Menu

Thursday, 15 September 2016

/

Setiap perjalanan pasti bakalan ada drama-drama lebay yang jadi bumbu, karena tanpa bumbu travelling kita nggak akan seru. Nah, pas pergi ke KL kemarin, jangankan pas selama travelling, pas sebelum jalan aja sudah banyak bumbu yang bikin baper. Saya peringatkan, ketika baca kisah ini kalian jangan ngakak yak arena kelebayan kita. Baiklah kita mulai saja cerita-cerita lebay ini,


Tragedi Tia
Saya sebenernya pengen berangkat jam 6 agar pas saya pergi Naqib nggak melihat kepergian saya, namun bapak saya bilang “Buat apa pergi pagi-pagi? Ini kan minggu toh jalanan nggak macet” beruntung lagi bapaknya Naqib dateng karena ada diklat di Bogor. Ya sudah, pas saya pergi Naqib diajak jalan-jalan keliling komplek sama Bapaknya.
Nah kisah pertama terlewati, nggak bakalan ada cerita tangis-tangisan antara ibu dan anak. Saya kemudian janjian dengan Ubhay dan Mbak Wiek di pangkalan Damri Bekasi,  jam 7 lewat. Tinggal menunggu Tia. Dari semenjak kita ada di Damri sampai tiba di Soeta, Tia nggak bisa dihubungin, buset dah ini orang niat kagak sih ngikut. Berkali-kali di Wasap pun dia nggak bales, oh ya sudah kita berasumsi Tia nggak ikut.
Terus iseng lagi kita W.A, “Tiwul! Woi… lo jadi ikut nggak sih?”
“Iyaaa mbaaak” Cuma itu jawabannya.
Mba wiek W.A lagi, “Tia lo dimana?”
Dibales, “Masih dirumah mba…”
Seketika kita semua yang ada di situ istighfar, “Aduh si Tia ini jam 9 masih dirumah, sampe cengkareng jam berapa?” gregetan tingkat akut. Rasanya kepingin jedotin pala Tia ke tembok.
Nggak lama kemudian W.A kembali bergetar, mba Vira mendesis, “Ya Amploop si Tia katanya mau balik lagi, ada yang ketinggalan”
Saya yang lagi ngetik sih pura-pura masa bodo, tapi dalam hati gregetan juga, rasanya pengen melumat Tia dalem-dalem dan mengeluarkannya jadi bakso, yeaaah Bakso TIA :p
Kurang dari setengah jam Tia dateng, saat itu kira-kira jam setengah 11, semua pada pengen gigit si Tia,”Tiaaaa lo dari mana aja, semuanya pada khawatir” Tia cuma mesem-mesem aja.
“Terus yang ketinggalan apa Tia?” tanyaku
“Ringgit aku mba,”
“Lah terus ini nggak bawa ringgit?”
“Bawa mbak tapi nggak semua. Jadi ringgit aku di selip-selipin di buku gitu, dan bukunya salah bawa” makjleb deh.
Dan kisah ketelatan Tia ini kemudian tanpa sadar dia ceritakan waktu kita bahas ketelatan Tia.
“Aku sih sebenernya berangkat dari Cikampek mbak. Sengaja di telat-telatin biar kalian khawatir gitu, nah nanti pas tiba-tiba aku dateng kan kalian kaget tuh, trus bilang, ‘Wiih Tiaa.. kok cepet banget datengnya dari Bekasi naik apa?,’ Langsung deh pada shock” mendengar ini saya rasanya pengen kembali jedotin Tia ke tembok sampe benjol.

Ini yang namanya Tia nih

Fitaaa kemana??
Nah selesai tuh Drama si Tiwul markiwul. Kita delay 15 menit, dan kemudian berangkat dengan cuaca baik. Seneng dong ya, sampai di KL kita disambut hujan ala-ala indiahe, romantis gitu. Nah, perlu kalian ketahui, antara kami berlima (mbak Vira, aku, Ubhay, mbak Wiek dan Tia) dengan mbak April, mbak Nadiah, Nyur dan Fita beda-beda jam kebrangkatannya. Ini dikarenakan ketika kita pesan tiket, Fita nggak nongol-nongol di grup dan kita beranggapan Fita nggak jadi berangkat. Sedangkan mbak April, Nur, mba Nadiah saat itu masih galau. Cuma kita berlima yang manteb dan nekat pesen tiket. Ya dan akhirnya terjadilah tragedi ini, keberangkatan dengan jam yang beda-beda. Si Fita paling perdana berangkat sekitar jam 8.30 dia sudah take off sedangkan kita jam 11.30, mba April dan Mba Nadiah take off jam 13.30, sedangkan Nur besoknya jam 13.30. Nah sebab keberangkatan yang beda-beda itulah drama-drama lebay kemudian banyak terjadi. Seperti dramanya si Fita.
Pas sampai di KLIA kita langsung kepikiran Fita, Fita apa kabarnya ya di negeri orang, sudah makan apa belum? Lagi apa? Dimana? Kemudian kita buru-buru antri di Imigrasi yang panjangnya sampe 100 meter, nyari makan dan beli tiket bis menuju KL sentral. SMS demi SMS bermunculan dari Fita
“Kalian dimana? Aku sendirian nih, horror diliatin orang Bangladesh, aku ketakutan huhuhu”
Kita ngikik aja di KLIA, sukuuur.. beraniin ya Pit hihihi…
“Udah biarin, biar Fita berani. Lama-lamain aja dulu disini yak wkwk..” kata mba Vira ngakak baca smsnya Fita.
Nggak lama kemudian Fita SMS lagi,
“Kalian dimana? Masih lama?”
“Kita sudah di bis ini, tunggu ya mba Fita” bales Ubhay
1 jam kemudian Fita sms lagi, “Batere aku lowbet. Kalian dimana T_T?” waduh, alamat susah ini nyari Fita. Setelah kita naik MRT dari KL Sentral menuju pasar seni, kita sms Fita lagi.
“Fit kita sudah sampe, kamu dimana?”Nggak dibales, sedangkan kita belum shalat zuhur dan Asar, saat itu waktu sudah mendekati pukul 7 malem, waktunya shalat maghrib. Nggak lama,
“Aku di Texas chicken nih,” saat itu kita kita belum nyadar kalau ternyata Texas itu cuma selemparan batu dari stasiun pasar seni.
“Ya udah kesini cepetan, kita udah di stasiun pasar seni”Nggak dibales.
“Sambil nunggu Fita kita shalat dulu yuk,” sahut mbak Vira, eh pas ngomong gitu Fita ujug-ujug dateng.
“Huuaaa aku takut, masak ada orang Bangladesh bentuk-bentuk lope-lope gitu ditangannya sambil nunjukin ke aku. Horor, kalian lama banget sih jemputnya” hahaha kami berlima ngakak. Yang penting sekarang Fita sudah ketemu, tinggal nunggu mba April dan Mba Nadiah aja, kita naik GOKL menuju stasiun Bangkok Bank, sementara azan magrib sudah berkumandang. Dan drama Fita telah berakhir.
 
Nih Si Pitut -_-
Kasur buat Mba April gimana?
Selesai mandi, saatnya kita menanti mba April yang katanya sudah nyampe jam 7 malem  ini,  dia masih dijalan menuju hotel. Huh bener-bener kita kecapekan, sambil ngebully Fita, satu-satu dari kita mandi dan shalat maghrib.
“Pit, jadi elu cuma dapet ayam 2 biji, kentang sama salad?”
“Iya ini gue laper, belum makan nasi dari pagi,” udah tau Fita belum makan, kita asik malakin ayamnya Fita yang cuma seuprit, secara kita juga laper. Nggak nyadar waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam waktu KL.
“Eh, gimana ini mba April? Kita nggak keluar? Kita makan dulu yuk?” kataku
“Eh jam 9?”
“Waduh, nggak kerasa yak. Ya udah yok pake baju. Kita jemput mbak april,” semua dari kita langsung pakai baju pergi lagi dan menunggu di Lobby yang ternyata mba April sudah disana. Selesai cipika-cipiki dan heboh menanyakan kabar mba April kemudian menanyakan pihak hotel apakah extra bed ada.
“Pihak hotel tidak menyediakan extra bed” sahut laki-laki India dengan bahasa inggrisnya yang ala-ala bombai gitu.
“Tapi di keterangannya sudah saya tulis, extra bed untuk hari senin,”
“Iya tapi maaf, kami tidak punya extra bed”
“Saya sudah request via Traveloka.”
“Maaf, saya sudah bilang tidak ada extra bed, jikapun request, itu murni kesalahan Traveloka Karena kami tidak ada extra bed,”
“Oke, kalau misalnya pesen kamar berapa harga semalam?”
“Sekitar tiga ratus ribuan” *sudah dikurskan ya omongan ini*
“Aduh mahal banget..”
“Atau mau sharing dengan penghuni lain, harganya bisa lebih murah,”
Mba April mikir, “Gue nggak nyaman bobok sama orang lain walaupun sama-sama perempuan,”
Setelahnya kita semua ikutan mikir.
“Kalau gabung sama kita aja gimana tidurnya, tapi nggak usah pakai extra bed?” dan pihak hotel menyetujuinya, mbak April juga nggak bayar untuk hari itu, tapi tetep nggak ada extra bed. Jadi harus ada yang merelakan tidur berdua dengan mba April, dan itu adalah Fita yang badannya paling ceking diantara kita.
“Tau gitu gue pesen kamar dari jauh-jauh hari kalau tau kayak begini” aduh, saya jadi punya rasa bersalah yang besar sama mba April ini T_T, maafin aku ya bun..bun, habis setelah booking hotel juga nggak ada konfirmasi dari pihak hotel kalau extra bed nggak ada. Kan jadinya kupikir extra bed ready T_T… maaf ya bun..bun..Drama pun berakhir dengan penyesalan.

Si Bundel April

Kekhawatiran tingkat dewa untuk Nyur.
Nuraini, ah enaknya dipanggil Nyur ajalah ya. Ini peserta yang paling akhir datengnya. Yaitu di hari senin yang pada hari esoknya adalah hari kepulangan kita. Dan beruntung pesawat kita di delay jam 12.15 dini hari (pesawat sebelumnya jam 10.30) jadinya kita bisa nemenin nyur jalan-jalan tanpa buru-buru pengen pulang. Sedangkan Nyur pulang pada hari Kamis barengan mbak Nadiah dan mbak April.  Jadi Nur ini sebenernya pergi bareng kedua anak dan suaminya, tapi karena suaminya mendadak ada tugas di Palembang dia pun menggalau di Whatsapp
“Gue pergi sama siapa ya? Suami gue beum pulang. Apa baiknya pergi sama anak-anak aja,”
“Aduh Nyur mending jangan bawa anak-anak deh, kesian kamu pasti bakalan kerepotan,”
“Nggak apa-apa aku udah biasa,”
“Iya mungkin dirimu biasa, tapi yakin deh kalau bawa anak-anak pasti bakalan cape”
Dan akhirnys setelah nurut sama kita, Nyur berangkat sendirian nggak pake bawa-bawa anak. Terakhir dia berangkat kita masih bisa kontak-kontakan tuh sama dia, kalau nggak salah kita lagi di masjid Jamek. Langsung aja kita kasih tau, kalau dari KLIA2 harus kesini...kesini…kesini. Nah sudah tuh ya, kita melanjutkan plesiran kita ke Batu Caves. Pas di Batu Caves kemudian kita mikir, pasti Nyur udah sampe nih ya, lagi dimana nih anak.
Sesekali ada yang nemu sinyal Wifi kita tanya si Nyur lagi dimana, dan tidak berbalas sama sekali. Sampai akhirnya kita kembali ke hotel Nyur nggak ada kabar, dan disinilah awal kepanikan kita semua.
“Nyurrr kamu dimana sih ya Allah,” mba April panik.
“Mungkin lagi sama mba Nadiah kali Bun,” sahutku
“Aku takutnya dia nyasar. Dari jam 2 masak belum sampek juga sih, minimal ngasih kabar kek,” sambil nungguin Nyur datang, satu-satu dari kita mandi.
“Iya kayaknya dia mah udah sampai deh, nggak mungkin belum nyampe sampai sekarang,”
“Iya tapi dimana,”
“Dia pemalu lagi anaknya,”
“Nggak kok, dia lebih berani dari Fita,” *inget nggak ini siapa ya yang ngomong wkwk*
“Untung dia nggak sama anak-anak ya. Nggak kebayang repotnya kalau dia pergi sama bocah-bocah,” semuanya ngomelin Nyur, tapi dia nggak tau kalau lagi diomelin.
Gregetan nggak sih, kita nungguin orang tapi nggak ada kabar?  Dan akhirnya kita semua beranggapan kalau Nyur lagi pergi sama mbak Nadiah, dan malam itu kita lanjut pergi ke Petronas.
Pulang dari Petronas, Nyur baru ngasih kabar. Dan malam itu kita lagi makan di Al-Baik
“Hai kalian dimana sih? Aku sudah sampe Areena nih”
“Lagi makan” salah satu dari kita balas Whats app Nyur.
“Jangan lama-lama ya, aku sendirian ini.”
Ieuuuh.. sebel deh.
Balik ke hotel kita pun berkemas untuk tidur, dan lega karena Nyur akhirnya sudah sampek hotel. Ndilalah pas kita sudah mulai baca doa tidur sebuah teriakan dan cekakak-cekikik muncul dari arah luar
“Semuanya tidur dah, itu si Nyur diluar,” sahutku
Dan betul saja, ketika kita ingin memulai tidur sebuah teriakan muncul
“ASSALAMUALAIKUUUUM, WOOI BANGUN-BANGUN, AKU DATANG NIIIH…..  Ah kalian ini pada pura-pura tidur semua” sungguh mengganggu, udah bikin panik juga -_-
“Mbak Manda banguuuun!” Nyur menarik selimutku paksa dan tersingkaplah diriku yang hanya pakai baju pendek
“Kyaaaaaa… Astaghfirullah!”
“Lagi lu buka-buka, sini selimutnya! Dasar tukang bikin panik,” lalu mengalirlah cerita si Nyur bahwa tadi sebetulnya pas sampai KLIA2 dia langsung naik bis dan menuju ke hotel Geo, dari hotel Geo daripada kayak anak ilang dia diajak jalan ke KL Tower. Dan selama itu pula hpnya mati. Asem! Kita udah nungguin sampe jamuran dan harap-harap cemas dia malah bisa haha hihi dan jalan-jalan. Drama berakhir dengan gerutuan, nyebeliiiin!
 
Menul
Pacar Fita :p
Maaf ya Fit nggak ada maksud ngebahas ini, tapi seru pisan kalau bahas orang satu ini :D. Jadi ceritanya kita sering makan di rumah makan Al-baik. Rumah makan ini menyediakan banyak makanan yang berbau-bau kare gitu. Nah karena kami orang udik yang baru perdana ke Malaysia *kecuali mba Nadiah* kepingin dong nyobain semuanya. Jadilah ketika pelayan Al-baik datang dia harus menunggu sangat lama karena kita  manusia-manusia cerewet sibuk milihnya daripada mesennya. Ditengah-tengah mesen itu rupanya pelayan Al-Baik yang berwajah campuran India memperhatikan Fita, jie..jie.. sebab, Fita terus yang ditanyain mau makan apaan :p
Nah pernah esoknya kita makan di situ lagi *ini sangking bingung mau makan apaan, karena di KL alternative kuliner itu-itu aja* saya waktu itu pesen teh tarik panas, kepanasan dong dan kepingin segera dingin airnya. Lalu saja saya bilang “Saya nak ice cube ya pak cik”
“Ape? Aisyeee?” entah kondisi kita yang tengah lapar atau nggak konsen, mbak April yang saat itu ada di depan Fita menunjuk Fita secara sadis, “Ini die Aisye” saya membelalak kaget. Orang gue minta es juga T_T.., nah gara-gara tunjuk-tunjukkan itu sang pelayan Al-Baik kemudian mengira Fita bernama Aisye. Ihiiiiiiirr…. Semenjak saat itu Fita pun diuluki Aisye dan si pelayan dipanggil akang Fahri wkwkwk..
Oh ya di hari kepulangan saya, saya sempatkan untuk beli oleh-oleh di ChinaTown karena sore itu mendung dan akan turun hujan saya buru-buru jalan, karena jarak antara ChinaTown dan hotel geo lumayan jauh. Dan lagi-lagi saya harus melewati restoran Al-Baik. Ditengah lari-lari yang heboh itu si akang Fahri melihat saya dan heboh bertanya, “Heeei mane Aisyeee?” sumpah dia masih inget dan sumpah saya kaget. Fitaaaa balik lagi gih, jodohmu di Malaysia kalii hehe..

Ada yang niat banget motoin dia wkwk

Akhir kepulangan.
Beruntung pesawat kita di delay, karena di hari terakhir itu kita masiiiiiih aja getol jalan-jalan. Padahal wajah sudah menunjukkan kelelahan tingkat dewa. Nah karena ngerasa pesawat kena delay itulah yang menyebabkan kita santai-santai, nggak taunya semua diluar prediksi. Malaysia hujan deras dan kita harus menunggu hujan turun dengan reda. Saat itu kita ada di hotel Geo sedangkan barang-barang ada di Arena, jarak antara Geo dan Arena lumayan bikin kaki gempor dan harus naik purple bus alias bis gratis untuk sampai di sana. Okelah setelah semua selesai dandan kita langsung cus, nggak sempet haha hihi lagi dan pamitan dengan mba Nadiah yang pulangnya belakangan, kita langsung berangkat.
Sampai di pemberhentin bus, bus bandara yang kita nanti-nanti ini telat 30 menit, mba Wiek berkata “Kalau pesawat kita nggak delay kita terlambat ini naik pesawat” dengan menunjukan muka pucat pasinya. Perut dalam keadaan lapar, mata mengantuk dan bus belum datang. Selesai sudah. Pengen beli roti, helooow ini bukan Indonesia yang dimana-mana jual Roti. Ya sudahlah tahan dulu. Untungnya bis yang dinanti datang juga, kita buru-buru naik dan bis pun melaju dengan kecepatan tinggi. *Iya bisnya ngebut coy!* ngebut aja sampai bandara 1 jam, nah bayangin kalau bisnya nggak ngebut lalu macet kayak Jakarta. Saya yang sedari tadi hanya melirik jam nggak bisa tidur. Jam sebelas kurang lima belas menit bus sampai di bandara, kita turun dengan terburu-buru sambil lari-lari heboh kayak anak-anak labil ngejar artis korea seganteng won bin!
Dan, selamat datang di Bandara yang bikin kakimu segede gedebok pisang, KLIA. Bandara yang menyatu dengan Mall ini bikin kamu pangen nangis buat sampai ke area check-innya, gimana enggak, kita kudu naik eskalator sebanyak.. *kayaknya sampe 4 kali dah*, belum lagi dari 1 eskalator ke eskalator yang lain dengan jarak tempuh yang aduhai mama sayangeee.. larii….lariiii dan lariii. Sampai di Area Check in kita ternyata nggak bisa self Check in, karena pesawat kita nggak terdeteksi. Karena barcode yang bisa terdeteksi cuma keberangkatan sebelum delay, Mampus semampus mampusnya. Dengan semangat 45 kita nanya kembali ke mbak-mbak petugas Air asia disana. Dan inti dari semua pertanyaan ini kita kudu check in sendiri di sebuah loket khusus di pojokan bandara. Lari-lari lagi buat nyari loket ini, karena semua loket tutup. Ditengah kepasrahan akhirnya kami menemukan loket tersebut.
Where do you come from” dengan aksen Melayu petugas ini menanyakan kami. Karena aksennya susah dimengerti kita jadi saling pandang, ini orang nanya apaan. Atau kita yang lagi butuh air mineral kali ya :D sampai berkali-kali pula orang tersebut nanya yang hanya dijawab “Hah..?”, “Hah…” wkwk kemudian petugas ini kesal sekesal-kesalnya
“Kalian dari maneee!”
Serampak kita mengucapkan “Oooooooo, Indonesia pakcik”
“Kenape jam segini baru check in,”
Diatanya super jutek begitu kita nggak ada yang jawab. Dengan perasaan kesal si pakciknya ini melayani kami dengan muka cembetut. Alhamdulillah kita sudah dapat boarding pas, saatnya berlari kembali menuju ruang tunggu. Dan dari ruang check in ke ruang tunggu terimakasih lagi, jauuuuuh… ngantuk, belum makan, pengen pipis, haus. Lengkap ya..
Sudah sampai ruang check in saya ajak temen-temen untuk makan, pada nggak mau huaaaa.. padahal saya udah nyisihin duit 13RM buat makan tuh disana, akhirnya malah nggak kepake karena saya makan kemudian ditraktir ubay. Ubhay pesen nasi telur dan ada sosisnya, tapi saya nggak ngerasain nikmatnya makan, karena nasinya keras dan rasanya hambar. Alahmak, makanan apa ini T_T? ya sudahlah karena lapar saya berdua ubhay makan dan habis. Nggak lama pesawat boarding dan kita pun terbang.. Alhamdulillah drama menyedihkan mengejar check in berakhir.

Cobaan lagi T_T
Alhamdulillah sampai juga di komplek perumahan dengan selamat, setelah kembali saya tegang di jalan karena takut supirnya ngantuk, habisan dia ngebut banget bawa mobilnya, horooooorrr.. taxi ini sebenernya sudah nganterin mba Wiek dan mba Vira, tinggal saya, ubhay dan Tia. Kebetulan karena Tia dan Ubhay rumahnya deketan ya udah saya yang dianterin duluan. Dan tahukah kalian pas sampai di komplek perumahan saya? Ternyata semua jalanan diportal, ya komplek saya ini terkenal akan copet dan malingnya yang menawan alias banyak bangeeet jadi sebagai antisipasi semua warga sepakat buat bikin portal di jalan-jalan utama. Dan itu dia gara-gara jalanan di portal saya bingung mau turun di mana. Akhirnya saya turun di gang yang paling terdekat dengan rumah saya, saat itu yang ada dalam benak saya bukan hantu yang muncul tiba-tiba. Tapi maling atau anjing liar yang bisa aja muncul, maka jalan cepat adalah yang terbaik. Sumpah horror banget, saya nggak begitu takut hantu. Lah hantu kalau misalnya dibacain ayat kursi dia bisa hilang, kalau maling yang ada nggorokin pisau ke saya bisa deh T_T.
Alhamdulillah lagi, lari-lari kecil saya membawa koper super berat akhirnya sampai juga dirumah. Saya nggak perduli saya laper saat itu, yang ada di benak saya adalah tidur dan ketemu Naqib. Selesai gosok gigi dan cuci muka, saya jumpai Naqib di kamar mami yang tengah terbangun
“Ibu tudah puwang,”
“Iya nak,”
“Ibu atib mau nenen,” jiaaaaaaaa gagal dah nyapih… drama nenen pun kembali terulang.

Untung nggak bawa Naqib
Sebelumnya sudah baca kisah saya yang ini belum, kenapa akhirnya saya nggak bawa Naqib ke Malaysia? Dan saya bersyukur banget akhirnya Naqib nggak ikutan, Alhamdulillah ini kesalahan dan keteledoran yang patut disyukuri banget. Sebab saya kan backapacker, ngecer kemana-mana nggak pake travel atau taxi. Saya ngebayangin kalau bawa Naqib gimana capeknya, turun naik bus, pindah jalur kereta, naik turun tangga, makan telat dan pulang sudah larut malam. Sungguh Alhamdulillah banget saya dikasih kesalahan dalam beli ticket, di sini saya merasa Allah sangat baik sama saya. Saya ngebayangin seandainya Naqib ikut gimana ya, baru 1 jam di Kuala Lumpur mungkin dia sudah minta pulang sangking capeknya, dan mungkin saya nggak bakalan bisa ke banyak tempat karena Naqib akan kelelahan ketika mengunjungi 1 tempat saja. Belum lagi dia ini tipe anak yang rewelan dan mudah lelah, selalu minta gendong kalau manjanya kumat. Masya Allah deh, bener-bener.. mudah-mudahan ya nak suatu hari nanti kita ke sini lagi sama abah, biar bahagianya ibu bisa Naqib rasain juga. Maaf kalau Naqib nggak ibu ajak waktu itu T_T *baper*


Ambon, sore hari
Postingan tertunda traveling kemarin 

30 comments

aku sewaktu ke KL juga gitu mbak kemana-mana naik kereta ganti-ganti stasiun, untungnya ada temen adikku juga disana yang bisa ngarahin :)

Reply

Assallammuallaikum..Kapan ya maen kesana sembari ngajak family..hehhee

Reply

Banyakk ya dramanya. Emang lah klo traveling itu pasti aja ada dramanya. Kemarin anak-anak pas dibawa ke Singapore-KL juga ada dramanya, tapi Alhamdulillah bisa di handle. Mereka banyakan excitednya. Doyan jalan, naik kereta, naik turun bus, mereka seneng-seneng aja. Dan pas di KLIA, malah excited jalan dari turun bus sampe ruang tunggu. Sensasinya beda kalau traveling bawa anak. Serunya nambah, walau cape tapi jadi kenangam banget. Next, harus nyoba ngajak naqib ke LN yaa nda :) pasti seruu :)

Reply

Seneng banget punya kenang2an cerita bareng kaliaaan... Love yoouu all... kapan2 kita jalan2, seru2an lagiiii

Reply

Ya ampun serunya. Pengen jitak si pakcik tuh. Ga tau apa orang ngos2an abis lari2an ngejar eskalator. :D

Reply

buahahhhhh seru banget ceritanya XD

Reply

wkwkkw ... dramanya banyak. Seru kalau dikenang lagi, ya :D

Reply

Mba mandanya mana foto dewean hehe..

Reply

Aih kepengen banget dah ke KL hehhe

Reply

Aaahh.. kalau jalan rame-rame gini seru bangetttt..

Reply

Ya sama aja sebenernya kayak di Jakarta, cuma karena di daerah orang jadi keliatannya ribet

Reply

Waalaikumsalam,mudah-mudahan secepatnya ya pak ^^

Reply

Iya nanti Insya Allah bawa Naqib deh :)
pengen juga ke Singapore sama dia :)

Reply

Iya bun, Insya Allah ya :)

Reply

Iya bener apalagi kita belum makan, pengen pipis, ngantuk diomelin pulak T_T

Reply

Iya, jadi pengen jalan2 lagi bareng mereka :)

Reply

Mudah2an besok ya mba, amiiiiin

Reply

Biiingiiiiiiiits, pengen jalan2 lagi jadinya :)

Reply

huaaa.. cerita dolan-dolannya asyik Mandaaa.. jadi pengen ke KL juga, kira-kira ntar bakal ngalamin drama juga ga ya ? wahahaha...

Reply

Wuaahh..perjalanan yg super duper penuh drama mba..
Seru bacanya.

Reply

Pasti berbeda hihihi, mudah2an next time ya ke KL

Reply

Wahahahaha.. tp Alhamdulillah kita pulang-pergi selamet

Reply

Betul...betul...betul

Reply

Dont be sad Erna, next time kita traveling bareng ya sama anak2

Reply

Lengkap banget ni, dramanya. Gokil abis! Bisa dibuat mini seri, ne! :))

Reply

Haha lebay deh 😝😝

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...