Menu

Monday, 11 June 2018

/




Mom War alias persaingan ibu-ibu nggak pernah berakhir, nggak di medsos, nggak di jalan, di rumah, dengan tetangga, saudara, ipar bahkan orangtua sendiri sering terjadi. Saya belum pernah denger loh ada Dad War, antar bapak gitu bertengkar ngeributin anak-anak mereka, pekerjaan bahkan kehidupan mereka, bersaing siapa anaknya yang paling jago, siapa yang pekerjaannya paling tinggi dan lainnya. Yang paling banyak ya ibu-ibu yang nggak ada kerjaan.

Misalnya :
“Alhamdulillah anakku di usianya dua tahun sudah lepas popok”
Tetangganya menimpali, “Eeh.. syukur ya, anakku sih belum lepas popok. Biar aja tunggu dia siap dulu, tapi dia udah disapih loh. Anakmu belum ya?” pertengkaran pun dimulai.
“Hahaha.. iya, walaupun dia belum disapih tapi dia nggak minum sufor kayak anak kamu. Anakku mah minumnya UHT buat selingan” emak panas, terus kemudian jambak-jambakan pun terjadi. Ini pertempuran antar teman.

Ada lagi
“Itu, anak kamu umur 5 bulan kok belum dikasih makan?” sahut seorang ibu.
“Mi, syarat anak bisa makan itu kalau kepalanya sudah tegak, dia tertarik makan. Aku kan pengen ngasih dia ASI sampai 6 bulan, mami jangan maksa dong”
“Dulu ya, kamu di usia 5 bulan sudah makan pisang, trus makan bubur”
“Itu kan dulu, ya jangan disamain dong, jaman sudah berubah dan ilmu pengetahuan sudah berkembang”
“Kebanyakan teori juga, ya gitu sih kamu, keras kepala” ini pertengkaran antara saya dan ibu saya. Lagi siapa juga yang punya anak, kenapa jadi ibu saya mencampuri urusan anaknya. Bagi saya setelah menikah saya bebas mengatur kehidupan saya. Jadi mom war kan ujung-ujungnya.ibu-ibu yang jadi nenek jangan kayak gini plis ke anaknya. T_T

Ada lagi
“Kalau kamu kerja, anakmu sama siapa?”
“Sama neneknya”
“Ya sudahlah berenti saja, kasian anakmu nggak ada yang ngurus. Lagi ya, masak kamu tega sih nitipin anak ke orangtua. Yang namanya orangtua itu sudah tua bukan lagi ngurus bayi atau ngurus anak, sudah mudanya ngurus kamu, eh tuanya juga ngurus anakmu. Kapan istirahatnya”
“Iya sih, tapi ibuku nggak masalah kok. Dia seneng-seneng aja, soalnya tiap bulan aku ngasih sangu yang gede ke mama. Jadi mama bisa beli apa saja yang dia mau. Lah kamu, bisa ngasih apa ke mama?” kemudian temannya cari bahan lagi untuk membalas omongan si temen. Dan Mom War pun terjadi.

Yang paling parah
“Jadi sekarang jadi ibu rumah tangga aja?”
“Iya,”
“Wah sayang banget ya, kuliah tinggi-tinggi ilmunya nggak kepake”
Ngunyah bata, “Nggak apa-apa, saya kuliah ilmunya untuk mendidik anak-anak. Karena anak yang cerdas terlahir dari ibu yang juga cerdas. Eh kamu jadinya kerja? Suami ngizinin?”
“Alhamdulillah sih ngizinin”
“Emang duit yang dikasih suami kurang, kamu sampe kerja gitu? perasaan rumah udah bagus deh, mending kamu dirumah deh,” yes! Asyik bisa balas dendam.
“Ya nggak apa-apa, sayang daripada ilmunya nggak kepake. Kuliah tinggi-tinggi malah dirumah,” eaa.. dia panas.
“Terus anak kamu gimana?”
“Tenaang, ada baby sitter dirumah”
“Oh jadi kamu bikin anak cuma buat dititipin ama baby sitter? Masih mending akulah, anakku kuurus sendiri. Eh hati-hati loh, nanti dia malah deket ke bibiknya daripada sama kamu. Bisa-bisa kamu nggak dianggep jadi ibunya” satu sama, kemudian mereka balas sindir-sindiran di sosmed.

Yang lebih parah
“Woi udah lama nggak ketemu ya?”
“Iya nih sibuk aku”
“Eh kamu gendutan, makmur ya sekarang :D”
kampret!! Ketemu nanya kabar kek, ini malah bahas berat badan. Balas apa ya? “Iya nih banyak duit, makannya makmur haha…” kehabisan kata-kata, udah tersinggung duluan. “Eh kamu gini-gini aja, diet ketat apa nggak pernah dikasih jajan sama suami?” yes satu kosong. Kemudian momwar pun terjadi. Hadeuuuuh..

Coba bandingkan dengan percakapan bapak-bapak berikut
“Anakku nggak bisa lepas dari ibunya, dia masih nenen aja terus padahal usianya sudah 3 tahun”
“Iya, sapih pelan-pelan, udah coba cara apa?”
“Wah macem-macem, mulai dari dilumuri yang pait-pait di payudara ibunya, sampai dijanjikan macam-macam,”
“Tapi belum berhasil?”
“Belum”
“Ya sudah tunggu aja, mungkin belum waktunya. Mungkin doi lagi beradaptasi”
“Kalau anakmu umur berapa bisa disapih?”
“Sama aja dia mah susah disapihnya, tapi untungnya dia berhasil dijanjikan beli mainan. Terus lepas deh nyusu. Sekarang tinggal bapaknya yang belum bisa disapih wkwkwkwk..”
“Ya itu mah pastilah ya”

Dibandingkan percakapan-percakapan diatas lebih adem mana bacanya?

Jadi siapa penyebab mom war itu sendiri?
Ya dari mulut ibu-ibu itu yang nggak bisa direm untuk membanggakan sesuatu dari anaknya, suaminya, keluarganya, saudaranya, kehidupannya, pendidikannya, karirnya, hartanya, bahkan bobot tubuhnya, byuuh.. dan kemudian akan dibalas oleh lawan bicaranya sesuatu yang nggak dipunya orang tersebut.
Perempuan itu pada dasarnya mahluk yang nggak pernah bisa mengalah, jadi kalau misalnya ada lawan bicaranya membanggakan sesuatu, akan sangat jarang sekali ada perempuan yang nggak mau balas, pasti dibalas, bisa dengan candaan yang elegan, bisa juga balas balik nyinyiran. Jarang banget ada perempuan yang dikatain diem aja, kalaupun diem aja suatu hari dia pasti akan berniat membalasnya *hayo bener nggak?* wkwk… atau kalaupun diem, lawan bicaranya pasti akan iseng nanya, “Kok kamu diem, ngerasa ya?” atau “Jangan diem aja dong, ayo cerita gimana kehidupanmu” ini kan ajaib ya, orang sabar malah dipancing-pancing buat marah. Iya, perempuan itu mahluk yang sangat ajaib, saya pun mengakuinya.

Bagaimana mencegah momwar
Kata orang Momwar itu lebih menyeramkan dari Infinity war :D, ketika Infinity war sudah tamat filmnya, momwar masih saja terus berlanjut sampai sekarang. Bayangkan itu dari tahun berapa berantem nggak kelar-kelar -_-‘ dari kita belum lahir sampai kita sudah besar haha.. kemudian kita ikut melanjutkan perang itu? Ya sallam.. iya sih hahaha.., habis gimana ya, kadang kalau dinyinyirin orang rasa kepingin ngebales kan? Lalu bagaimana cara agar kita nggak mudah ikutan dalam momwar walaupun sebenernya mulut gatel pengen banget balas?

·         Kalau ada tetangga, temen, sodara yang mulai bangga-banggain apa yang dia punya sebaiknya sih diem aja, jangan dibales, jangan panas, cuekin. Kalau perlu jawabnya hanya, “Oh iya, oh gitu ya, hmmm.. oke.. baiklah”, “Emang penting banget apa gue bahas”
·         Misalnya lawan bicara mulai mancing, jawab aja seadanya dengan sekonyol-konyolnya *yaa.. walaupun hatimu grundelan kesel* misalnya, “Eh si kakak belum punya adek? Ayo nyusul, aku aja sudah tiga loh”, bisa aja kali jawab “Iya besok, saya beli tepung dulu”, atau kalau orangtua yang nanya, bisa aja jawab dengan ngebanyol, “Iya buk, mungkin besok saya langsung hamil, soalnya semalam udah bikin hee” eh kurang ajar dah wkwk… tapi asli kan kamu pengen bales, dan sudah pasti kamu sakit hati dan berniat balas dendam :D
·         Jangan tulis di media sosial tentang kekesalan kamu, kecuali temen kamu itu nggak baca dan nggak punya media sosial :D, tulis aja. Tapi hati-hati sih kalau curhat di media sosial, soalnya jaman sekarang bikin status buat siapa yang kege’eran siapa hihi… atau bikin status buat siapa eh dianya nggak baca, atau status kamu malah dianggap nggak beretika karena terlalu dianggap curhat.
·         Intinya harus sabar, sesabar-sabarnya, bahwa perkataan yang menyakitkan suatu hari akan ada balasannya. Entah kapan yang nanya itu dibalas Tuhan, yang jelas yang bikin kamu sakit hati nanti pasti akan tau akibatnya

Emang sih gatel kalau nggak ngebales nyinyiran orang yang nyinyirin kita, tapi mau sampai kapan hal ini terus terjadi?, yang ada perang terus berlanjut dan nggak ada habisnya. *bisa banget nasehatin orang :D* tapi ada satu hal yang bikin saya tobat  nggak kepingin bales nyinyiran orang lagi, kapan itu? semenjak saya telat dapet anak. Ketika telat dapat anak itulah banyak orang yang mempertanyakan status kehamilan saya, mulai dari ngomporin harus ke dokterlah, sok-sokan nasehatin cari posisi seks yang baguslah biar cepet dapat anak, byuh dan pertanyaan atau pernyataan yang menyakitkan lainnya. Disini saya sadar, bahwa nggak semua orang suka dengan pertanyaan atau pernyataan yang kita ajukan. Semenjak saat itu saya pun mulai mengubah cara pandang saya terhadap orang lain, nggak gampang kepo atau ngomporin kehidupan orang. fiuh.. tapi sejujurnya saya orangnya nggak kepo-kepo banget loh, saya lebih sering dinyinyirin orang daripada kepo kehidupan orang, kok ya ujiannya menyedihkan sekali hahaha… oh ya, mungkin Allah punya rencana lain untuk mendewasakan saya, agar saya bisa berbagi pengalaman.

Yes.. makannya saya bisa bikin artikel ini, bahwa yang bisa menghentikan Momwar adalah diri kita sendiri, ya masak harus kayak saya sih dikasih ujian dulu baru sadar :p ya sekali lagi ya saya ulangi, bahwa yang bisa menghentikan Mom War hanya diri kita sendiri. Biarkan mom war berakhir seperti layaknya film Infinity War :D

13 comments

mantap Manda, setiap kejadian pasti ada hikmahnya ya

Reply

Jujur aku tahu ada Mom War ini setelah sesekali lihat beranda ada yang share tulisan di medsos.

Dulu waktu jadi wanita karir, gak punya waktu ngelirik akun medsos. Boro-boro dah. Sampai rumah sudah loyo, maunya istirahat bae.

Sampai sekarang juga tidak tertarik ikutan 'perang', fokus aktivitas lain yang lebih berguna, blogging misalnya, hahaha...

Tapi kalau membaca sekedar menambah persfektif seperti tulisan di atas, aku suka.

Terima kasih telah berbagi dan sepertinya ini kunjungan perdana ke sini.

Salam kenal dari bumi Borneo tempat di mana Batu Dinding ikonik itu berada ... ^^



Reply

Menakutkan yak,, hehehe.. harusnya saling support aja,, kasi opsi solusi,,

Reply

Btw.. btw... saya sendiri belum pernah liat langsung adanya mom war itu sih, dan Alhamdulillah saya belum pernah diserang terus ama emak-emak di medsos (eh ini juga membanggakan diri sendiri yaa hahaha)
Pisss.. cuman sharing aja kok.

Kadang, sebenarnya mom war itu gak ada, atau minimal gak sesadis yang dibicarakan, well, mungkin ada tapi hanya sekitar 10% aja kali ya..

Lainnya?
Diri kita sendiri yang baper ama tulisan orang hahaha..
Jadi kunci kemaslahatan hati emak saat ber sosmed adalah..
CUEKLAH PADA SEGALA HAL yang membaperkan hihihi..

Reply

Ya Allah, jauhkanlah dari hal-hal demikian :(

Reply

Aku malah ketawa ketiwi bacanya Kaya Baca komik ��. Memang bener perempuan pada umumnya itu selalu pingin dipandang lebih unggul. Aku sering dapet nyinyiran seperti itu, Tapi Aku nganggepnya 'Oh mungkin Aku yg baper. Kalo dilihat sm percakapan bapak2 kontras sekali ya.. Hihi.. Bener yg bisa menghentikan momwar itu diri sendiri. Kadang Aku juga tetpancing Tapi ditengah jalan memilih untuk menghindar bukanya kalah Tapi ingin berdamai krn setiap org itu kan posisinya Beda Beda ya.. tks sharingnya

Reply

Saya masih single sih, tapi kadang kalau ketemuan sama teman2 yang udah nikah dan punya anak suka takjub gitu sama obrolannya.. trus lama-lama nanti saya deh yang kena pertanyaan2 ajaib karena masih single. wkwkwkwk..

Reply

Mama Naqib, , akoh kok jadi emosi yak baca artikel yang satu ini :)
Sering ngalamin saat belanja sayur nih. .Bikin emosi emang. ..

Reply

Lelah ngikutin mom war ya mba hihi btw aku blm nonton infinity war jd belum tau kayak gimana ending nya hehe.

Reply

Aku bersyukur temen2 ku ga ada yg seperti ini :p. Kalo sampe ada, yg pasti bakal aku cuekin, kalo perlu block sekalian biar ga usah mancing2 ngajakin perang wkwkwkwjw. .. Bingung yaa ada org model begitu. Hobi bener membanggakan diri sendiri :p

Reply

Waduh, mom war bisa seserem itu ya. Saya pernah ga sengaja baca di berita. Kalo ga salah Tirto.ID. Di sana ada penjelasan gamblang mengapa sesama perempuan cenderung ga mau ngalah. Bahkan hampir sama kayak mom war.

Eh ternyata eh ternyata, ada sindrom gitu mbak. Ada peneliti psikologi yang bilang, kecenderungan ini mirip kayak ratu lebah. Jadinya kayak sindrom ratu lebah gitu, saling sikut untuk menjadi dominan atau nomor satu. Kalo dipikir-pikir, memang menyeramkan. Dan ga bisa kebayang deh, saya takut atuh mbak

Reply

Hadeh emang paling pegel sama yang beginian. Makasih tips skakmatnya Manda. Salam kenal yaaaa

Reply

Ada peribahasa latin "Homo Homini Lupus" manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. kalo ini mungkin bisa dibilang (terkadang) wanita adalah serigala bagi wanita lainnya. Kadang heran juga sih, sebagai wanita kita bisa saling membantu dan menguatkan, tapi di sisi lain sesama wanita juga saling merendahkan dan menghina kaumnya sendiri. Gak usah jauh jauh, urusan pelecehan seksual pun yang paling nyinyir dan berkomentar menghina justru sesama wanita sendiri.

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...