Menu

Wednesday, 21 March 2018

/



Dulu saya beranggapan bahwa yang namanya rezeki itu bentuknya selalu dalam nilai rupiah, jadi misal tetangga ngasih buah atau apapun yang nilainya bukan rupiah saya anggapnya ya sekedar ngasih dan harus kita balas kebaikan mereka. Tapi beda hal dengan ibu saya, ketika diberi sesuatu apapun, beliau selalu mengucap hamdallah dan bilang, “Ini rezeki”. Dulu saya pikir ketika saya lama tidak mendapat pekerjaan, saya sakit, atau mendapat musibah hingga akhirnya mengeluarkan uang banyak Allah menghambat rejeki yang saya punya.

Padahal tidak ada rezeki yang dihambat, seperti dalam QS Hud : 6 yang berbunyi, ‘Tidak ada satu makhluk melata pun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya,” ini artinya, setiap detik hidup kita menikmati rezeki, udara, bisa makan, bisa minum, bahkan bisa mandi pun itu rezeki gengs! Inget banget waktu tinggal di Ambon, air minim sekali, air hanya ngalir 2-3 hari sekali, kalau kita kekurangan air ya terpaksa beli. Disini saya menyadari bisa mandi dengan air yang tidak susah saja rezeki banget.


Lambat laun saya menyadari ucapan ibu saya ada benarnya, bahwa rezeki tak melulu uang, bisa berupa apapun ketika itu diberi orang, bahkan setiap detik hidup yang kita lalui adalah rezeki. Misalnya udara yang bersih, kesehatan, tidur nyaman, makan enak bagi saya itu rezeki dari Allah. Apa jadinya kalau saya tidak lagi makan enak, padahal di hadapan saya saat itu ada sepiring steak, pizza, atau spaghetti. Nyam..

Menyikapi rezeki
Apa yang menjadi pikiran saya saat itu ternyata salah besar, saya salah menyikapi rezeki yang diberikan Allah. Padahal rezeki bertebaran di muka bumi ini tergantung bagaimana kita bisa menyikapinya. Lalu, seperti apa rezeki itu dapat kita sikapi?

-          Bagi saya, berkumpul dengan orang-orang shalih dan mendapat ilmu baru, yaitu ilmu yang tidak pernah saya dapat sebelumnya itu rezeki, sebab hanya orang-orang pilihan yang dikaruniai ilmu maha luas di muka bumi ini
-       Bagi saya, dimudahkan melangkah ke masjid, dimudahkan membaca Al-Quran, dimudahkan berzikir, dimudahkan menyebut asma Allah, disejukkan hatinya, dimudahkan dekat dengan Allah itu rezeki. Sebab pahala-pahala saya terkumpul karenanya. Dunia ini sementara, hasil akhir kita adalah akhirat. Bayangkan kalau saya dijauhkan dari masjid, malas membaca Qur’an, malas beribadah, punya sifat hasad, dengki, iri dan terus saja berfikir negatif tidak ada yang mengingatkan, betapa banyak dosa-dosa saya terkumpul dan kemudian mati dalam kesia-siaan, rezeki saya hilang begitu saja. Padahal, jika kita rajin beribadah, rezeki tidak akan seret, sesuai janji Allah, ‘Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan memperbanyak harta.” (QS Nuh : 10-11)’


-          Bagi saya, ketika saya sakit dan saya ikhlas serta sabar itu rezeki. Sebab ketika kita sakit lalu sabar dan ikhlas dosa-dosa kita akan berguguran. Mana tau ketika saya melakukan banyak kesalahan di dunia, dosa-dosanya berguguran melalui penyakit, timbangan amal saya mungkin bisa berkurang sedikit dosanya. Sebab sakit pula saya bisa memberikan rezeki pada dokter-dokter yang bertugas.
-          Bagi saya, ketika saya sehat pula itu rezeki. Sebab dengan tubuh yang sehat jiwa raga yang kuat saya bisa lebih produktif, aktif menggunakan akal pikiran saya untuk mencari rezeki untuk membantu orang lain
-          Bagi saya hati yang Allah jaga jauh dari iri, dengki dan kebencian adalah rezeki sebab saya tidak perlu menghabiskan waktu untuk menulis status untuk ngiri sama orang, nggak sibuk mikirin orang dengan segala kelebihannya, nggak sibuk ngabisin waktu menggunjing.  Sebab waktu saya yang sangat singkat ini lebih baik digunakan untuk mengumpulkan uang daripada ngurusin hidup orang he.. :D
-          Bagi saya bisa memanfaatkan setiap detik kehidupan ini dengan hal yang bermanfaat ini rezeki. Saya produktif mengetik, membaginya pada orang lain, kemudian orang itu senang dan terinspirasi membaca tulisan saya ini rezeki. Saya bisa mengurus rumah, anak dan suami ini rezeki. Sebab banyak orang yang menghabiskan waktunya hanya dengan duduk-duduk santai, ngobrol ngalur ngidul tak jelas sampai habis umur dan kemudian sadar bahwa mereka tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Saya tidak mau meninggal dalam kesia-siaan tanpa pekerjaan yang bermanfaat dan mendatangkan amal untuk kehidupan saya sesudah mati.
-          Bagi saya hidup lancar tak ada halangan pun rezeki, Masya Allah betapa nikmatnya hidup, walaupun ditengah perjuangan yang berat, mendapati kehidupan yang baik, tetangga ramah, keluarga yang menyemangati itu yang harus saya fikirkan dan itu pula adalah rezeki yang tak ternilai harganya. Bayangkan ada banyak orang di dunia ini yang tak akur dengan tetangga, yang tak akur dengan keluarganya, betapa saya harus mensyukuri nikmat ini.


Sampai-sampai sebab rezeki pun akhirnya menyadarkan saya, saya harus banyak bersyukur agar bisa menikmati rezeki tersebut, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS Ibrahim : 7) tetapi, jikapun rezeki berupa harta tak kunjung datang itu artinya saya harus mencari dan berusaha mendatangkan rezeki itu, bukankah Allah memberi kita akal dan kemampuan untuk berusaha mencari rezeki? Sedangkan yang kekurangan fisik saja mampu mencari rezeki, tidakkah kita malu? ‘Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya’ (QS An-Najm : 39)’ jangan pernah berfikir tak dapat rezeki, sebab rezeki tidak akan tertukar atau diambil orang. Allah sudah memporsikan rezeki untuk kita selama kita mau berusaha. Ganbatene!

Ini kekhawatiran saya perihal rezeki

-          Justru yang harus kita khawatirkan jika kita mempunyai banyak harta namun tidak tergerak hatinya untuk bersedekah, untuk membantu orang yang terlihat susah, bertetangga tidak akur, tidak pernah saling memberi, punya banyak harta tapi beli di pedagang masih banyak nawar.
-          Justru yang saya khawatirkan saya tidak sedih dan menyesal ketika waktu saya terbuang begitu saja, banyak hura-hura, ngobrol tak jelas dan tidak ada satupun pekerjaan yang mampu mengisi waktu luang dengan baik
-          Justru yang saya khawatirkan punya pasangan baik tapi masih selingkuh, punya anak baik dan cerdas tapi tidak dirawat dengan baik.
-          Justru yang saya khawatirkan  ketika hati saya enggan berzikir, shalat hanya sambil lalu, malas mengaji, malas menghadiri kajian, malas mendengarkan ceramah, senandung puji-pujian, dan malas mendengarkan nasihat orang untuk perbaikan diri


Banyak ketakutan saya yang lain jika saya tidak mampu bersyukur, saya takut Allah mencabut nikmat rezeki saya hanya karena saya enggan bersyukur ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu.’ (QS Ibrahim : 7)’ dunia ini penuh dengan rezeki, tergantung bagaimana kita menyikapi setiap detik rezeki yang Allah kasih, ‘Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al-Hadid – 57:20) jangan sampai karena kita kekurangan harta dan tidak mendapati harta berupa lembaran kertas kita enggan bersyukur

-Semoga menginspirasi-

20 comments

Rizki bukan hanya berupa materi ilmu dan teman baik itu juga rezeki ya mbak

Reply

Sepakat mbak
Bergantung kitanya, yang kudu sering-sering berucap Alhamdulillah

Reply

Setuju mba.. Dan bisa baca tulisan ini, yg jd reminder buatku, juga rezeki :) . Kdg kita lupa, Seandainya aja udara di bumi ini ditarik oleh Allah, trus kita megap2 susah bernafas, apa ga sakit dan menderita rasanya? Hal2 kecil begitu sering kita anggab memang sudah seharusnya, bukan rezeki yg diberikan Allah.. Semoga aja kita semua bisa slalu inget dan bersyukur dlm kondisi seperti apapun ya mba

Reply

Suka sama kata2nya mbanya, kalo sehat adalah rejeki. Sya setuju mba, saya pernah skit parah setahun lalu. Waktu sakit, saya baru sadar kalo saya pernah lupa bersyukur saat sehat. Saya tersadar lagi, rejeki bukan melulu soal uang. Saya ngerasain banget benar2 gak bisa apa2 waktu sakit, tapi dari situ saya belajar lebih tentang arti bersyukur.
Catatan yang bermotivasi ^^


Mohon singgah sebentar ke blog saya ya mba Amanda :D
http://nheyta.blogspot.co.id/2018/03/cukup-sekali-saya-menderita-dua-kali.html

Reply

Setuju banget deh. Kita harus pandai bersyukur, bahkan anak pun juga rezeky, hehehe. Apalagi anaknya banyak, eh. XD

Reply

Bisa menjalani hari dengan sehat wal afiat pun juga masuk rezeki, hehe.

Reply

Yang penting kita harus pandai bersyukur atas nikmat yang diberikan, sekecil apa pun rezekinya. :)

Reply

Apapun bentuknya, segala sesuatu yang menguntungkan dan saya dapatkan dari orang-orang di sekitar baik yg kenal maupun tidak saya anggap rejeki. Tapi kalau bentuknya tidak menyenangkan namanya musibah

Reply

Persahabatan yang baik dan saling menjalin silaturrahim juga adalah rizki, karena kita tidak akan pernah bisa hidup sendiri

Reply

Semakin bersyukur semakin ditambah karena kita menyadari setiap rezeki yg datang ya mbak

Reply

Bener, apapun yang kita punya ini wajib disyukuri, jngn pernah ngukur2 pemberian Tuhan, krn pemberian Tuhan selalu berlimpah

Reply

syukurlah, akhirnya sakit menyadarkan semuanya ya mbak. Semoga sehat trus ya mbak

Reply

wkwkwkwk... asyik ya punya anak banyak :D

Reply

Betul mba, semoga kita semua sehat terus ya... :)

Reply

Waaaah, bgtu ya... tetep saya bilang rejeki ah, takut dgn musibah. Anggap aja ujian kesabaran

Reply

Huum, sedih kalau nggak punya temen

Reply

Iy mbak, mudah2an kita selalu awas ya mba dgn rejeki yg dtg :)

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...