Menu

Thursday, 23 April 2009

/
"Janganlah seseorang dari kamu membangunkan temannya dari tempat duduknya, kemudian ia duduk di tempat itu. Tetapi, hendaklah ia memperluas (renggang)-kan untuk memberi tempat." (HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).

Dalam hidup, rasa takut kerap menghantui kehidupan manusia. Takut akan runtuhnya suatu jabatan, takut kewibawaannya berkurang, takut hartanya dicuri, takut terhadap binatang buas, dan sebagainya. Islam sangatlah menghormati hak-hak orang lain. Membebaskan manusia dari sebagian ketakutan hati, kecemasan pikiran, kekhawatiran hidup, semuanya termasuk dalam perbuatan mulia.


Takut, cemas, dan khawatir itu tentu banyak warna dan bentuk variasinya. Rasa takut yang dapat mengakibatkan rusaknya semangat dan kejiwaan seseorang, seperti yang dicontohkan di atas, termasuk takutnya seorang warga kepada penguasa tiran.

Bentuk ketakutan seperti ini, umumnya hanya terjadi pada masyarakat yang tidak mengenal demokrasi. Akibatnya, warganya akan menyimpan rasa benci dan rasa takut yang terpendam serta sikap diam atau "tutup mulut". Andai kata mereka sempat mengeluarkan perkataan, tentulah ucapannya seperti yang pernah diucapkan penduduk Makkah yang hidup pada zaman kezaliman kaum Jahiliyah, seperti tercantum dalam Alquran, "Orang lemah baik pria maupun wanita dan anak-anak, yang semua mereka berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri (Makkah) yang zalim penduduknya'." (QS an-Nisaa: 75).

Kecemasan menghadapi masa depan akan bersikap ragu-ragu dalam bertindak. Dikhawatirkan kelak hanya akan memiliki jiwa 'penonton', atau jiwa budak, bukan berjiwa pemain atau pemimpin.

Pengalaman sering membuktikan, hanya para penonton yang selalu tak puas dengan para pemain, wasit, dan orang-orang terkait, sementara pemain sendiri umumnya tak sempat berbuat demikian, karena sibuk. Dengan demikian, sikap saling menyalahkan dan mengambinghitamkan seseorang, pada gilirannya akan menciptakan kerusakan akhlak dan lingkungan dalam bentuk tersendiri.

Suatu pengalaman, ketika dua orang sahabat Rasulullah SAW, yakni Mu'adz dan Abu Musa Al-Asy'ary dikirim Rasulullah untuk berdakwah ke Yaman, kepada mereka beliau berpesan untuk bersikap mengayomi. "Kalian berdua hendaklah berbuat kemudahan dan janganlah berbuat kesukaran, hendaklah kalian berbuat hal-hal yang menyenangkan, dan janganlah kalian berbuat akan hal-hal yang menjauhkan." (Hadis Syarif). (Budi Imansyah S)


republika

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca catatan saya, semoga bermanfaat ya ^^
Mohon komennya jangan pakai link hidup, :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...