Menu

Sunday, 20 August 2017

/

Sungguh, saya baru menyadari banyak sekali penyakit-penyakit baru bermunculan semenjak jaman mulai berkembang, Seharusnya jaman semakin berkembang penyakit bisa diminimalisir dong ya keberadaannya, karena banyak pula metode-metode penyembuhan baru yang ikut berkembang. Salah satu penyakit yang kemudian saya sadari begitu pesat perkembangannya adalah autoimun, yaitu ketika dimana imun dalam tubuh malah menyerang balik tubuh kita, ini kan menyeramkan sekali ya, seharusnya imun yang kita punya bisa menjaga tubuh dengan baik, ealaah ini kok malah menyerang tubuh. Sehingga yang dikhawatirkan adalah, kita tidak punya daya tahan tubuh lagi dan ini sangat rentan terserang penyakit lain.

Ibu saya misalnya, beliau adalah penderita autoimun jenis syndrome sjorgen yaitu sistem autoimun yang menyerang jaringan kelenjar, saya tidak bisa menjelaskan begitu detail bagaimana jenis penyakit ini, karena yang dirasakan penderita penyakit autoimun akan berbeda satu dengan yang lainnya. Dan autoimun ini ternyata cabangnya buanyaaaaak sekali ya, seperti yang dijelaskan teman saya yang menderita penyakit lupus, cabang autoimun ini ada puluhan jenisnya, ada yang kelas ringan sampai kelas berat. Ada yang pengobatannya biasa sampai harus diteraphy berkali-kali
Salah satu cabang penyakit autoimun lainnya yang harus kamu ketahui bernama PSORIASIS. Penyakit ini menyerang penderita autoimun pada bagian kulit, ciri yang ditimbulkan adalah  terjadinya penebalan pada bagian kulit, karena sel kulit tumbuh dengan cepat, sel kulit ini kemudian  membentuk sisik yang sangat tebal dan berwarna keperakan dalam ruam-ruam merah yang terasa sangat gatal, kering dan seringkali sakit jika disentuh.


3 panelis kita yang akan menjelaskan tentang penyakit psoriosis di Indonesia

Lalu apa penyebab timbulnya penyakit ini?
Dr. Danang Tri Wahyudi, SpKK seorang dokter kulit yang berpraktek di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta menjelaskan, penyakit psoriasis timbul karena pola hidup yang tidak teratur, misalnya stress psikologik, infeksi bakteri, trauma fisik, gangguan metabolisme yang bisa saja disebakan oleh narkotika, alkohol, merokok, pola hidup yang tidak sehat seperti malas minum air putih, mengkonsumsi sayur, enggan berolahraga, juga sering jajan sembarangan. Tapi ada pula faktor genetikal, riwayat keluarga yang memiliki penyakit serupa atau obesitas, yaaah obesitas terjadi karena mengkonsumsi makanan yang tidak seimbang tadi kan. Jadi saya mikirnya, antara genetikal dan pola hidup tidak sehat saling berhubungan, misalnya orangtua kita memiliki pola hidup yang sehat dan tidak terserang psoriasis tentu saja tidak akan mewarisi penyakit tersebut pada anak-anaknya.


Dr. Danang menjelaskan tentang penyakit psoriasis di Indonesia

Di Indonesia, penderita psoriasis sekitar 1-3% dari seluruh penduduk, sedangkan 2%nya menempati angka dunia, dan menyerang setidaknya pada manusia di umur 10-30 tahun. Jika awalnya timbul pada usia 15 tahun, kemungkinan penyakit ini adalah turunan, walaupun angkanya kecil seenggaknya penyakit ini harus kita cegah, jangan sampai gara-gara pola hidup yang tidak sehat ada saudara atau keluarga yang kena. Yaa.. walaupun penyakit ini TIDAK MENULAR. Tapi siapa yang tidak sedih jika penyakit ini kemudian menyerang anggota keluarga kita, sebab penyakit autoimun tidak saja membutuhkan mental yang kuat tapi juga dana yang kuat. Penyakit autoimun itu nggak sama kayak penyakit batuk, pilek atau penyakit sederhana lainnya yang kalau rutin dan telaten berobat bisa sembuh, walaupun sama-sama penyakit autoimun adalah penyakit jangka panjang. Kalau orang sudah terkena autoimun, dia akan ketergantungan obat selama hidupnya. Ya seperti ibu saya itu contohnya, setiap bulan harus kontrol, bahkan kalau imunnya tidak di Remisi (sebuah istilah dalam autoimun dimana kondisi imunnya bisa dikendalikan) bisa membuat anggota tubuh lain terasa sakit.

Dalam psoriasis, kurang lebih 30% penderitanya, akan mendapatkan kekakuan dan kerusakan sendi permanen. Psoriasis juga diasosiasikan dengan kondisi kesehatan serius lainnya, seperti diabetes, sakit jantung bahkan depresi. 

Apakah ada yang dilakukan pemerintah terhadap penyakit ini?
Yes, ada. Sebelum semuanya terlambat. Menurut penuturan Dr. Lily Sriwahyuni Sulistywati, MM. Direktur pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular Kemenkes. Pemerintah berupaya mengendalikan angka timbulnya penyakit ini dengan mengedukasi masyarakat agar selalu hidup sehat, kalau masyarakatnya nggak mau nurut ya itu bukan salah pemerintah dong, ntar kalau udah kena sakitnya nyinyir lagi nyalahin pemerintah *eh

Ibu Lily menjelaskan tentang epidemiologi

Selain itu Kementrian kesehatan telah menyusun buku yang berisi tentang pedoman penanggulangan psoriasis, menyusun modul untuk pelatihan penanggulangan psoriasis dan lupus bagi tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Agar tenaga kesehatan kita semakin sigap dan tanggap.

Ada pula yang membuat promosi kesehatan, mengundang media seperti kami para blogger yang diundang kemarin untuk sosialiasi psoriasis pada tanggal 16 agustus 2017 di Westin Hotel Jakarta. Agar kami bisa mensosialisasikan dampak penyakit ini di blog kami.



Sudahkah ada obatnya?
Sama seperti cabang autoimun pada umumnya, psoriasis adalah penyakit jangka panjang, pasien tidak benar-benar bisa sembuh tetapi obat yang dikonsumsi bisa meredam rasa sakit dan mengembalikan kepercayaan diri pasien. Novartis adalah penyedia solusi layanan kesehatan untuk masyarakat yang markasnya berada di Basel Swiss, memproduksi berbagai macam obat-obatan yang dijual pada 155 negara. Obat-obatan yang diproduksi oleh Novartis diusahakan dijual dengan harga yang sangat efisien agar masyarakat dapat menjangkau dan mengkonsumsinya dengan mudah. Untuk penyakit psoriasis ini Novartis memproduksi secukinumb, obat ini terdiri dari salep, injeksi dan obat minum. Secukinumb sendiri dibuat dengan rekayasa genetis yang didapat dari gen manusia yang dirancang untuk menghambat komponen spesifik di sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan inflamasi. Sederhananya, obat ini akan bereaksi dengan menghambat siklus respon daya tahan tubuh terhadap penyakit tersebut.
Pasien psoriasis dapat melakukan treatment injeksi 1x setiap bulan selama 6-8 bulan, dan mengoleskan salep sesuai petunjuk dokter. Ya, pasien psoriasis harus menemui dokter yang mengerti dan paham pada penyakit ini.

Bapak Milan Paleja
Di Indonesia, bagi para penderita psoriasis yang memegang kartu BPJS dapat mengkonsumsi obat ini lebih terjangkau. Milan Paleja, General Manajer Pharma, President Director Novartis Group Indonesia yang aksen Hindinya kental banget ini menjelaskan, jika ingin meredam pasien psoriasis harus membutuhkan pengobatan yang intensiv jika ingin keadaannya membaik. Dan tentunya, jangan lupa hidup sehat ^^

Westin Hotel
16 Agutus 2017
6 comments

Yang penting, harus dicegah mulai sekarang, ya? :(

Reply

Ngeri kalau nggak ada obatnya tuh. Bahkan obat pereda nyeri juga nggak bagus kan kalau dikonsumsi terus menerus? :'D

Reply

Bener mba, jangan abai, serem banget soalnya kalau sampai kena

Reply

Huum, banyakin minum air putih kalau udah sakit, jangan ketergantungan obat :(

Reply

Saya punya alergi dan efeknya ke kulit. Kadang sampe jangka panjang baru sembuh. Itu aja rasanya udah bikin stress banget. Apalagi psoriasis, ya. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan aamiin

Reply

tapi tetep harus diperiksain ya mba penyebab alerghinya itu :)

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...