Menu

Thursday, 1 September 2016

/

Ini kelanjutan kisah saya yang merupakan tugas dari suami, sebenernya ini bukan dia yang nyuruh, tapi lama-lama kok saya baper ya gara-gara dia ngomongin pindah mulu tapi dianya juga dalam kondisi galau. Walaupun suami saya bulet udah tekadnya buat pindah ke Bekasi, tapi pindahnya nggak tahu kapan *ya dia aja masih galau :D*, masih rahasia juga dan ini cuma Allah aja yang tau, ya iya bisa saja saat ini suami bilang setahun lagi, tapi Allah menakdirkan 2 tahun lagi *doeeeng, suamiku langsung pingsan :p*.

Seperti terlempar ke masa lalu ketika dua minggu setelah menikah saya pergi sendiri menyusul suami pergi ke Ambon, perjalanan yang biasa menurut saya, karena sudah terbiasa pergi kemana-mana sendirian dan sudah biasa jauh-jauhan dari keluarga. Pengalaman merantau dan hidup dengan keluarga di mana saja membuat saya terlatih mandiri dengan terpaksa :D
Di Ambon, saya kemudian menjalani hari-hari menjadi istri baru. Saya belajar menjadi istri seorang diri, tanpa campur tangan orangtua juga mertua. Jadi jika kami punya kesalahan tidak serta merta salah satu dari orangtua kita membela anaknya, semuanya kita selesaikan sendiri. dan ini yang kemudian mendewasakan kita.

Sahabat-sahabat Naqib yang juga anak rantau

Bukan tanpa ujian kita hidup di Ambon, mulai dari seringnya mati listrik berkepanjangan. Bayangin aja, dulu mati lampu bisa 8 jam sehari dan ini bisa 3x seminggu, sangat menyebalkan sekali ya. Saya ingat, dulu mati listrik seringnya di hari sabtu. Kalau sudah begini suamiku pasti akan ngajak saya untuk sekedar menghabiskan waktu ke luar. Makan cotto Makassar di cotto Anda, jalan-jalan di A.Y Patti, atau sekedar baca buku di gramedia Amplaz. Dulu kita belum punya roda dua, kemana-mana pasti pergi ngangkot. Atau jika malas jalan kaki, kita akan berdua naik becak untuk pulang, di depan patung Pattimura saat becak kami melintas suamiku sempat berkata, “Kita di Ambon loh yang ini, entah beberapa tahun lagi kita dimana, nikmati aja ya..” ya saya sih kemanapun suami melangkah ikut aja.

Bakalan kangen sama pantai ini T_T,

Pernah pula kita harus menebalkan muka, lantaran mandi di tempat tetangga karena air di tempat kita sudah habis. Jangan bayangkan air bisa mengalir setiap hari, di Ambon air ngalir 2 hari sekali kadang pernah pula tak ngalir selama seminggu. Kalau sudah begini, biasanya saya mandi di tempat bu Har yang punya penampungan lebih besar dari rumah saya, beliau sekarang tinggal di Bogor. Bu Har lebih tua 2 tahun dari ibu saya, dan wajar beliau seperti menganggap saya anak sendiri. pernah suatu hari bu Har memanggil saya  kerumahnya, rumah beliau hanya beda gang dari rumah saya,
“Ada apa bu?”
“Saya inget, mba Manda suka banget otak sapi. Saya tadi kepasar, saya beliin. Nih saya masakin special buat mba Manda.” Di tanah rantau, tetangga adalah saudara yang paling bisa mengerti kita. Saya terenyuh dan nggak bisa berkata-kata saat itu selain bilang, “Makasih bu, udah inget saya” T_T. pengen nangis tapi malu :D, saya ingat pula ketika hujan tanpa jeda mengguyur kota Ambon dan ada hujan angin yang sibuk menerbangkan atap-atap rumah kita. Saya ketakutan,  saat itu, saya hanya sendiri di sana, suami sedang tugas. Hanya tetangga yang bisa menampung saya yang butuh teman curhat, lalu saya menginap di rumah teh Rini dengan Lina yang suami-suami kita sedang dalam satu team bertugas. Kami bertiga sama-sama dari jawa barat. Malam itu menjadi malam yang sangat panjang karena anak-anak teman saya sibuk menangis dan angin masih bergemuruh nakal di langit.
Hampir 2 tahun saya tinggal di tanah raja-raja ini. banyak kisah sedih, haru, senang, bahagia kita jalani berdua, menikmati hari-hari menunggu buah hati yang tak kunjung menemani. Saya ingat ketika suami pergi tugas nyaris 2 minggu, saat itu saya belum punya laptop, belum punya smartphone, dan teman saya hanya buku dan TV, saya nyaris seperti orang gila, bingung mau menghabiskan waktu seperti apa. Hanya berteman sepi, sunyi dan sendiri.

Bakalan kangen saat-saat traveling, dan blusukan bareng di Maluku

Di tahun  ke dua pernikahan, suami mendapat beasiswa kuliah dan ditempatkan di Makassar. Sebagai seorang istri, wajiblah saya menemani suami kuliah di sana. Tapi masih mending sih, di Makassar kemudian saya bisa membeli leptop dan mulai mengisi waktu-waktu luang saya sembari suami kuliah. Di bulan ketiga kami tinggal, sebuah gerakan mungil mengisi perut saya. Anugrah yang saya tunggu selama 2 tahun akhirnya datang juga. Karena tak tega melihat saya nampak seperti orang depresi *ya, siapa sih yang nggak stress. Terus-terusan di kamar nggak bisa ngapa-ngapain* saya kembali ke Bekasi, untung suami libur semester saat itu. Saya hamil, melahirkan dan membesarkan Naqib sampai usia 22 bulan disini, dan saya terus berdoa.. ‘Mudah-mudahan suamiku belum pindah dulu. Saya masih ingin tinggal di Ambon T_T, pengen ngajak Naqib ngerantau, merasakan bagaimana perjuangan emak bapaknya disini’ sebab suamiku sudah mendapat semacam intimidasi dari banyak orang, “Hayoo pindaaah… hayo pindah, emangnya enak jauh-jauhan dari anak istri”, Aduh ya Allah, kejamnya orang-orang ini. Mereka nggak tau, hati saya masih tertinggal di Ambon. Suami akhirnya lulus kuliah dan harus tinggal dan mengabdi dulu di Ambon ini sebagai balas jasanya kepada instansi yang sudah menyekolahkannya sampai lulus.
“Bah masih lama di Ambon?”
“Ya sekitar tiga tahun lagi”
“Saya pengen ikut, boleh ya” sahutku memelas. Karena menurut hukum islam. Tidak baik bagi seorang laki-laki yang sudah menikah hidup sendiri.
“Tunggu ya, mudah-mudahan abah ada rezeki, bisa bawa nayang *panggilan sayang* dan Naqib kesini”

Bakalan kangen dengan saudara-saudara saya ini, saudara sesama perantau

Dengan membulatkan tekad, suami akhirnya membawa saya untuk tinggal kembali ke Ambon, saya membawa Naqib yang saat itu belum genap 2 tahun. Karena awalnya suami saya belum terfikirkan untuk membawa saya kembali ke sini karena susahnya mencari kontrakan dan keterbatasan dana tentunya. Tapi karena berkumpul dengan keluarga adalah bagian dari ibadah, Allah memudahkan semuanya.
Habis lebaran saya hijrah di kota ini kembali. Menjajaki tiap langkah di kota Ambon seperti mengenang perjalanan sekian tahun bersama suami. Saya suka bercerita pada Naqib, “Qib, dulu abah sama ibu suka naik becak lewat jalan ini berdua. Sekarang kita bertiga”.
Sekitar 3 bulan kita menetap di Ambon, suami membeli kendaraan roda dua. Memudahkan akses perjalanan yang sebelumnya harus kita tempuh 400 meter untuk keluar dari rumah menuju jalan besar yang tersedia angkot, kini jejak itu kembali menambah torehan. Saya pasti akan rindu masa-masa dimana saya jalan berdua menyusuri kota Ambon dengan Naqib, inget banget pernah ngejar-ngejar makan patita di Diponegoro yang ternyata sudah habis. Lelah tapi saya senang bisa ngajak Naqib jalan-jalan. Ingat pula ya nak kita pernah heboh selfi-selfi di Lapangan Merdeka,  main pasir di pantai liang, main mobil di MCM. Kota ini memang tidak semegah ibukota dalam memberikan fasilitas, tapi ketika kamu di tanah kelahiran selalu menyebut Ambon dan selalu ingin kembali ke sini, “Bu, tapan kita ke Ambon. Natib mau pulang.” Ambon pun sudah merebut setengah hatimu nak T_T
Di tempat yang baru, lingkungan baru tentu saja saya mendapatkan saudara baru pula. Saudara baru di tanah rantau seperti oase di gurun pasir, mereka tempat saya berbagi, mereka pelipur lara saya, mereka menghibur, tempat  kita saling menguatkan di tanah rantau. Tiap sore adalah waktu yang paling saya tunggu untuk sekedar mengobrol membicarakan kuliner baru, harga popok atau sekedar menjaga anak sambil menyuapinya.

Waktu masih berdua dan tentunya masih sama-sama kurus hahaha..

Menjelang bulan-bulan kepindahan saya, saya merasakan ini seperti detik-detik penantian keputusan hidup. Antara rela dan tidak rela, ikhlas dan harus ikhlas. Tapi inilah bagian dari akdir hidup yang harus saya jalani, ini bagian dari skenario sang khalik. Siap tidak siap, ikhlas tidak ikhlas toh semua pasti akan berlalu. Sampai suami saya berkata, “ Kalau kita pindah, nanti kita agendakan kemari. Napak tilas jejak langkah kita dulu” janji ya bah T__T….. bukannya kota ini juga sudah seperti rumah keduamu setelah Bogor?

^_^

Saya tidak bisa melupakan kota ini, Ambon manise, kota yang banyak menyimpan kenangan dengan teman, sahabat, saudara dan cinta. Air mata, tawa dan bahagia J
Terimakasih Banda dan Seram, pernah menjadi bagian dalam perjalanan kisah hidup saya. Saya tidak akan pernah bisa melupakan jejak langkah saya disana, peluk hangat.

Ambon Manise, tempa beta putus pusa e.. *tapi pusar saya nggak putus disini* :D
Pasir putih haluseee, gunung deng tanjong beta seng lupa ee..


Ambon manise, 1 september 2016, 
awal bulan yang saya tidak ingin bulan ini berakhir selamanya.. Maaf saya lagi baper..pindahnya kapan sedihnya udah jauh-jauh hari :D
19 comments

Cantiknya pantai disana y mba, pantas saja mba baper hebat hehehe separuh hatinya sudah tertambat di Ambon.
Btw qu ko terharu jg y pas baca Bu Har beliin otak sapi dan dimasakin special senang bgt punya tetangga begitu hehehe

Reply

Wow, bening banget pantainya. *maaf gagal fokus.

Reply

Aku baca ceritanya dari awal sampe habis loh Mak, ternyata ngerantau tuh nggak sedih-sedih banget yaaa. Ini malah lebih sedih pas mau kembali ke kota kelahiran yaaa. Heheee. Dan kayanya ambon keren banget deh sampe mak Manda jatuh cinta giniiii.Semangat terus ya Maaaak :D

Reply

Emang baper ya mba, klo kita dah betah disuatu tempat kemudian tiba2 harus terpisah, huhu... tapi dimanapun, semoga yg terbaik ya mba, welcome to jekardah *eh *girang 😄

Reply

Eh busyet listri mati sampai 8 jam ??? ini ngerusak isi kulkas hehehe

Reply

banyak banget tetangga saya yang merantau ke ambon Mba, kalo lebaran saya akrab banget sama kata "beta, ose, katong, kamorang" :)

Reply

Waduh, ini propinsi dan kota yang belum pernah saya kunjungi. Keindahan dan banyak cerita Ambon yang sudah menarik-narik saya datang ke sana. Baca kisah ini, keinginan itu kembali datang. One day, saya pasti akan ke Ambon

Reply

Iya nih mba, saya suka gagal move on kalau liat pantainya :D saya kan pecinta pantai hihihi
Huum, bu Har baik banget, saya suka dibekelin kalau main kerumahnya, dijamin kenyang deh :D

Reply

huum.. pantai kayak gitu di Jakarta sebelah mana ya, ada yg tau? :p

Reply

Soalnya saya sudah biasa merantau mba, jadinya mau merantau kemana pun ya jadi kayak cuma pindah rumah tok. Gimana nggak sedih disini temen2 saya baik2 banget nggak ada yang sibuk ngurusin urusan pribadi saya, makannya saya jadi betah mba,. makasih ya mba semangatnya T_T

Reply

Jakerdah keleus :p, huum amin.. moga saya bisa betah dimanapun berada

Reply

Iyaaa bener, kulkasku jadi sakaratul maut gegara seringnya mai listrik..

Reply

Oh ya, bukan kamorang kali mba, kitorang yg bener :D
tapi kitorang ini tuh bahasa papua dan nggak akrab di Ambon sebenernya

Reply

Amiiiin... ayo ke Maluku, kita ketemuan sebelum saya pindah niiih

Reply

Bagus yaaa mba view nya. Pantai. Jadi ternyata sering mati lampu gitu mba. Berarti nanti akan segera pindah lagi yaa, ada serunya ya mba pindah2 tempat, banyak pngalaman

Reply

Iya saya Insya Allah mau pindah tahun depan huhuhu... harus kuat mental mba

Reply

Jadi baper juga baca ceritanya, ambon merupakan salah satu kota yg ingin saya kunjungi awalnya tapi tiba2 ada temen yang ngajakin suami buat merantau disana , perlu rekomnya mba selain keindahannya

Reply

Apa ya, jalannya ga macet, udara bersih, banyak ikan hehe.. Ga ada maling yg utama..

Reply

Apa ya, jalannya ga macet, udara bersih, banyak ikan hehe.. Ga ada maling yg utama..

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...