Menu

Monday, 25 January 2016

/



Sudah dari semalam Ambon diguyur hujan, sudah gitu ini hujan awet bener. Saya sudah memikirkan rencana-rencana keren buat dijalankan besok. Kalau nggak masak ya bebenah, atau jalan-jalan atau ngetik mumpung suami ada di rumah jagain Naqib. Dan ternyata semua rencana tersebut urung dilaksanakan ketika suamiku berkata,

“Emang KMGP belum masuk Ambon ya?”
“Nggak tau. Kayaknya belum deh, Indonesia timur kan selalu belakangan nerima film”
“Coba kita cek ya,”
“Cek aja kalau nggak percaya,” saya kemudian asyik kembali dengan ponsel yang naudzubillah ngehank mulu.
“Eh.. ada nayang!”
“Hah??”
“Ketika mas gagah pergi kan?”
“Iya. Beneran ada mas?” takjub.
“Nih!” seraya menyodorkan handphonenya.
“Eh iya beneran ada?”
“Mau nonton,”
“Ya maulaaaaah, mauuuu bangeeeet!” kan katanya istri itu nggak boleh bilang terserah. Karena terserahnya itu kadang ambigu, terserah mau atau terserah nggak mau, jadi kudu tegas.
“Ya udah ayo nonton,”
“Asiiiiiiiik, yeaaaaaay!”

Segera saya beritahu grup FLP Bekasi bahwa saya nonton hari ini. Secara ya, mereka heboh pada mau nobar dan Menuhin bioskop. Saya juga nggak mau ngalah dong :D
Padahal, saya mah nggak bakalan yakin KMGP bakal tayang tepat waktu, secara daerah timur paling lama nerima film baru. Karena film-film yang sudah nggak ditonton di Ibukota bakalan dilempar ke daerah. Katanya sih gitu, makannya saya excited banget KMGP tayang tepat waktu.
Dengan menerjang hujan rintik-rintik kita pergi ke salah satu Plaza yang memiliki bioskop dan itu satu-satunya di Ambon.
Bingung mau milih jam berapa untuk nonton karena kalau pilih jam 1, kita belum makan dan shalat. Akhirya dipilihlah jam 14.45. Karena waktu shalat Asar di Ambon ini sekitar jam 16.00, jadi kalau filmnya kelar jam 16.30  belum terlalu lama ketinggalan shalat.

Ini loh tiket kami bertiga

Akhirnya kita makan dan shalat dulu. Karena jam tidur siang, Naqib mulai rewel. Yah alamat gagal nonton deh ini mah T_T, daripada nggak jadi nonton sebaiknya Naqib ditidurkan. Saya gendong dan elus-elus kepalanya sampai dia tertidur pulas.
Dan Alhamdulillah Naqib tidur sampai acara nonton dimulai, dan bangun kira-kira 50 menit kemudian. Yaa.. jangan ditanya betapa hebohnya dia yang mulai terjaga ini di dalam bioskop. Naik-turun kursi, pindah-pindah kursi sampai sepatunya hilang dan ditemukan di sela-sela kursi, teriak-teriak, nyanyi-nyanyi, gangguin orang didepanya yang tengah asyik nonton. Minta pulang terus dan akhirnya kelelahan sambil nonton video di Youtube. Ah pingsan deh..
Naqib juga nggak mau kalah minta difoto juga.
Tapi sungguh semua itu tidak membuat saya tak mengerti esensi dari film keren ini. Bagaimana ceritanya? Mari kita tengok..
Buku yang akhirnya di filmkan
Kalau saya boleh jujur. Saya belum pernah baca buku Ketika Mas Gagah Pergi. Buku ini sempat saya pegang waktu saya main kerumah kakak sepupu yang hobi baca. Namun sehalaman pun belum sempat dibaca, itu karena saya bingung mau baca buku yang mana karena semua buku-buku yang dia punya bagus-bagus. Saya  tau cerita ini fenomenal karena di era saya, buku ini sempat jadi perbincangan hangat. Katanya bikin meleleh dan sangat menggugah. Ah sayang banget saya lupa mulu mau baca huhuhu.. Saya sempat mencarinya ke toko buku, sampai lari ke kwitang berharap ada copyannya. Tapi mikir lagi, kalau karya kita dibajak mau nggak? Nggak jadi beli deh akhirnya.. :p
Lalu berpuluh tahun kemudian, akhirnya Bunda Helvy berinisiatif untuk mengangkat karyanya ini ke layar lebar. Wah saya pastinya seneng banget lah, secara belum pernah baca bukunya *biarlah dapat sorakan pom-pom nan heboh* dan yang lebih mengejutkan lagi, ini film pertama di Indonesia yang didanai oleh orang-orang yang mendukung film islami. Karena Bunda Helvy tidak ingin mengubah esensi dari cerita ini jadi beliau berusaha mendanai filmnya sendiri. Seperti yang kita tau, kalau sebuah cerita di sutradarai oleh orang yang bukan menulis cerita tersebut, isi ceritanya banyak yang di ubah, yaaa diubah sesuai keinginan sutradaranyalah, yang tadinya islami banget nggak ada salamannya ketika disutradarai orang lain bisa-bisa malah ada cipika-cipikinya. Nah Bunda Helvy nggak mau isi cerita yang sarat nilai-nilai islami ini berubah kemudian esensinya. Ah salut dengan perjuangan bunda Helvy, makannya walaupun hujan nggak berhenti-henti sebagai apresiasi terhadap kegigihan bunda Helvy saya juga ikutan berjuang buat nonton filmnya.

Bunda Helvy dengan para pemain KMGP
Lalu bagaimana serunya novel KMGP ini ketika di filmkan?


Karena saya belum pernah baca novelnya sama sekali, saya coba menerawang dulu ya isi cerita ini. Cerita bermula dari kehidupan Mas Gagah (Hamas Syahid Izzudin) dan adiknya Gita (Aquino umar) yang ketika itu Gagah selalu melindungi adiknya. Karena bagi Gita, mas Gagah adalah sosok yang sempurna, ganteng, pinter, berkharisma, jago silat dan bisa menggantikan sosok ayahnya ketika ayah mereka kemudian meninggal dunia. 

Hamas Syahid Izzudin sebagai Mas Gagah

Kemudian Gagah mendapatkan proyek penelitian ke Ternate selama kurang lebih 1-2 bulan. Gita yang manja merasa kehilangan kakaknya karena tidak ada lagi sosok kakak yang menemaninya setiap hari. Gagah hanya bisa meyakinkan pada adiknya., kalau perjalanannya itu tidak akan lama. Tetapi kemudian semuanya berubah ketika mas Gagah pulang dari Ternate. Gita mendapati sosok kakak yang berbeda pada diri mas Gagah. Mas Gagah enggan nongkrong lagi, enggan mendengarkan musik metal seperti musik favoritnya dulu, mas Gagah meninggalkan dunia modeling, yang lebih bikin Gita jengkel mas Gagah mulai sibuk dengan dunianya. Dan mulai asing di mata Gita.

Gita berusaha mencairkan suasana dengan menanyakan ada apakah gerangan si kakak yang dia idolakan ini sampai sebegitu dinginnya di mata Gita. Kakaknya sebetulnya ingin bercerita, hanya saja waktunya belum tepat.

Aquino Umar sebagai Gito eh Gita wkwk

Di sisi lain Gita selalu dipertemukan dengan orang yang suka berceramah di dalam bus. Gita menganggap orang ini nggak ada bedanya dengan kakaknya, karena kerjanya selalu memberikan ceramah dan bikin telinganya pengang. Dan entah kenapa setiap Gita naik bus selalu bertemu orang ini. Suatu hari Gita kecopetan di dalam bus dan orang inilah yang kemudian menolongnya. Gita pun kemudian merubah pandangannya terhadap Yudi (Masaji Wijayanto). Sosok Yudi si pemilik mata elang tidak seperti yang Gita bayangkan sebelumnya.

Masaji Wijayanto Sebagai Yudi
Gita yang ambisius kemudian mencari tau apa yang dilakukan kakaknya selama di Ternate melalui laptop yang tergeletak di kamar mas Gagah. Tapi sayangnya tingkah Gita diketahui mas Gagah yang akhirnya membuat ia kesal terhadap adiknya.

Gita mempunyai sahabat yang bernama Tika (kalau nggak salah denger ya, ini nama sahabatnya), sahabat inilah yang selalu mendengarkan keluhan Gita tentang kehidupan kakaknya. Namun kemudian Gita mendapati Tika berubah tidak jauh beda seperti Yudi dan kakaknya. Namun Tika berjanji akan mengenalkan Gita pada kakak sepupunya Nadia (Izzah Ajrina) agar mengetahui kenapa Tika bisa berubah sedemikian drastis.

Izzah Ajrina sebagai Nadia
suasana hati Gita pun diperkeruh ketika Gita menemukan mamanya (Wulan Guritno) membeli baju-baju muslim. Dan Gita semakin seperti berada di dunia antah berantah dimana semua orang-orang mulai asing baginya. Dan kemudian bersambung.. oke makasih sudah bikin saya penasaran hehe

Bintang-bintang yang ikut menyemarakkan film KMGP
Secara alur film KMGP mudah dicerna, nilai-nilai dakwahnya juga terkesan nggak menggurui disampaikan dengan fresh dan bikin orang ngakak. Acting pemain, mungkin karena bintang baru kali ya jadi agak kaku, hanya Gita dan Yudi saja yang actingnya agak luwes , tapi hal ini dapat ditutupi dengan artis-artis senior yang ikut menemani film KMGP. Namun ada hal lain yang saya sayangkan, mungkin memang film ini bertujuan mensyiarkan dakwah. Tidak bersentuhan tangan, cipika-cipiki atau peluk-pelukan dengan yang bukan mahrom. Adap anak terhadap orangtua tidak disyiarkan di sini, saya tidak menemukan Mas Gagah sekalipun mencium punggung tangan Ibunya. Bahkan ketika berangkat ke Ternate pun dia hanya melambaikan tangan dengan memunggungi ibunya dan pergi berlalu sambil berkata “Titip Gita ya ma…” mungkin akan lebih syahdu jika Mas Gagah pergi dengan mencium punggung tangan ibunya dan memohon restu sambil menangis. Dan hal ini menurut saya ada sisi lain yang membuat film ini agak canggung sedikit. Selebihnya sih biasa aja. Ya kedepan, jika bunda Helvy ingin membuat film religi lagi mungkin bisa mengambil 1 keluarga yang dilibatkan dalam pembuatan film. Jadi tidak canggung jika kakak harus memeluk adiknya, anak laki-laki mencium ibunya atau cium tangan. Terlihat akrab dengan keluarga akan menambah nilai plus pada sebuah film apalagi ada adegan tangis-tangisannya.
Dan saya sangat menyayangkan kenapa film ini baru diputer sekaraaaaaaang ketika orang beranggapan miring terhadap laki-laki yang nggak mau salaman, jenggotan atau yang hobi datang ke majelis. Coba dari dulu, kalau ada orang yang menghina ikhwan model gini bakalan saya suruh nonton KMGP dah.
Nah buat kamu yang masih suka nyinyir sama Ikhwan/Akhwat model begini. Mending nonton KMGP dari sekarang biar pandanganmu terhadap kami bisa berubah.

Sukseees terus bunda Helvy dan KMGPnya ya..
2 comments

Udah kelar aja ni...
aku nonton aja belum, huaaahh...

btw, jadinya bersambung ya? hmmm

Reply

Iyah bersambung huhuhu

Reply

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...