Menu

Tuesday, 14 June 2016

/


Ya nggak dipungkiri, bagi seseorang yang sudah selesai kuliah yang pertama dicari adalah pekerjaan. Ini juga yang membuktikan pada orangtua bahwa anak mereka kuliah nggak sia-sia *maksudnya sebagai balas budi bahwa dana yang mereka keluarkan nggak percuma dan ada hasilnya* dulu sih sempat kepikiran kepingin kerja dibaik meja dengan PC layar datar dan jobdesk warna-warni banyak nempel menandakan saya orang sibuk *hahah* lalu setiap hari asyik sapa-sapaan dengan mbak-mbak yang wangi-wangi dan mas-mas yang ganteng-ganteng “Haaai pagi, ntar makan siang di Grand ya.” tapi karena menempuh banyak rintangan dan cobaan ketika melamar kerja ternyata passion saya bukan berada di posisi ini.

Dan sekali lagi saya coba melamar kerja di dekat rumah sebagai instruktur komputer di lembaga pendidikan, enak sih kerjanya nggak terlalu padet, jadi kerjanya cuma ngajar anak-anak di jam-jam tertentu setiap tahun jalan-jalan ngajak anak-anak study banding ke tempat-tempat wisata, dapat gaji dan Teacher cost yang kemudian TC ini di tilep atasan saya, sebab ini saya jadi ilfil untuk kerja di kantoran, nah kemudian setelah menikah saya memutuskan ogah kerja di kantor dan inilah sebabnya…

1.      Saya benci dimarah-marahi
Nggak ada yang boleh memarahi saya kecuali orangtua saya. Jika ada orang yang berani memarahi saya diluar orangtua, rasanya kepingin saya sumpel granat biar mulutnya nggak bisa memarahi saya lagi. Ibaratnya orangtua yang mendidik saya sejak lahir aja kadang saya suka sebel kalau dimarahi nah apalagi ini orang lain. Apa sebabnya saya harus dimarahi? Emangnya nggak bisa ngomong baik-baik. Apakah karena atasan kita harus diperintah seperti budak. Males kan?
 
foto : baymonttampa
2.      Saya benci bangun pagi untuk hal-hal yang menjenuhkan
Golongan darah AB yang saya baca itu paling nggak bisa menahan kantuk. Nah itulah sebabnya saya doyan molor. dan tidur adalah hal menyenangkan untuk saya. Saya lebih suka mengerjakan pekerjaan yang tidak mengikat waktu tidur saya, walaupun menulis kadang sering mencuri waktu tidur saya di malam hari, tapi kan saya dirumah aja, saya bisa balas dendam tidur sampai sore. Nah coba kalau saya kerja kantoran, saya ngantuk siang nggak bisa ngapa-ngapain yang ada nahan mata pakek pentol korek :D, dan rutinitas bangun pagi, sarapan terburu-buru, menunggu angkutan bagi saya ini adalah hal yang menjenuhkan. Kegiatan yang sama terulang kesokan harinya lagi dan lagi.
Eh tapi waktu saya jadi instruktur enak loh, pas ngantuk bisa tidur di mushala, yang apes kalau kebagian jam ngajar bertepatan dengan jam tidur saya. Ya gitu dah murid-murid suka iseng nanya “Miss Manda ngantuk ya, nguap mulu”

3.      Saya gampang cape
Bekerja yang santai aja saya cape *waktu jadi instruktur* nah apalagi untuk jarak yang jauh, harus macet, kena polusi. Oh ya pernah loh saya kerja jarak jauh begini, kena debu, macet dan kudu bangun pagi, baru 2 minggu kerja saya kena typus dan berujung pada pemecatan saya. Makasih.. tapi saya sih bersyukur dengan pemecatan itu soalnya saya bekerja di bank swasta di bagian simpan pinjamnya, saya kan takut banget sama riba ya sedangkan saya dapat gaji dari hasil bunga orang yang bayar itu. Untung aja saya dipecat. Saya sempat istikharah dengan pekerjaan saya ini, eh saya dikasih sakit. Jawaban Allah memang terkadang unik untuk menunjukkan Dia sayang banget sama kita.



4.      Saya nggak suka bekerja di bawah tekanan untuk hal yang saya nggak sukai
Kadang kan suka tuh ya, ada pekerjaan yang harus selesai hari itu juga kalau nggak bos marah. Bukan pekerjaan seperti ini yang saya mau, saya sih lebih seneng dengan deadline yang sudah ditentukan waktunya jadi kerjanya nggak buru-buru, dan pada saat penyerahan deadline ini nggak ketemu orang, ya via email seperti pekerjaa-pekerjaan saya yang sudah-sudah dibidang tulis menulis. Saya nggak ketemu muka, nggak bisa ngeliat ekspresi orang yang menerima email saya, jadi saya bisa enjoy ngerjainnya. Coba kalau saya ngantor, apes banget ngeliat muka sangar bos yang marah-marah karena kerjaan saya nggak selesai.

5.      Banyak pahala buat saya dari omongan orang
Kan suka ada tuh ya orang nanya, “Manda lo nggak sayang dengan ke-SARJANAAN lo?”
“Sayang? Gue kerja kan buat cari ilmu, bukan buat cari kerja”
“Nganggur apa enak?”
“Enak lah bisa tidur siang, makan gaji suami doang”
Nggak sedikit nih yang nanya begini, ribuaaaaaan! Mereka menyayangkan saya yang supel, manis, dan pintar ini *yang terakhir bohong sih* nggak bekerja di kantor. Sebagaimana stigma masyarakat kita kalau bekerja harus di kantor, nah kalau cuma dirumah  itu namanya bukan kerja *walaupun dapat duit juga*.
Dan hanya orang-orang tertentu saja yang ngerti saya gimana sibuknya menghadapi deadline segunung dan nggak berani nanya saya ini nganggur apa nggak, kadang kalau lagi sibuk saya sampe tidur jam 2 pagi, subuh kesiangan dan suami saya berangkat kerja tanpa lambaian dan ciuman saya karena setelah saya membuatkan sarapan dan menyiapkan baju saya tidur lagi. Dan begitu saya ketemu orang-orang yang menganggap saya ini cuma seorang istri yang minta doang dari gaji suami ya saya seringnya ditanya begitu, biasa sih. Tapi shock therapy yang berujung ketika saya ujug-ujug ngeluari buku, Enaklah ya di suudzonin orang, pahalanya gede banget buat saya hahah…

6.      Saya benci kemacetan
Karena saya lebih mencintai hutan, gunung dan lautan. Ya saya ini tipe-tipe manusia melankolis. Saya suka ketenangan dan kedamaian. Makannya kalau saya bekerja di luar apa nggak setiap hari ketemu sama yang namanya teriakan sumpah serapah, orang kebut-kebutan, karena mereka pada mengejar waktu untuk pergi ke kantor. Sumpah saya nggak sanggup menghadapi ini semua, stress saya..  belum jika waktu masuk kantor mepet dengan rutinitas jalanan. Saya nggak ngebayangin tingkat stress saya seperti apa.



7.      Saya benci polusi dan udara kotor
Kalian boleh sebut saya wanita rumahan, yeah saya terima. Saya lebih senang dibilang itu. Karena kalau saya keluar rumah otomatis saya terpapar asap kendaraan bermotor, belum lagi dengan orang-orang yang merokok, aduuuh mama sayangeee… seng tahan beta! Nah beruntung sekali suami saya dipindahkan ke kota Ambon, disini udaranya masih segar, karena masih ada hutan sebagai paru-paru kota, penduduk yang sedikit dan Ambon ini kota pinggir pantai, biasanya kalau kota pinggir pantai yang saya amati bersih seperti Aceh dan Balikpapan. Saya masih betah berlama-lama berada di jalan kalau pulang ke Ambon tapi kalau sudah balik kampung ke Ibukota saya nyerah, saya lebih memilih berada di dalam rumah ibu saya berbulan-bulan, sampai kadang tetangga suka kaget “Loh Manda pulang? Dari kapan? Nggak kelihatan?” padahal saya sudah hampir sebulan pulang. Kalaupun harus keluar karena urusan tertentu mendingan naik taxi atau mobil aplikasi. Apalagi saya ini mantan pengidap asma, kadang-kadang suka sering kambuh kalau terpapar polusi atau udara kotor. Nah kan bahaya ini.  Tapi kedepan saya harus menerima pil pahit kalau suami saya sewaktu-waktu dipindahkan ke Ibukota.


8.      Banyak waktu terbuang dijalan
Ketika menunggu bis atau kendaraan umum, waktu menunggu inilah yang sia-sia menurut saya. Waktu itu bisa saya manfaatkan untuk membaca, mengetik atau main dengan anak. Belum lagi pulangnya menunggu lagi, macet lagi. Waktu-waktu berharga ini bagi saya sayang banget kalau nggak dimanfaatkan buat membuat sesuatu, belajar bikin kue misal, berzikir misal, menulis ide baru misal, mengajarkan anak sesuatu misal, bercengkrama dengan suami misal dan banyak hal lainnya, yang terutama sih tidur *hahah*. Saya nggak tau kalau saya bekerja apakah saya bisa melakukan ini semua?

9.      Saya benci affair dan perselingkuhan
Bekerja dengan orang nggak memungkiri terjadinya affair. Dalam satu kantor terdapat ribuan pemikiran, status, ras, suku, budaya dan agama. Ya dalam satu rumah aja sifatnya beda-beda apalagi satu kantor. Terkadang kita sudah jaga pandangan, eh ada yang godain. Hal begini ini kan bikin siapa saja klepek-klepek kalau nggak tahan iman. Nah saya benci sekali hal ini terjadi, nggak dipungkiri dalam satu kantor pasti ada saja terjadi hal demikian.



Lalu apakah suami saya melarang untuk bekerja?
Tidak, tidak sama sekali. Suami saya memberikan kebebasan untuk saya dalam hal ini. Tapi satu syaratnya, cari pekerjaan yang tidak membuang banyak waktu diluar. Misal jadi guru atau bekerja freelance. Secara kan kalau jadi guru banyak waktu senggang, anak-anak libur kita ikutan libur. Waktu bekerja yang fleksibel. Nah suami saya ini tipe suami yang nggak bisa jauh dari istri *serius ini* dia pengen kalau pulang ada yang nyambut, bikin teh, rumah udah rapi yah sewajarnya suami pada umumnya dah. Hanya pekerjaan Gurulah yang membuat suami saya bisa melihat saya fleksibel dirumah. Awal-awal menikah suami memang kayaknya bĂȘte ngeliat saya dirumah aja, *loh kan saya yang dirumah kok dia yang bĂȘte ya?* mungkin ngerasa sebel kali ya ngeliat saya yang cuma bobok, beres-beres dikit makan gaji buta, atau mungkin gemes istrinya nggak ada kegiatan *pengen bilang "Kamu jangan mager dong" kok sungkan*. Saya nggak ngerti dah, yang jelas saya sempat beberapakali ditawarin kerjaan guru. Tapi saya terus menolak dengan pendirian saya sebagai penulis. Dikit-dikit saya mulai mendapatkan hasil dari kebiasaan saya duduk di depan leptop, dan anak pun lahir. Lambat laun suami saya menyadari, “Kalau kamu nggak dirumah kamu nggak akan bisa mendapatkan ini semua,”  ya iyalah makannya dengerin kata istri :p

Memang ada plusnya bekerja kantoran, saya mendapatkan GAJI yang bisa menambah perekonomian keluarga. Tapi menurut saya gaji besar tidak bisa mengobati paru-paru saya yang kotor terpapar polusi, kuping saya yang mendengar sumpah serapah dan gosipan orang, mata saya dari melihat hal-hal diluar naluri kewanitaan saya, dan waktu saya yang paling berharga untuk meluangkan hobby menulis juga waktu saya untuk anak dan suami. Saya nggak kuat menghadapi tantangan itu semua.. yeaah saya cuma wanita lemah, saya cuma kuat begadang nulis dan tidur setelahnya wkwkwk..
Saya salut untuk ibu-ibu yang masih bekerja diluar, melawan polusi dan kemacetan juga sumpah serapah orang. Saya salut sama ibu-ibu yang masih bisa mendidik anak-anaknya dengan baik juga masih punya waktu untuk suami dan juga dapur mereka. Sumpah, saya nggak yakin kalau ada diposisi mereka apakah saya bisa melakukan itu semua. Kereen.. kalau melihat ke-9 hal diatas saya nggak yakin. Ya itulah diri saya yang jika ditanya orang “Kok nggak kerja?” kudunya saya nggak perlu bercerita panjang lebar, cukup kasih link blog ini  ke mereka biar nggak pada nanya lagi.
Ibu-ibu tetaplah bekerja sesuai passion, satu hal yang saya pinta, hargai profesi kita masing-masing. Karena pada dasarnya wanita itu hebat dan multitasking.


Foto pintu : meuble.djbarokah, makasih fotonya saya izin sedot mang..
17 comments

wuih curhatannya panjang dan semua nya emang bener. saya dukung nda dirumah juga banyak kok kerjaan. kalau mau ambil pict yang gratisan aja di pixabay nda,keren2 disana yg pasti free

Reply

Wah golongan darah anak2ku ini. Kudu siapkan skill kalau mereka bosan dan gak mau kantoran hahahha. Btw, aku malah pengen jadi karir asal instrumen pendukung ada, wkwkwk

Reply

Samalah kayak aku mbak, istri di rumah tuh sekarang kayak dosa aja, kanan kiri, depan belakang pada ribut, nanyain, memandang aneh, ngasih info lowongan kerja, ngasih nasehat2, hmm susahnya mau jadi ibu rumah tangga saja.

Reply

Iya makasih Na infonya. Sekali2 pengen curhat, biar kekinian wkwk

Reply

Sebenernya yang gampang bosen itu golongan darah B krn mereka menyukai kebebasan, nah kalau golongan darah AB itu gampang cape dan mudah ngantuk, makannya kerja kantoran tu nggak cocok buat saya

Reply

Sekarang sih saya bodo amat ya dengan omongan orang mba, ntar juga lama2 bosen kalau saya udh tua apa masih mau ditanyain? :D

Reply

Haha ini sama pisan ama jalan pikiran saya sekarang. Saya lagi ngerasain nih mbak gejala2 diatas. Terutama poin nomer 1, 2, 4.

Nice thoughts.

Reply

Waaaah, pantesan nggak nggantor, hehehe

Reply

y udah emang enak jd pengusaha yak

Reply

kang Ale ni, komennya jayus :p

Reply

Yoi bener say. Kita berhak atas pilihan kita sendiri. Mau kerja rumahan atau kerja kantoran, selama memang ada passion-nya ya ga masalah yak. Dan yang penting harus menghargai profesi masing-masing.

Reply

Yoi bener say. Kita berhak atas pilihan kita sendiri. Mau kerja rumahan atau kerja kantoran, selama memang ada passion-nya ya ga masalah yak. Dan yang penting harus menghargai profesi masing-masing.

Reply

nah, yang jadi masalah banyak pihak merasa 'nggak terima' kalau orang yang bergelar sarjana itu cuma dirumah aja nggak ngapa-ngapain, Woooot... kan kita yang ngejalanin hidup kenapa jd diurusin sama orang yak

Reply

akhhh klo sya mudah bosannnnn.. selalu pengen hal baru yang membuat semangat

Reply

Nah salah satunya aku juga itu mba, bosan dengan rutinitas harian :D
klo udh ngantor nggak bisa ngapa-ngapain, mati kutu

Reply

Padahal kerja di kantor itu enak, lho. Bagi orang yg kerjanya kaya saya, ke kantor untuk main saat bekerja pasti dirumah :)

Reply

Ohh... ke kantor cuma meeting ya? Kerjaannya bawa ke rumah, saya tebak, kerjaannya mungkin arsitek? atau akuntan? atau editor hehe

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...