Menu

Monday, 29 August 2016

/

Pasti kenal sama sosok Boim Lebon, kalau kamu pecinta Lupus dan menghabiskan masa remajamu baca buku ini otomatis kenal. Selain Hilman Hariwijaya, Boim Lebon adalah salah satu penulis Lupus kecil. Belum lama ini beliau menerbitkan sebuah novel bergenre remaja dengan judul 19+, hayo yang mikirnya ngeres pasti ngira ini buku kenapa-kenapa dah. Iya, emang kenapa-kenapa, kenapa juga nggak baca buku ini hehe..

Bercerita tentang seorang anak piatu bernama Fida. Bapaknya yang seorang pensiunan membuat ia ingin membantu bapaknya dalam memenuhi biaya kuliahnya yang nggak sedikit, ia kemudian berjualan roti istiqomah, mengantarkannya ke warung-warung, menyetorkan hasilnya pada bu Yusuf *owner roti istiqomah ini* dan kemudian menikmati hasilnya. Bapaknya sebetulnya tidak memaksa Fida untuk berjualan, tetapi kondisi ekonomilah yang membuat Fida ingin tetap melanjutkan hidup demi masa depannya yang gemilang *tsaah*.
Fida memiliki sebuah janji yang ingin ia capai di usianya yang ke 19, yaitu ingin segera menikah tanpa adanya pacaran. Baginya, pacaran hanya buang-buang waktu dan tenaga. Belum buang-buang uang dan perasaan :D banyak teman-temanya yang pacaran lama tau-tau nikahnya sebentar, atau pacaran lama ternyata bukan dia jodohnya alias nikahnya sama orang lain. Hal inilah yang kemudian membuat Fida ingin segera menikah tanpa proses pacaran. Kalau ada yang pas menurutnya, ya udah dia pengennya segera dilamar terus nikah deh.
Dibalik usaha nganter-nganter rotinya itu, Fida menemukan banyak keajaiban di dalamnya soal jodoh. Ia bertemu dengan Sairaji, Riyanto dan Iqbal. Diantara mereka ada yang menjadi jodoh Fida kemudian, e tapi yang mana ya? Dan diantara orang itu ada yang ngebet banget pengen ngelamar Fida tapi nikahnya malah sama sahabatnya Rohimah. Dan mampukah Fida menikah di usia 19 tahun? Nah daripada spoiler, mending baca aja bukunya biar nggak penasaran deh.
Seperti biasa, gaya penulisan bang Boim sama seperti ia menulis cerita lupus, tetap bikin baper, ceria, kocak *bikin senyam-senyum* dan banyak pesan-pesan moralnya yang ini diselipin di antara percakapan-percakapan, contoh :



“Kata Bokap kewajiban membantu agama itu, menjadi beban kita semua. Menjadi kewajiban kita semua. Bukan Cuma kewajiban ulama atau ustaz aja, tapi semua yang di dalam hatinya ada kalimat thoyibah” nampol? Banget..

Ada lagi nih,
“Hari ini orang ingin menggapai cita-citanya dengan sungguh-sungguh, tapi mengamalkan agamanya biasa-biasa saja. Bahkan cenderung sambil main-main” Plaaak! Berasa ditampar yeuuuh..

Dan banyak pesen moral lainnya, yang ‘nyelekit’ banget sama fenomena kehidupan kita, bang Boim mengulasnya dengan sangat halus di setiap percakapan-percakapannya yang kocak

Selain itu inilah pesan moral lainnya yang dapat saya simpulkan dari percakapan-percakapan antara Fida dan ayahnya, Fida dan temen-temennya :
  • Bahwa tanpa pacaranpun seseorang tetep bisa menemukan jodohnya, ini membuktikan kalau jodoh nggak akan ketuker atau lari kemana
  • Jodoh itu misterius nggak tau kapan nongolnya.
  • Proses pencarian jodoh akan mendewasakan kita kemudian, dan mengerti hakikat penciptaan manusia.
  • Jangan pernah menggantungkan cinta kita kepada manusia karena pasti bakalan menyesal kemudian, gantungkan cinta pada Allah pasti akan bahagia selamanya
  • Jika kita menolong agama Allah, maka ganjarannya besar. Seperti berinfaq, menyebarkan ilmu agama dll
  • Cinta itu nggak bisa dipaksain dan tidak harus memiliki. Jika kamu dewasa pasti bakalan berfikir demikian. Orang dewasa ngerti mana jalan hidup yang harus dia lalui demi masa depannya, jika bukan jodoh masak kudu maksa dan gantung diri sampe main dukun. Mungkin jika demikian umurmu aja yang tua tapi sifatmu enggak.
  • Cinta buta memaksakan orang untuk PEDE BANGET dan KEPEDEAN bisa memiliki orang yang dia cintai. *tuh gue tebelin dan garis bawahin, catet ini buat anak-anak muda yang suka rebut-rebutan pacar, bikin malu kayak nggak ada orang lain aja di dunia ini, gemeees*
  • Ada pesan yang paling baper : Kalau naksir orang, jangan berharap orang itu bakalan naksir kita sebab gesture tubuhnya berbeda dimata kita. Bisa aja itu orang beneran care tanpa rasa suka, dan karena kita udah naksir duluan kita nganggepnya orang itu suka sama kita, padahal belum tentu kan? Bapeerr  abis kan jadinya..
 

Judul : 19+
Pengarang : Boim lebon
Jumlah hal : 160
ISBN : 978-602-7870-98-7
Penerbit : pastel books


10 comments

Selalu suka sama gaya kocaknya Boim Lebon dulu saya penggemar LUPUS :) pengen baca jadinya kangen bang Boim hehehe

Reply

Memang seru sih mbak jadi pengen baca lagi, gk gk gk.

Reply

Makasih reviewnya mbak, duh pengen beli banget. Soalnya Hilman dan Boim salah dua penulis yang mewarnai masa-masa kanak2 dan remaja saya. Selalu suka karya mereka.

Reply

berasa muda lagi baca buku ginian kayaknya hehehe

Reply

Iya, saya juga sering ketemu bang Boim di Bekasi, beliau suka ngisi kelas di FLP Bekasi :)

Reply

Iya mba, waaah ketahuan deh umur kite berapa wkwkk

Reply

jangan kayaknya mba, aslinya gmn :D

Reply

Yaaa Allah jadi kangen serial lupus, pernah jaya pada masa nya itu ihik ihik

Reply

Iya mas bener banget, btw makasih udah mampir ^^

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...