru ini tahu apa masalah banjir?

Gubernur, pemerintah, sampai presiden disalahkan..
Banjir ini benar2 masalah klasik. Bayangkan saja dari tahun 1900 sampai sekarang  pun banjir belum bisa ditangani dengan baik. Jadi mau ganti berapa kali presiden, atau gubernur, selama tidak ada kesadaran dari diri kita untuk menjaga ekosistem dengan baik, banjir akan terus menerus menghadang.  Coba ingat sudah berapa kali kita ganti gubernur? Apa yang dulu kita katakan pada Sutiyoso? “Pak bisa nggak sih ngatasi banjir?” terus berlanjut pada si kumis, eh sekarang kena imbasnya Jokowi yang notabenenya belum ngerti apa2. Memangnya banjir baru dimulai tahun ini sampai kita harus menyalahkan gubernur yang baru? Seandainya saja para pengeruk keuntungan itu mau mendirikan kantor2nya bukan di Jakarta  dan menyebar di seluruh Indonesia pasti pemerataan pembangunan tercapai saat ini (woi, mikir mah gampang, emang biaya tiket murah bolak-balik Jakarta buat laporan ini itu.). Yah..coba saja lihat. Pergi saja ke daerah, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi sampai Papua masih banyaaak lahan kosong yang bisa di manfaatkan untuk pembangunan. *jika para investor itu mau sedikit saja berkorban loh ya. Apa bedanya mendirikan kantor di pusat sama di daerah? Apa bedanya memanfaatkan putra daerah dengan orang Ibukota, toh gara2 kantornya di Jakarta putra daerah juga banyak yang merantau ke Jakarta kan? Gara2 banyak yg merantau, lahan semakin sempit kan buat tempat tinggal? Daripada akhirnya mengorbankan Jakarta untuk didirikan ini itu..lahan semakin sempit, banjir dimana2. Apa bedanya Jakarta dengan kota lain? Sama2 Indonesia, hanya berbeda status saja. Yang satu Ibukota yang satu daerah.
Secara khusus jika berfikir singkat dan mau enaknya saja pemerintah tidak bisa disalahkan *misalnya, tolong tangani banjir setahun ini!*. Tapi jika berfikir secara umum, pemerintah memang wajib disalahkan, *missal, kenapa Cuma Jakarta saja yang ditumbuhi gedung2 bertingkat*

Dimanfaatkan lawan politik..
Ckckck.. disaat banjir kayak begini. Lawan politik yang kalah pada pemilu kemaren putar otak. Mumpung banjir inilah saat yang tepat menjatuhkan lawan politiknya, terutama yang menjadi gubernur sekarang. Saya mencoba berfikir relevan saja, banjir yang melanda Ibukota pun dikambinghitamkan, gubernur yang ‘masih bayi’ itu ditantang untuk mengatasi banjir yang sudah ada sejak ratusan tahun silam. Gila apa? Emangnya dia malaikat. Manuver politik pun bermunculan, semua merasa paling benar dan yang benar disalahkan. Yang berusaha menolong dibilang pencitraan *yah walaupun kita tidak tahu siapa hati2 yg bersih, tapi berusaha berfikir positif itu apa salahnya?* biar saja dia pamer nyumbang2, toh dosanya dia sendiri yang nanggung kalaupun ingin pamer, kita kok jd repot ngomentarin. Takut pemilu tahun depan ga ada suara, gara2 kalah saing?? Hadeuh ini banjir bung, masih sempet2nya mikirin suara.
Seperti sebuah partai yang punya stasiun televisi, bertanya pada masyarakat “Banjir ini yang patut disalahkan siapa,” bodoh bener yak pertanyaannya. Ada lagi, gara2 tak boleh pakai atribut partai ketika mendirikan posko, salah satu partai geram. Loh kok, beramal riya? Nyumbang mah nyumbang saja nggak perlu pakai atribut ini itu. Tanpa sadar loh, gara2 politik yang tadinya kita ingin bersih mendadak jadi ‘kotor’ tidak terfikirkan ini apa?

Banjir tidak hanya di Jakarta.. INGAT!
Apa pernah banjir melanda selain Ibukota? Pernah kan? Hampir semua daerah pernah merasakan banjir. Jadi janganlah menyalahkan Ibukota hanya gara2 banjir. Di desa yang notabenenya banyak tanah resapan saja bisa kok mengalami banjir. Saya pernah baca artikel, kira2 bunyinya begini “Banjir adalah kegiatan alam yang pasti terjadi di bagian utara Pulau Jawa. Hal ini karena elevasi yang rendah. Bahkan beberapa lokasi berada di bawah muka air laut rata-rata. Tak mengherankan, jika akhirnya daerah Utara Jawa menjadi lokasi pembuangan air yang berasal dari Bagian Selatan Pulau Jawa. Belum lagi jika air laut pasang, maka air laut itu akan masuk ke daratan. Masalah Banjir ini menjadi problem sendiri bagi penduduk di Pesisir Utara Pulau Jawa, seperti Banten, Jakarta, Karawang, Brebes, Semarang dll. Nah jadi kita yang tinggal di pulau Jawa ini kudu siap mental jika sewaktu-waktu banjir datang.

Saya menyalahkan semuanya.. Biarin!
Siapapun yang tidak berperan aktif dalam pelestarian bumi adalah penyebab timbulnya masalah bencana termasuk saya sendiri jika tidak sadar. Ingat salah satu ayat, kerusakan yang terjadi di muka bumi ini adalah ulah tangan manusia sendiri. Yah, saya menyalahkan semuanya. Tidak terfokus pada satu orang saja yaitu pemimpin. Masyarakat salah jika tidak berperan aktif membantu pemerintah *tidak usah dikasih tau apa tugas kalian, jika kalian peka pasti tau cara melestarikan bumi*, tidak ketergantungan dan punya kesadaran aktif.
Para investor salah jika terus memaksakan laju pertumbuhan ekonomi dan mengeruk keuntungan tanpa melihat sudut pandang yg lain
Pemerintah juga salah jika tidak tegas membantu pemerataan penduduk. Pokoknya semua salah…! Dan kita, tidak pantas menyalahkan Tuhan, hanya satu zat itu yang tidak boleh disalahkan.

Wah panjang banget yak curhat saya.. :D


Nah, Desember, musim hujan telah datang siap-siap banjir datang. Lalu siapa lagi ya yang pantes disalahin sekarang?
2 comments

iya, ibukota penduduknya sudah banyak

ya sudah, semoga mas ryan ditempatin di Malang

aamiin Ya Allah

itung2 mbantuin pak jokoway :p

Reply

Amiiin, sing penting akur ya nduk

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...