Menu

Wednesday, 10 March 2010

/
25 Feb 2010



Aku sangat tertarik dengan Aceh, ketika suatu hari aku berkenalan dengan seorang kawan melalui dunia maya. Ia gemar sekali menceritakan kebudayaan-kebudayaan yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Bukan hanya budaya, tetapi eksotis pantainya yang membuat aku semakin menjadi-jadi penasaran dibuatnya. Entah mengapa ketika ia bercerita timbul sebuah kecintaan tersendiri terhadap Aceh. Ada rasa ingin menyambangi pulau awalan Indonesia itu.


Suatu hari, aku melihat sebuah Video inspirasi. Didalamnya terdapat sebuah pesan “Tulislah 100 mimpimu pada sebuah kertas, maka suatu hari dari mimpi itu akan menjadi sebuah kenyataan yang akan meninggalkan jejak dalam hidupmu.” Di dalam video itu juga dikisahkan, seseorang yang menuliskan mimpi-mimpinya dapat terwujud tanpa dapat diduga-duga dari tahun ke tahun. Dari video itu, rasanya aku ingin juga menuliskan sebanyak mungkin semua mimpi-mimpiku pada sebuah kertas. Dan berharap suatu hari dapat mewujudkannya.


Hari itu, di tanggal 12 September 2009 aku menuliskan sebanyak mungkin mimpiku dan menyalinnya pada kertas yang lain. Dari 2 kertas itu yang satunya aku simpan pada selipan buku diary dan di kertas berikutnya aku pajang pada sebuah pintu lemari baju.
Ingin pergi ke Aceh, Shalat di Baiturrahman dan jalan-jalan di Pantai lampuuk saat itu menjadi pembuka 100 mimpiku. Aku yakin, mudah-mudahan suatu hari mimpi itu dapat terwujud.
Sampai suatu hari, tanpa disangka-sangka dan diduga-duga,menginjak bulan ke 5 dari semenjak aku menuliskan mimpi itu. Ada seseorang kawan di facebook yang ingin berbagi denganku. Ia salut dengan apa yang aku ceritakan tentang Aceh. Baginya, tak ada orang diluar pulau Aceh yang sampai betul-betul mengaggumi Aceh dan memperlajari semuanya, termasuk bahasa yang agak sedikit lancar aku memahaminya. Bagiku sebagai orang yang berkecimpung di dunia penulisan. Mempelajari banyak budaya termasuk Aceh adalah sebagai bahan untuk referensiku menulis. Tidak ada yang istimewa didalamnya. Tapi mungkin bagi kawanku itu, aku adalah orang yang betul-betul ingin menyelami sebuah Daerah bernama Aceh. Di hari itu ia berkata, “Saya ingin adek Amanda bisa menyambangi Aceh. Maka dari itu di suatu hari akan saya transfer sedikit rezeki ini untuk adek. Gunakan rezeki itu untuk membeli tiket ke Aceh,” Awalnya aku ragu, mana mungkin ada orang baik di jaman serba sulit seperti ini. Tapi kemudian,orang tersebut meyakinkan kalau tidak akan macam-macam dengan kebaikanya itu. Akhirnya aku memohon petunjuk Allah, jika kebaikannya ini memang niat tulus membantu aku, maka permudahlah. Dan.. akhirnya? Subhanallah… benar-benar mimpi kawan. Aku dipermudah dari pergi hingga pulang kembali. Bagaimana kisahku menjajaki negeri serambi mekah itu.. Yuukk..simak yukk..


25 Febuari 2010
Pagi itu aku menunggu di ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta. Penerbangan pagi jam 8.35 itu membuatku tak sabar mewujudkan mimpiku yang satu itu. Dalam benakku terbayang sudah nikmatnya makan Mie Aceh yang khas sembari menyeruput kopi solong yang panas. Ada kawan yang berjanji ingin mentraktir aku. Ah.. bikin ngiler saja. Tak sabar menunggu aku manfaatkan waktu untuk tetap mengontak kawan-kawan Facebook yang nantinya ingin kopi darat setibanya aku berada di sana.
Tepat pada pukul 8.45 aku Take Off dan terbang menuju Banda Aceh. Perjalanan yang luar biasa sekali. Dalam hati aku tetap berdoa, agar Allah meridhoi perjalanan ini. Alhamdulillah, tepat pada pukul 11.25 aku tiba dengan Selamat di Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda. Ada rasa haru ketika kaki ini berjalan menyusuri bandara, akhirnya aku tiba juga di Aceh.
Rumah kakak letaknya di Ajun, untuk menuju kerumahnya membutuhkan waktu tempuh sekitar 20 menit, Dari Blang bintang aku menyusuri lambaro-luengbata-simpang Surabaya-Jambotape-Jl..T.Draud breueh-simpang 5- Jembatan pante pirak - Melewati Masjid Raya-Blang Padang-simpang jam-Stui-Lamteumen- lalu akhirnya tiba di Ajuen. Ya ampuun.. perjalanan yang sangat panjang, padahal waktu itu kakak ada bilang, kalau perjalanan hanya 20 menit, bagiku yang tinggal di ibukota perjalanan 20 menit itu singkat, karena terbentur macet dan lalu lintas yang nggak jelas. Tapi untuk seukuran Aceh, jalan 20 menit itu sangat panjang karena tidak ada acara macet-macetan di jalan.
Selesai menaruh tas, kami langsung menyantap Mie Aceh di Mibo yang terletak di lhong Raya. Subhanallah..rasanya luar biasa, beda banget ama mie Aceh yang dibekasi. Bumbunya pas, pakai kepiting, murah lagi. Hanya 15 ribu seporsi. Selepas makan, aku istirahat sejenak. Akan ada janji jam 4 sore nanti. Dengan siapa tuh?? Ehem..ehem..
Biar kata nyebrang pulau, saya suka dengerin via streaming

Tepat pukul 4, aku dijemput Cut Zhakiah keponakan kak Ira, teman Facebook yang aku tinggali. Aku ada janji dengan kawan-kawan kru Radio Antero. Bisa dibilang unik, selama ini aku hanya kenal mereka lewat Facebook. Terlebih seseorang bernama Iman. Kami kenal lewat Friendster, jauh sebelum Facebook ngetop. Selama itu pula, kami sudah seperti saudara, tak ada jarak sama sekali, Iman seperti adik bagiku.

Yuk ngopi :)

Saat itu Antero sedang berbenah, merapikan studio mereka. Jadi untuk mempermudah obrolan kami, aku pindah ke kedai kopi yang terletak di depan Radio, namanya Solong. Solong sangat terkenal sampai diluar Aceh. Padahal tempatnya pun sederhana sekali. Kata kawan-kawan Antero, kopi solong keras, bisa-bisa nggak bisa tidur semalaman. Hmm.. aku, kalau minum kopi tak perduli keras atau tidak. Biasanya habis minum kopi langsung tepar *lah..bisa begitu :D*. Tapi disini aku nggak mau main-main, maka coba memesan sanger, sanger adalah sejenis kopi dengan campuran susu. Ckckck.. rasanya luar biasa nampol. Susunya kental tapi tidak terasa manis. Pokoknya enak banget dilidah. Selesai kopdar sore itu, aku dijemput kakak yang baru pulang kantor. Malamnya kami istirahat, menghabiskan waktu mengobrol dengan Kak Ira, dek Cut, dan Kak Fhira, sepupu kak Ira..

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...