Menu

Saturday, 12 May 2018

/


Setiap ibu-ibu pasti punya cara berbeda dalam menyapih dan melepas popok anak. Tentunya rentang waktu umur anaknya berbeda banget dengan ibu lainnya. Dan nggak dipungkiri antara ibu satu dengan ibu yang lainnya akan jadi ajang bangga-banggaan atas keberhasilan ini *eh kok saya jujur banget ya :D*, tapi saya nggak mau bangga-banggain anak saya dengan berhasil toilet training atau berhasil disapih umur sekian..sekian..sekian, biarin aja dia bisa secara alami, biarin aja dia mikir sendiri dan bisa sendiri melakukan sesuatu yang saya ajarkan. Biar hal-hal kayak gini nggak jadi beban yang bikin anak stress. Atau si ibu stress karena denger celotehan orang. Jadi ngomong-ngomong si Naqib ini bisa disapih dan melepas popoknya umur berapa?? Oke saya cerita ya..


Menyapih
Naqib berhasil disapih ketika umur 3 tahun lewat sebulan apa dua bulan gitu. Jadi awal mulanya karena sudah lewat setahun dari umur yang ditetapkan pemerintah haha.. Sebenernya, bagi saya nggak masalah dia mo nenen apa nggak, mungkin dia belum siap aja melepas apa yang sudah menjadi temannya selama ini, saya pun nggak berani maksa. Karena bagi saya memaksakan sesuatu yang bagi anak belum dipersiapkan bisa-bisa dianya depresi, jadinya ya sudah dibiarkan saja. Di satu sisi sih saya kepingin melepasnya karena dia sudah gede, tapi disisi lain, saya sedih nanti nggak ada lagi yang nenen huhuhu sungguh yang namanya menyapih itu perjuangan, perjuangan baper. Apalagi si anak kalau sudah minta nenen selalu teriak sampai tetangga dengar, “Bu nenen bu, neneeeen” soalnya kasur saya kan letaknya didepan, jadi kalau orang lewat otomatis kedengeran.


Bapaknya juga membiarkan saja si Naqib tetap nenen, tapi lama-lama, kok ya si anak ini nenennya kebangetan, semacam nggak bisa kehilangan gitu dari si tetek, misalnya saya kepingin pipis doi bangun, saya kan jadi nggak bisa apa-apa, padahal si anak sudah gede banget yang seharusnya bisa lebih mandiri, ya minimal ditinggal pipis nggak nangis guling-guling gitu :D atau misalnya doi ngantuk ya nggak usah nyari-nyari tetek, tidur ya tidur sendiri gitu. Di sisi lain sebab dia masih nenen, si anak jadi semacam kena bully verbal dari teman-teman suami, seperti “Ih kok masih nenen sih kan udah gede, malu dong”, atau “Jangan nenen, nenennya buat adiknya saja” hal ini yang membuat saya dan suami akhirnya sepakat, saya harus menyapih Naqib, selain mendidiknya dewasa, di sisi lain biar dia nggak kena bully verbal. Maka dari itu ada hal-hal yang saya harus persiapkan ketika menyapih dia :

·         Sayanya kudu siap lahir batin. Jangan mikir macem-macem, memang saya akui menyusui itu bonding ibu dan anak. Dengan menyusui saya bisa menyalurkan rasa cinta hanya dengan melihatnya, kalau nggak nenenin Naqib sehari aja memang saya juga ngerasa ada yang hilang gitu. Nah saya buang jauh-jauh deh hal ini. Sungguh saya juga mewek-mewekan loh T_T, namun suami menyemangati akhirnya saya juga kembali ke tekad awal.
·         Mulai memikirkan kata-kata yang pas buat bilang ke Naqib bahwa yang namanya nenen hanya boleh dilakukan anak bayi, sedangkan dia sudah besar dan jangan nenen lagi, tanpa harus menyakiti perasaannya.
·         Mulai memikirkan reward dan apa keinginan Naqib sebagai hadiah dia sudah berhasil nggak nenen lagi
·         Jangan melakukan kekerasan atau area putting dikasih macem-macem. Yang ada anak sedih karena tempat yang pernah bersamanya selama 2 tahun dicederai, lakukanlah dengan hati juga. Jangan mengancam, jangan membuatnya sedih atau membuatnya merasa trauma kalau nenen itu sesuatu yang menakutkan.
·         Lakukanlah dengan cinta, menyusui kan mengeluarkan cinta, menyapihnya pun juga dengan cinta. Ikhlaskan, lepaskan karena anak sudah semakin gede.


Akhirnya, pada suatu hari dengan tekad yang kuat dan tak memikirkan macam-macam saya bilang gini ke Naqib, “Qib Naqib, Naqib lagi kepingin apa?”
“Pledoh bu” playdough maksudnya.
“Oke, boleh. Tapi ada syaratnya”
“Apa?”
“Jangan nenen lagi”
Naqib mikir lama tuh ya, akhirnya dia mengangguk. “Iya..”
“Oke nanti kalau hari libur kita beli mainan” kaget saya dia mau, padahal sudah berkali-kali dia saya janjikan ini dan itu tetapi dia keukeuh pingin nenen dan usaha saya nggak pernah berhasil. Mungkin playdough ini satu-satunya barang yang kepingin banget dia miliki tapi belum kesampaian dimainin. Nah mungkin ibu-ibu dirumah bisa menjanjikan anak terhadap sesuatu yang kebangetan pingin dimiliki anak tapi belum kesampaian. Tapi tagih janjinya kemudian kalau sudah dibelikan sesuatu.
Dan akhirnya hari itu pun datang :D, kami membelikannya mainan baru, kalau tidak salah dengan beberapa buku yang dia inginkan. Dan betul saja, si Naqib nggak mau nenen lagi, walaupun saya julur-julurkan tetek ke mukanya, dia tetep nggak mau. Namun pernah juga dia rindu dan kepingin nenen lagi, tapi saya tidak perdulikan tangisannya dan akhirnya dia lelah sendiri wkwk..*aduuuh padahal emak meringis juga kepingin nangis, ga tega*, kejadian ini pun berhari-hari saya hadapi sampai akhirnya Naqib terbiasa tidak ingin menyusu lagi karena merasa dirinya sudah besar. Fiuhh.. ini perjuangan banget loh moms. Banyak ibu yang maju mundur cantik hanya karena tidak tega dengan tangisan anak. Yah, tega nggak tega sih moms mengingat anak sudah semakin besar dan sudah bukan waktunya nenen lagi.

Iniloh playdough penyelamat saya wkwk

Melepas popoknya
Sama seperti menyapih, dalam melepas popoknya pun saya mempertimbangkan waktu yang pas. Takut dia nggak siap akhirnya malah sering ngompol dimana-mana, malah nambah emosi nggak sih kalau saya maksain anak. Yang saya amini, anak 1-3 tahun itu belum mengerti perintah banget, dan belum sepenuhnya memahami apa yang kita katakan. Jadi kalau misalnya dia pipis dicelana karena nggak bisa menahan air seninya, terus ibunya ngomel-ngomel emosi. Saya bilang sih, yang salah ya ibunya. Anak nggak ngerti kok dimarahi. Makannya, daripada hal-hal yang tidak saya inginkan terjadi, saya mempertimbangkan beberapa hal sebelum melepas popoknya, diantaranya :

·         Pastikan dia berani ke kamar mandi, misalnya nggak mudah kepleset dan bisa berdiri dengan baik
·         Pastikan anak sudah bisa menahan pipisnya, jadi ketika anak kebelet pipis dia sanggup menahannya, kemudian bisa pipis di kamar mandi, tanpa harus ngompol di tempat lain, yang jelas tanpa bikin emosi emak bapaknya :p
·         Pastikan anak tidak ngompol lagi kalau malam, walaupun sebelumnya minum air putih atau menyusu. Jadi kan kadang anak suka minum susu tuh sebelum tidur, seringnya anak malas pipis sebelum tidur, nah misalnya doi nggak ngompol sampai pagi tandanya dia sudah bisa dilepas popoknya.
·         Misal pun dipakaikan popok, anak nggak suka pipis lagi di popok, anak lebih memilih untuk pipis di kamar mandi, jadi popoknya kering gitu


Dalam melepas popoknya pun perlu tekhnik, nggak bisa langsung lepas gitu aja. Jadi ketika saya mengajari Naqib toilet training tahapan-tahapannya begini :

·         Saya masih pakaikan Naqib popok selama 24 jam ketika awal-awal toilet training, tapi setiap 3 jam saya ajak Naqib ke WC, pakai popok sebagai salah satu upaya agar dia nggak pipis sembarangan, ini saya coba selama seminggu. Jika berhasil 3 jam nggak pipis, saya naikin jadi 4 jam sekali, begitu seterusnya.
·         Seminggu kemudian saya coba lepas popoknya, saya pesan ke Naqib kalau mau pipis harus ngomong. Tapi tetep sebelum dia ngomong saya sudah membawanya ke toilet. Ini berlangsung selama sebulan, akhirnya lama kelamaan dia berhasil pipis di toilet dengan bilang sebelum kebelet.
·         Waktu lepas popok pas tidur siang juga demikian, sebelum tidur Naqib saya ajak ke toilet, baru setelahnya tidur. Selama sebulan saya lihat popoknya kering, saya lepas. Lama-lama dia berhasil nggak pakai popok ketika tidur. Pun pada malam hari, walaupun dia tidak ngompol tetap saya pakaikan popok. Ketika selama sebulan berhasil bangun dengan popok kering tandanya dia berhasil lepas popok
·         Saat pergi pun demikian, karena ritme pipisnya setelah sarapan pagi, maka sesudah sarapan saya pipiskan, lalu mendekati jam 12 siang saya pipiskan lagi. Namun kalau perginya panjang, tetap saya pakaikan popok, takut dijalan nggak ada toilet bahaya dia nahan pipis, nggak baik kan buat ginjalnya.

Duuuuh.. kayak gini butuh modal banget dong, kan melepas popok lebih awal bisa lebih menghemat. Betul, tapi kalau anak stress gimana mak? Atau ibunya yang stress anak ngompol sembarangan. Ketika punya anak, tandanya kita siap mengeluarkan modal lebih banyak. Lah anak titipan Allah je, harus diistimewakan dong.


Jika orangtua sudah paham ritme buang air kecil anak, akan sangat mudah lagi mengajarkan toilet training. Sebelum tau anak ingin buang air kecil orangtua sudah siaga mengajaknya ke toilet. Jadi memang mengajarkan anak perlu dengan cinta dan tahapan-tahapan agar anak nggak kaget. Saya pernah ketemu temen yang ngeluh anaknya ngompol mulu, ternyata setelah ditelisik si emak ini main lepas popok aja tanpa ba-bi-bu ngajarin anak tahapan-tahapan cinta *jaila* alias belum siap. Akibatnya apa, rumahnya bauk pesing. Byuuuuh… si anak stress dimarahin terus, si emak stress rumah bauk pesing, yang salah siapa? Ya orangtuanya lah, anak belum ngerti kok dimarahi. Gimana sih buk :D
Hal-hal tersebutlah yang saya lakukan pada Naqib, sejauh ini sih dia tidak merasa terbebani dengan disapih atau tidak pakai popok lagi. Bahkan kalau saya pakaikan popok, Naqib bingung, “Kok pakai popok lagi?” hihihi…. Semoga emak dirumah bisa menyapih dan melepaskan popok dengan cinta dan bahagia ya..


3 comments

jaman anakku masih kecil belum ada pampers jd lebih mudah mengajarkan anak untuk bisa ke toilet sendiri, jaman now anak sulit melepaskan pampers atau popok ya

Reply

Menyapih ini sempat bikin saya trauma Mbak. Pas nyapihnya sih lancar tapi berapa minggu setelahnya baru rewel, minta apa2 ga tau waktu, kayak Jam 3 pagi minta Naik odong2 pakai nangis kejer ��

Kalau popok, alhamdulillah punya 2 anak ga suka dipakein diapers. Jadi ya cuma keluar aja pakenya. Resikonya, cucian lebih banyak gapapa daripada anak kembung gara2 ga mau pipis di popok ��

Reply

Punya anak itu beneran ribet ya tapi menyenangkan juga sih

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...