Menu

Sunday, 29 April 2018

/




Sering denger nggak sih ungkapan, ‘Dasar laki-laki tidak punya perasaan!’ apa benar sih laki-laki itu semua nggak peka dan nggak punya perasaan? Saya rasa semua manusia nggak laki nggak perempuan pastinya punya perasaan, hanya saja kadarnya berbeda. Jika anak perempuan perasaannya lebih halus, jangan dianggap laki-laki nggak punya perasaan. Laki-laki walaupun berkelamin berbeda dengan perempuan, kaum mereka juga punya perasaan yang jika diasah akan bisa sama dengan perasaan anak perempuan, terbukti laki-laki juga bisa menangis, ini tandanya mereka juga punya perasaan yang halus kan?.


Hanya saja banyak emak-emak diluar sana yang nggak paham akan hal ini dan membuat perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang bikin prihatin. Misalnya, kalau anak laki-laki nangis, si emak serta merta akan bilang, “Anak laki nggak boleh nangis, cengeng banget!” laaah mak, masak anak laki nggak boleh nangis sih, yang namanya perasaan sedih mah bebas-bebas aja dimiliki siapa saja, kasian banget kalau anak laki nggak boleh nangis, yang ada dia nanti nggak bisa mengungkapkan perasaannya, dia nggak akan bisa faham perasaan sedih. Bahayanya kalau dia besar dan mendapati teman perempuannya nangis maka anak laki hanya akan menganggap itu biasa, bahaya lainnya anak laki-laki sulit memahami perasaan perempuan dan hanya akan menganggap perempuan itu mahluk tukang nangis alias cengeng. Nah akibatnya, anak laki-laki akan kerap membully perempuan sebagai makhluk yang tukang nangis. Ketika dewasa, bahaya lain yang ditimbulkan adalah anak laki-laki akan sulit mendiamkan pacarnya atau istrinya yang menangis, lah iya dari kecil anak laki aja nggak boleh nangis kok bagaimana laki-laki bisa jadi peka perasaannya terhadap perempuan. Bisa-bisa si laki ini hanya mendiamkan saja dan bingung harus melakukan apa, padahal banyak perempuan yang ingin diambilkan tissue atau dipeluk untuk meredakan tangisnya


Jika anak laki-laki tersebut menjadi dewasa dan mendapati anak perempuannya menangis, hal yang dulu dikatakan ibunya akan terulang kembali, “Sudah jangan nangis, nangis nggak menyelesaikan masalah. Jadilah perempuan yang tegar!” mungkin nasehatnya bagus ya, tapi kok kayaknya kedengarannya menyebalkan dan sangar wkwk….
Nah, saya nggak kepingin Naqib kayak gitu, saya kepingin dia jadi anak yang laki yang lebih peka terhadap teman-teman perempuannya tapi tetap punya sikap *nggak playboy atau gatel :D sebab kepeduliannya*, peka terhadap orang yang susah, korban kecelakaan dan banyak lainya dan melatih ini sebetulnya nggak bisa dalam waktu singkat harus dimulai sejak sedini mungkin, agar ia nantinya terbiasa. Sebagai ibu saya mencoba beberapa hal yang mudah-mudahan membuat dia semakin peka terhadap apapun yang dia lihat dalam bentuk kesedihan antara lain :


Putus rantai kesalah pahaman ini
Sebetulnya setiap orangtua bisa membuat anak laki-lakinya lebih peka terhadap perempuan, asal semuanya dimulai dan dilatih sejak dini, jika ini tertanam dari kecil maka laki-laki punya kepekaan terhadap perempuan. Cara ini cukup berhasil untuk anak saya, tapi tidak tau untuk anak anda :D, memang melakukan ini harus sepenuh hati dan penuh penghayatan, agar berhasil. Hal pertama yang harus orangtua pahami adalah, setiap manusia memiliki perasaan dan perasaan ini tidak bisa dibanding-bandingkan antara laki-laki dan perempuan. Hal lain yang harus dipahami adalah anak laki-laki punya semua perasaan yang dimiliki perempuan hanya saja kadarnya berbeda, sebagai orangtua kita harus bisa menempatkan empati ketika mereka mengeluarkan emosi-emosinya. Baik terhadap anak laki-laki ataupu anak perempuan.


Naqib sayang banget sama kakak sepupunya hihihi

Biarkan dia menangis
Saat anak saya menangis sebab emosi, misalnya dia emosi sebab tidak bisa menggunakan mainannya dengan baik. Saya biarkan saja dia menangis sampai puas. Saya biarkan emosinya tersalurkan dengan baik, saya tinggal dan saya tidak berkata yang menyakitkan kepadanya, misalnya, “Jangan nangis! Laki-laki nggak boleh cengeng”,
Kalau tangisnya sudah reda baru saya bujuk pelan-pelan, saya dekati, saya peluk biarkan dia menangis sesenggukan di pelukan ibunya kemudian pelan-pelan saya tanya, “Naqib kenapa tadi nangis? Apa yang nggak bisa dilakukan, sini bilang ibu biar ibu bantuin biar Naqib nggak sedih lagi. Kalau Naqib nangis, ibu juga ikut sedih”. saya berharap, ketika Naqib saya tanya demikian, di saat ia dewasa kemudian menjumpai teman perempuannya nangis, ia akan berkata, “Apa yang bisa aku bantu biar kamu nggak sedih lagi” ya ampun, so sweet banget nggak sih dia punya empati kayak gini :D? atau misalnya teman laki-lakinya nangis, Naqib akan jadi sahabat yang menyenangkan buat dijadikan tempat curhat.



Jangan lupa meminta maaf
Sebagai orangtua jangan pernah gengsi untuk meminta maaf, karena anak juga butuh pengakuan kalau orangtuanya salah. Meminta maaf pun dapat melembutkan hati anak. Tekhnik minta maaf pun biasanya saya lakukan ketika anak meminta maaf duluan karena sudah berbuat salah, jadi kita sama-sama minta maaf gitu, sambil peluk-pelukan. Ini sungguh moment yang mengharukan kalau anak habis ngamuk dan hatinya melembut, kadang saya juga sih yang duluan minta maaf biar Naqib ngerti kalau berbuat salah ya harus meminta maaf. Tentu saja maaf adalah salah satu bentuk empati, anak harus berani mengungkapkan kata maaf ketika ia salah, jangaaaan sampai ketika dewasa ia menjadi orang yang gengsi minta maaf sebab kedudukan laki-laki yang lebih tinggi dibanding perempuan. Saya berharap dimasa depannya Naqib nggak akan punya musuh sebab hatinya yang mudah memaafkan.


Tanya baik-baik
Setelah dia menangis dan perasaanya lega, ada baiknya tanya baik-baik. Duduk dekat anak, rangkul, kalau perlu lagi tiduran peluk dia, tanya apa masalahnya. Kalau anak saya biasanya langsung cerita, tapi kalau misalnya dia lagi nggak mood ya jangan dipaksa. Namanya manusia kan juga punya perasaan, mungkin ada saatnya moodnya nggak bagus. Memaksanya bercerita hanya akan membuatnya semakin emosi, sebab orangtua tidak memberinya ruang untuk sekedar merenung atau meredakan emosinya.

Jangan malu menangis di depan anak
Kadang orangtua beranggapan, kalau menangis di depan anak orangtua merasa lemah. Padahal kalau kita mau saja mencoba menangis di depan anak, anak akan mengerti perasaan kita. Dan lagi dengan menangis di depan anak sebenarnya saya mencoba melatih kepekaannya. Biasanya kalau saya menangis Naqib kemudian akan mendekat dan berkata, “Sudah bu jangan nangis kan ada Naqib” tak lupa dia menyusutkan lap di ujung mata saya dan memeluk saya. “Udah bu diem ya, nanti Naqib sedih juga” saya pikir kalau saya tidak mencoba menangis di depan anak dia tak akan pernah mengerti perasaan saya. Dengan menangis di depan anak pun, kita hanya menunjukkan bahwa setiap manusia tidak pernah luput dari masalah dan pastinya saya hanya menujukkan setiap manusia punya perasaan yang harus difahami dan dimengerti. Kedepannya kalau ada temannya menangis saya berharap dia tidak akan membullynya.

Selain menangis ada banyak perasaan yang saya latih pada Naqib, misalnya dia harus tau saat orang lagi marah, bĂȘte dan senang. Jadi dia bisa berhati-hati dalam bersikap dan berkata-kata. Sebagai orangtuapun saya selalu menunjukkan beberapa perasaan ini pada Naqib agar dia bisa sedikit mempelajarinya. Pun saat Naqib lagi marah, saya biarkan dia mengeluarkan emosinya walaupun kadang saya belum bisa menerima yang satu ini, atau saat dia lagi bĂȘte ya saya biarkan dia menyendiri, atau misal saat dia lagi senang, saya biarkan dia berbuat apa saja untuk mengungkapkan kesenangannya.
Sejauh ini sih Naqib lebih sensitif dan mengerti perasaan orang, jika orang tersebut marah dia tidak berani mendekat. Jika ada teman atau saudaranya yang menangis, dia datang menasehati bahkan memberinya ruang untuk menumpahkan emosinya, seneng deh saya lihatnya.

dalam bermain, Naqib mudah mengalah dan lebih sering jadi penengah


Bagaimana jika diluar rumah?
Saat diluar rumah anak akan tetap mempunyai emosi yang sama ketika berada di dalam dirumah, bagaimana jika anak marah, menangis, apa yang harus saya lakukan? Alhamdulillah sejauh ini saya belum menjumpai anak tantrum ketika diluar, misal dia tidak dibelikan mainan lalu nangis guling-guling seperti anak kebanyakan, biasanya kalau dia marah saya diamkan, nggak saya tegur sama seperti dirumah. Mau nggak mau kan kalau kita jalan dia ikutan jalan daripada ditinggal. Atau untuk mencegah tantrum jangan dijanjikan apa-apa ketika jalan, nanti dia akan nagih. Pernah nih anak saya begini, dijanjikan beli mainan ternyata nggak jadi, dia ngambek, tapi untungnya tidak sampai nangis karena kita berusaha membelikan dia yang lain, eskrim atau makanan kesukaannya misal. Jadi sebelum dia ngambek saya sudah berusaha mengatasinya. Hal-hal tersebut diatas memang harus dipelajari orangtua agar anak mengerti empati sedini mungkin. Tapi walaupun saya melatih kepekaan Naqib bukan berarti Naqib akan menjadi lelaki yang gemulai. Dia tetap mengenal fitrahnya sebagai lelaki karena saya tidak pernah mengenalkan rok, jepit rambut, boneka atau hal-hal lain yang berbau perempuan pada anak saya. Dia tetap suka tembak-tembakan, bermain bola atau teriak-teriak khas lelaki.



Mudah-mudahan dengan cara ini perasaan Naqib bisa lebih peka terhadap orang lain yah :)

3 comments

Duh penting banget nih mba. Anak saya juga laki-laki.
Kadang suka keceletot nih mulut bilang kalau anak laki-laki gak boleh nangis, jangan cengeng XD

Reply

Duh,, anaknya empati yaa klo ibu nya nangis bisa menenangkan,, itu laki banget..

Reply

Wah, kalau anak sdh tantrum emang kita hrs pandai2 mencari celahnya, biasanya kalo anakku tantrum akan cepat reda setelah dipeluk

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...