Menu

Friday, 15 June 2012

/
Alhamdulillah.. entah rasa syukur apa lagi yang harus saya ucapkan mengingat suksesnya penyelenggaraan MTQ nasional di kota Ambon.

Seperti yang kita ketahui, dulu di tahun 1999 Ambon pernah mengalami konflik sara yang berkepanjangan. Bahkan sampai meninggalkan trauma yang mendalam bagi masyarakatnya. Sehingga tidak mungkin jika kemudian pemukiman kami menjadi terkotak-kotak.-serius ini- Bahkan di tahun 2011 kemarin konflik itu sempat meletus kembali. Beruntung masyarakat Ambon sekarang lebih bijak memaknai konflik. Mereka sudah capek melihat banyak korban berjatuhan, sudah capek musuh-musuhan, sudah capek bangun rumah yang terbakar. Semuanya bikin capek.. jadi konflik kemarin itu mudah-mudahan yang terakhir terjadi. Yah, saya hanya pendatang. Saya tak mengerti perasaan di kedua belah pihak yang mengatakan, “Walaupun sudah damai, rasanya seperti masih ada jarak,” entah jarak apa, saya tak bisa memaknai pernyataan itu. Bagi saya yang pendatang, agama papun harus akur. Karena berfikir seperti itu, jadi saya merasa enjoy saja tinggal di Ambon. Hmm.. apa mungkin karena saya tidak merasakan sendiri konflik itu.
Dan moment MTQ ini adalah salah satu moment yang membuat banyak orang cemas. Setelah terjadi konflik kemarin banyak pihak yang pesimis, “Bisa nggak ya sukses?” bahkan di salah satu status peserta MTQ, ada yang berkomentar “Hooi, Ambon gimana? Aman ga?”.


Perlu diketahui, beberapa hari sebelum khafilah berdatangan. Ada bentrok lagi di Ambon. Sekitar tanggal 15 Mei, di malam hari, -yah kalo saya cerita kepanjangan, sebaiknya kalian cari sendiri beritanya mengenai ‘obor Pattimura’ di google-. Gara-gara konflik tersebut membuat kami kembali pesimis, bisa nggak yaaa...

Menjelang kedatangan khafilah, para personel TNI –ga tanggung2 TNI- diturunkan di beberapa titik rawan, katanya kalau ada yang berulah entah dari agama apapun akan ditembak ditempat.
Menjelang acara MTQ pun, gubernur kami Karel Albert Ralahalu lebih banyak terjun ke lapangan dengan Wakilnya, pak Said Assagaf. –dari namanya sudah ketahuan ya, betapa akurnya mereka-meninjau lokasi, penginapan, dan semua titik acara.
Tapi entahlah, mungkin berkat kerja keras gubernur dan wakil gubernur, mereka berhasil membuat masyarakat Ambon bersatu padu ikut mensukseskan acara ini. Semua kalangan diminta ikut berpartisipasi, contohnya saja, UKIM (universitas kristen Maluku) tempat ini dijadikan salah satu tempat perlombaan MTQ. Rumah keuskupan, -entah saya lupa namanya uskup siapa- kediaman beliau juga menjadi tempat tinggal beberapa kontingen dari Banten. Tidak hanya itu, semua panitia pun dipadukan, tidak melulu orang muslim saja. Mereka diajak bertanggung jawab mensukseskan acara.
Suami saya cerita, tempatnya bekerja bertanggung jawab menjaga Khafilah dari Jawa timur. Koordinator panitia untuk khafilah Jawa Timur beragama khatolik. Tapi tanggung jawabnya luar biasa, besar sekali. Beliau setiap hari menelpon para panitia untuk siaga setengah jam sebelum acara, bahkan katanya beliau juga hadir dan mendengarkan pertandingan MTQ di beberapa titik hanya untuk memantau kinerja para panitia. Wah sumpah saya terharu sekali.
Karena suksesnya ini, pak Karel dipuji-puji banyak kalangan, karena berhasil membuat event besar keagamaan berjalan dengan sukses dan mulus tanpa halangan dan ujian.
Jadi sesungguhnya menyelenggarakan event ini dikota yang pernah terjadi masalah adalah sesuatu hal yang luar biasa. MTQ di jakarta? Di Makassar? Ah biasa, tapi di Ambon? Luar biasa sekali. Bahkan kata pak Karel membangun Maluku pascakonflik kemanusiaan yang terjadi beberapa tahun silam bukanlah sesuatu hal yang mudah. Membangun Maluku bagaikan berlayar di tengah terjangan badai dan gelombang yang membutuhkan harapan dan cita-cita yang kuat. Dan ini sudah terbukti kita sudah solid kembali lewat moment MTQ nasional. Subhanallah..subhanallah..

Jadi kalian, jangan lagi mengidentikkan Maluku sebagai daerah konflik. Momentum MTQ membuktikan kepada kita bahwa Maluku sangat aman dan damai,”  Bahkan pak karel sendiri berdoa, “Mudah-mudahan adanya MTQ ini menjadi jembatan emas kerukunan umat beragama di kota Ambon,” Amiin paaak... so, pesan saya. Jangan lagi mendengarkan atau membaca berita-berita di TV atau media yang bisanya hanya memprofokasi yang baca.
Saya jadi ingat, beberapa teman bahkan mengkhawatirkan keberadaan saya di Ambon, “Ih plis deh, jangan lebay. Jangan kemakan berita. Kalo sampai detik ini saya bisa pesbukan tandanya saya dalam keadaan sehat walafiat”
Begitulah, negeri para raja ini bercerita. Saya yakin, para khafilah pulang dengan membawa segudang cerita indah tentang kota Ambon yang pernah menjadi daerah konflik.. Selamat jalan khafilah-khafilah hebat, semoga menjadi kenangan tersendiri di hati kalian :)

Semangat menyatukan pela gandong
Ambon, 15062012
2 comments

Wuaaaah jadi keinget masa lalu :D salam manise banget :D

Reply

hao terimakasih sudah mampir

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...